-- 27 -- The Falling Body

14.2K 949 111
                                        


----------

Terlalu menyakitkan untuk diingat, tetapi ia menghunjam bagai belati yang sangat tajam. Sang masa lalu tak pernah ampun menggulungku dalam siksanya.

----------

Kristal es itu turun di atas langit kota Moskow, memenuhi jalanan dengan gumpalan putih yang membekukan. Sementara aku hanya bisa duduk di atas lantai balkon kamar. Memandang salju yang turun sambil ditemani sekotak rokok. Pandanganku menerawang. Menatap langit mendung, semendung hatiku. Ternyata dingin ini juga bisa melumpuhkan otakku, tetapi tidak iblis dalam diriku. Ia justru semakin kuat menguasai, membuatku lupa diri hingga saat ini.

Aku mendengar suara langkah kaki terseret yang mendekatiku. Bayangan seorang gadis kurus berambut pirang panjang yang berantakan itu kini sudah menarik sebuah kursi untuk duduk di sampingku. Tangannya terulur untuk mengambil sebatang rokok dari dalam kotak, menyalakannya dengan korek yang ada disamping kotak itu kemudian menghisapnya dengan dalam.

Aku menoleh ke arahnya, mengambil rokok yang sedang ia hisap dan membuangnya lalu menginjaknya untuk mematikan apinya.

"Apa-apaan—"

"Aku yakin usiamu tidak akan panjang jika terus merusak dirimu sendiri seperti ini, Khareena." Pandanganku kemudian kembali kepada langit.

Ia mendengus pelan. "Aku tidak memiliki pilihan. Semakin hancur, maka semakin baik." Nadanya penuh dengan kepedihan. Jika sudah begini aku harus menyalahkan siapa? Terlepas dengan Khareena yang begitu liar dan sulit di atur, ia tetaplah korban keadaan. Sama seperti diriku.

Aku menghisap rokokku dalam dan menatapnya dengan senyum pahit. "Dasar bodoh."

Ia tersenyum sinis dan menatapku dengan jenaka sambil meniupkan asap rokoknya di wajahku. "Meskipun bodoh tidak ada yang bisa menentang takdirku sebagai adik kandungmu, Tuan Leonard."

Aku hanya terkekeh pahit. Dingin salju musim dingin kemudian membungkam bibir kami dalam keterdiaman yang panjang. Aku dan Khareena sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

***

Kini semuanya bagaikan di neraka. Aku memang tinggal di rumah mommy dan Keanu, tetapi aku lebih banyak menghabiskan waktuku di dalam kamar. Aku hanya keluar kamar untuk mengambil makanan. Aku terlalu muak melihat tingkah Khareena yang selalu mencari perhatian Keanu dengan cara apa pun. Tetapi Keanu hanya bergeming. Ia bahkan menganggap Khareena seperti tidak ada.

Ini pertama kalinya dalam hidup, aku melihat Keanu begitu marah pada putrinya sendiri. ia benar-benar mengobarkan perang dingin pada Khareena. Sekalipun ketika kami makan malam bersama suasana begitu kaku. Keanu bahkan enggan untuk memandang Khareena. Tak jarang ketika Khareena sudah keterlaluan, aku malah mendengar mereka saling adu argumen dengan suara tinggi.

Suara benda jatuh yang dilempar? Hampir setiap hari. Suara piring pecah? Juga hampir setiap hari. Aku bahkan selalu mendengar Keanu mengancam Khareena untuk membawanya ke psikiater. Mendengar itu aku hanya bisa mendengus sinis.

Keanu mengancam Khareena terlebih dahulu. Sementara apa yang ia lakukan padaku? Tanpa ancaman. Tanpa kemarahan, ia memasukkan aku begitu saja seakan aku sudah tidak tertolong lagi. Sementara pada Khareena, sepertinya ia masih memberikan kesempatan untuk Khareena bisa menolak semua kehendaknya.

Jika boleh memilih, aku lebih suka ia marah padaku. Menamparku. Memukulku. Atau apa pun itu, yang jelas ia bisa meluapkan segala kemarahannya padaku. Tetapi mengapa ia tidak pernah marah padaku? Justru itu yang membuat aku semakin membencinya. Terkadang ia selalu membenarkan apa yang ia anggap benar. Mencoba mencari solusi atas kesalahan yang dilakukan anak-anaknya tanpa mau memahami lebih dalam apa yang sebenarnya kami butuhkan.

Alanis "a forbidden love"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang