-- 6 -- Hermitage

23.1K 1.5K 67
                                        


----------

Terkadang lakunya tak mampu ditangkap oleh nalar, tetapi tetap saja berada dekat dengannya membuat detak ini seakan mengkhianati ritme yang sebenarnya...

----------

Rupanya aku tidak pernah tahu bahwa Leon memiliki sebuah mobil jaguar yang diparkir agak jauh dari rumah. Memang rumah ini memiliki garasi, tetapi tidak langsung terhubung dengan rumah. Leon langsung duduk di samping kursi kemudi saat ia sudah menggendong Khareena masuk dan memasukkan kursi roda Khareena ke bagasi. Sementara aku terpaksa duduk di sampingnya. Padahal jika boleh memilih, aku lebih senang duduk disamping Khareena.

Melalui kaca spion di dalam aku dapat melihat wajah Khareena yang masih tertutup kabut. Ia hanya memandang jalanan tanpa berkata-kata. Pandangannya juga tampak kosong. Aku hanya berharap dengan membawanya jalan-jalan dapat membawa angin segar baginya. Setidaknya wajahnya tidak sesuram ini. Ingin rasanya menanyakan kondisi Khareena langsung kepada Leon tetapi itu pun tidak mungkin mengingat Khareena ada bersama kami. Lagi pula, Leon juga tengah serius mengemudikan mobil entah kemana.

Aku seperti tersedot ke dalam pesona Leon hari ini. Aku bahkan memperhatikannya dengan bagitu detail. Ia hanya mengenakan kaos santai berwarna putih ditutup oleh kemeja panjang dan celana jeans belel. Dan... rambut panjangnya. Ia mengikat rambut hitam itu ke belakang sehingga dari samping ketampanan wajahnya benar-benar tercetak dengan sempurna. Betapa baiknya Tuhan saat menciptakannya.

Setelah menempuh perjalanan yang tidak cukup jauh, kami tiba di sebuah taman yang letaknya tepat di jantung kota Moskow. Otakku berputar cepat, aku mengingat taman ini, dulu saat aku masih kecil, daddy pernah mengajak aku kemari. Namanya taman Hermitage kalau aku tidak salah ingat. Salah satu taman yang menjadi simbol kasih sayang di rusia dengan sebuah ikon berbentuk monumen hati perak raksasa setinggi 3,5 meter. Aku cukup bahagia ternyata Leon mengajak kami ke tempat yang indah seperti ini.

Leon memarkir mobilnya dan segera menurunkan kursi roda Khareena kemudian membopong adiknya itu dengan perlahan. Aku sungguh heran, jika dengan Khareena ia sungguh berbeda dengan Leon yang bagaikan iblis. Bersama dengan Khareena justru membuat Leon lebih mirip malaikat. Aku juga bisa melihat cinta yang begitu besar dari Leon untu Khareena, bagaimana saat Leon memandang adiknya itu dengan sayang. Seandainya saja ia juga memperlakukan aku sama dengan Khareena.

Arrghh! Otakku kacau lagi rupanya. Aku tidak boleh memikirkan dia, apalagi tentang perasaannya padaku. Itu dilarang, Alanis! Sangat dilarang keras! D-i-l-a-r-a-n-g!!!

"Ok, Sayang, waktunya bersenang-senang dengan dad dan mom. Katakan, kau mau apa?" Leon berjongkok di hadapan Khareena sambil menyisir rambut pirang Khareena yang sedikit berantakan dengan helai-helai rambut yang jatuh di atas dahinya.

Aku sendiri merasakan pipiku memanas saat Leon kembali menyebut aku dan dia layaknya orangtua Khareena. Sungguh, aku penasaran apa isi di dalam otaknya itu?!

"Aku mau daddy," jawab Khareena pelan nyaris berbisik. Tetapi entah mengapa indra pendengaranku tajam sekali sehingga aku masih mampu mendengar suaranya yang selirih angin musim semi.

"Daddy di sini. Lihat, ada daddy dan juga mommy." Leon menoleh ke arahku dan menunjukku, sementara aku hanya tersenyum kikuk, salah tingkah. Aku menyibakkan rambutku sendiri sambil berdehem keras.

"Aku mau Daddy Kean," suara Khareena kembali terdengar, namun kali ini parau.

Saat mendengar itu, aku melihat rahang Leon yang kembali mengeras dan kernyitan di dahinya. Matanya yang memandang Khareena lembut itu pun berubah penuh dengan kilat emosi.

Alanis "a forbidden love"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang