-- 17 -- The Devil In Me

18.3K 1.1K 72
                                        

----------

Jika pada akhirnya nanti aku juga akan hancur, maka kita hancur dan mati dalam kegepalan ini bersama, Sayang!

----------

Satu minggu!

Sepertinya kesabaranku telah habis. Menunggunya untuk kembali rasanya itu mustahil jika aku tidak melakukan tindakan apa pun. Pikiran-pikiran buruk menghantuiku. Apa yang ia lakukan bersama Kenny selama seminggu ini? Apakah mereka lebih dekat? Apakah mereka saling bercumbu? Aaarrgghh!! Memikirkannya membuat kepalaku rasanya ingin pecah.

Hanya ada satu cara, yaitu menghampirinya langsung. Tetapi tidak mungkin aku langsung menunjukkan identitasku karena aku yakin ia pasti akan menolakku. Mungkin menyamar adalah salah satu cara yang paling ampuh.

Jadi pagi itu, aku kembali ke apartemen Kenny. Aku menunggu hingga Kenny berangkat bekerja sehingga aku yakin bahwa hanya ada Alanis yang berada di dalam. Aku berpura-pura menjadi kurir pengantar bunga. Aku rasa itu cukup masuk akal melihat bahwa aku selalu mengirimkan bunga setiap hari untuknya.

Aku membawa buket mawar merah itu dengan senyum yang mengembang. Aku mencoba untuk menutup wajahku dengan topi yang sengaja aku pakai. Saat aku menekan bel, tidak lama ia keluar untuk membukakan pintu. Aku sempat menoleh sekilas sebelum menunduk agar ia tidak mengenaliku.

Sayang, mengapa wajahmu terlihat begitu menyedihkan? Tetapi mengapa aku justru sangat menikmati keadaanmu yang seperti itu? Melihat lingkar hitam di bawah mata indahmu. Melihat bibir pucatmu. Melihat dirimu yang berjalan dengan tertatih. Sungguh, itu membuatku merasa puas. Aku yakin, kau seperti itu karena memikirkan aku.

Ia dengan cepat menandatangani bukti penerimaan yang aku berikan. Saat ia akan menutup pintu, aku menahannya dengan mencekal tangannya. Ia seperti tersadar akan sesuatu yang membuatnya terkejut sambil memandangku dengan tatapan... ngeri mungkin? Hahaha, waktunya pertunjukan dimulai, Sayangku! Aku tersenyum sinis dan menaikkan topiku agar ia bisa melihat wajahku lebih jelas.

Aku selalu suka ketika ia memandangku dengan rasa takut, mungkin kali ini ditambah dengan kemarahan yang terlihat begitu kental. Marahlah, Sayang. Semakin marah dirimu, maka semakin mudah bagiku untuk mempermainkan emosimu dan kemudian membuatmu bertekuk lutut di dalam pesonaku.

"Aku merindukanmu, Alanis." Dengan santai, aku menyunggingkan senyumku yang paling manis.

"Pergi, Brengsek! Aku membencimu! Aku muak melihat wajahmu!"

Ya, bagus! Marahlah terus, keluarkan semua emosimu, batinku bersorak. Kemenanganku akan segera tiba. Apa dia pernah mengatakan mengenai permainan takdir? Ya, saat ini dengan jelas takdir sudah berpihak padaku. Kemenangan sedang memanggil-manggil nama Leonard dengan begitu keras hingga memekakkan telinga.

Aku mencoba untuk menatapnya dengan marah, padahal di dalam hati sungguh aku bahagia. Aku menahannya yang berusaha untuk memberontak. Dengan sekali kedipan, ia membuang buket mawar itu begitu saja. Aku menatapnya dengan kilat emosi. Kemudian dengan keras aku mendorong tubuhnya dan menutup pintu apartemen. Aku yakin Kenny tidak akan kembali dalam waktu dekat.

"Jangan harap kau bisa kabur dariku lagi, Alanis. Tidak akan pernah bisa!"

Dan pada kenyataannya, kau memang terlalu bodoh untuk bisa kabur dariku, Sayang. Ingat darah kita sudah bersatu dan kau tidak akan pernah bisa lari lagi. Aku sudah mengikatmu dengan darahku. Selamanya.

Aku melepaskan topiku dan melemparkannya begitu saja. Aku sudah melihatnya jatuh terjerembab di atas sofa. Benar-benar posisi yang sangat mengundang. Aku tersenyum licik sebelum mendaratkan tubuhku di atas tubuhnya.

Alanis "a forbidden love"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang