-- 20 -- Breathless

16.9K 1K 83
                                        

----------

Sebuah janji suci kini bagai janji kematian. Materai yang dilukiskan dalam goresan darah membekas tak akan hilang. Itu simbol kematian. Ya, ragaku mengurai bersama hilangnya jiwa.

----------

Tik. Tik. Tik. Tik. Tik.

Oh, itu hanya suara detak jarum jam tanganku. Detik yang berlalu sangat cepat tetapi bagiku berjalan begitu lambat. Aku meraba dadaku sendiri, mencoba merasakan detak yang mungkin melemah. Kapan detak itu berhenti? Aku justru sangat mengharapkannya sekarang. Melemah hanya akan membuat ragaku sakit. Aku ingin semuanya berakhir dalam sekejab.

Ternyata disaat kematian sungguh di harapkan, ia tidak akan mau datang untuk menjemput. Ia hanya memerintahkan sang luka untuk terus menyakiti dan menggores-gores jiwa hingga tak mampu lagi bertahan dan berteriak agar sang maut mau mengambil nyawa. Tetapi sekali lagi, malaikat maut mengambil kendalinya. Ia seolah-olah memilih bermain dengan jiwaku. Membiarkan jiwaku mati tetapi dengan raga yang masih utuh. Justru itu lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.

Tanganku bergetar saat memoles make up tipis di wajah tirusku. Kapan terakhir kali aku makan? Kapan terakhir kali aku memperhatikan penampilanku? Mengapa terasa lama. Dan kini yang aku lihat di depan cermin hanya pantulan seorang perempuan yang sangat menyedihkan. Dengan balutan gaun pengantin yang sangat menawan, tetapi tidak ada raut bahagia di dalam rupanya.

Aku berusaha menutupi lingkar hitam di bawah mataku dengan polesan bedak yang agak tebal. Aku mencoba untuk menjadi cantik, walaupun hatiku kini telah hancur. Aku mencoba untuk menuruti segala yang diinginkan oleh sang iblis yang berhasil menjeratku ke dalam pesonanya. Aku bagaikan budak bagi Leon. Otakku selalu menolak segala perlakuannya, tetapi hatiku justru menginginkan aku untuk terjerumus semakin dalam. Mungkin aku tidak mengenali diriku lagi. Aku merasa asing. Sekali lagi, jiwaku telah hilang terampas dan tersedot masuk bersama dengan jiwa sang iblis.

Aku menatap cermin dengan nanar saat melihat bayangan lelaki yang sudah siap dengan tuksedo hitamnya. Ia begitu tampan. Bagai mempelai laki-laki yang sesungguhnya. Senyumnya mengembang begitu lebar. Aku tahu bahwa ia sudah menang telak atas diriku. Aku, Alanis Caradoc, menyerah di tangan Leonard Caradoc.

Jika memang dia menginginkan aku menjadi miliknya, maka terjadilah. Aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya kepadanya. Sudah kukatakan, bahwa aku telah menjerumuskan diriku sendiri ke dalam kegelapan ini sejak awal. Dan sekarang saatnya aku bermain dalam perputaran roda sang iblis yang sengaja ia ciptakan.

"Kau cantik sekali, Alanis," lirihnya sambil mendekatiku dan kemudian berjongkok di sisiku. Ia merapikan helai rambut yang menjuntai menutupi dahiku.

Aku meremas-jemar jemariku lagi, tanda bahwa aku begitu gugup. Seandainya bumi bisa menyedotku saat ini juga agar menghilang di hadapan Leon yang begitu mempesona. Ah, aku lupa, iblis memang diciptakan sangat mempersona dan rupawan untuk menarik mangsanya.

"Ayo kita keluar." Ia menarik tanganku. Aku mengikutinya dengan perlahan. Saat berada di luar kamar, aku kembali di hadapkan pada lorong panjang dengan tirai-tirai putih yang berkibar tertiup angina malam. Kali ini, pemandangan itu begitu mengerikan di mataku.

Leon berkacak pinggang dengan tangan sebelah kanannya. Sementara aku melingkarkan lenganku di lengannya. Kami berjalan perlahan. Dan tiap langkahku diiringi oleh jeritan hatiku yang kian menjadi. Tiap langkahku menggoreskan luka yang semakin dalam. Tiap langkahku menyimbolkan hatiku yang telah terkikis.

Hingga kami tiba di halaman rumah ini. Aku begitu takjub saat melihat pemandangan yang memukau. Di depan rumah ini terdapat taman yang sangat luas. Aku melihat lilin-lilin yang di hias berbentuk hati di atas rerumputan. Leon membawaku ke tengah lilin itu. Aku sedikit mengangkat gaunku saat melewati api kecil yang menyala.

Alanis "a forbidden love"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang