Sarah (flashback mode 3-last)

53 7 3
                                        

   Begitulah.
Hubunganku dengan Ed semakin baik. Kami semakin bersahabat sejak itu. Aku percaya bahwa dia adalah sahabatku. Tak lebih.

   Walupun banyak yang berspekulasi bahwa aku dan Ed menjalin hubungan serius. Sedangkan setiap pagi di Sekolah, Ed menggandeng tanganku dan tersenyum manis padaku. Dia memanggilku Sugar dan aku memanggilnya Bee. Kami menjalin persahabatan dari kelas 7 dan 8 dengan baik. Termasuk kelas 9.

~~~

   Sekarang hubunganku dengan Ed semakin dekat. Kami sahabat yang sangat baik. Tapi aku belum bisa mencintainya. Memikirkannya dalam mimpiku saja tidak pernah. Sepertinya sudah berbagai cara kulakukan untuk mencintainya. Belajar mencintainya. Tapi perasaan itu tidak pernah bisa tumbuh selain berharap pada keajaiban waktu.

   Sepertinya juga aku harus fokus pada UN yang akan dimulai hari Senin ini, 3 hari lagi. Selain berkutat pada buku penunjang UN dan sibuk pelajaran tambahan seperti sekarang ini. Pelajaran tambahan terakhir di kelas 9 di hari Jumat ini. Mendung.

   ...Cuaca hari ini tidak baik
Namun mendungnya siang di hari Jumat ini seolah ingin menyelaraskan dengan suasana hatiku
Ya Tuhan, apakah salah apabila seumur hidupku aku berkutat pada lelaki yang entah kemana
Lelaki yang pernah membuat hatiku hancur
Seolah dia tak pernah melakukan apapun untukku
Membayangkannya saja sudah membuatku tersenyum
Dan melupakan segala yang dia telah perbuat pada ayah
Walaupun itu jahat
Izinkan aku bertemu dengannya sekali lagi...

   Kataku sambil memohon agar awan tetap menungguku meneteskan 'air matanya' sesampainya aku pulang ke apartemen.

~~~

   "Eh, Sugar. Mau jalan bareng gak? Ke mall atau makan gitu? Aku traktir deh. Mumpung kan minggu depan kita udah free dari UN "

   Aku diajak kencan? Oleh seorang cowok?

   "Maksudnya kencan gitu?" Tanyaku. "Ya, kayak gitu, sih. Sabtu minggu depan jam 5 sore aku jemput ya." Aku mengangguk. Ed sudah tahu rumahku karena dia sering mengantarku ke apartemen. Mama mengira aku dan Ed pacaran waktu pertama kali dia ke apartemenku.

   Mama bilang mukaku merona merah setiap kali Ed menemuiku untuk menjemputku ke Sekolah. Aku hanya takut jatuh cinta. Jatuh cinta pertamaku itu sakit. Tidak ada pembalasan. Dia tidak mau membuka hati untukku. Apakah dia kejam?

   Apakah aku trauma mencintai seseorang? Tapi mengapa aku merasa selama bersamanya aku merasa belajar mencintai...
Aku masih mencintai Reyn, aku yakin
Tapi apakah aku bisa melupakan Reyn dan membuka hati bagi Ed?
Apakah aku harus belajar melakukan hal mustahil itu?

   "Kenapa, Sar? Kenapa selama hampir tiga tahun kita bersahabat dan lu selalu murung? Mikirin Reyn?" Aku sudah menceritakan segalanya kepada Ed. Karena, ya dia satu-satunya yang mengertiku. "Sepertinya. Aku masih mencintainya, Ed. Aku gak bisa melupakan dia satu hari pun! Aneh, kan..." kataku. Beginilah aku, mudah bimbang.

   "Kalau emang perasaan itu tumbuh di hati lu, ya biarkan aja. Jangan ditebang. Jangan dihancurin. Inget ya, perasaan itu kayak pohon. Umpamanya ya, semakin lu suka sama dia, pohonnya akan tumbuh tinggi. Gaada pengecualian. Kalau lu patah hati, pohonnya ya, rusak. Mulai dari daunnya yang lama-lama layu, dan lama-lama, hmmm... apa ya, oh ya begitu sih, kalau lu suka sama orang lain lagi, ya, pohonnya akan ditebang sama cowok baru yang lu suka lagi. Dan dia akan menanamkannya, kasih lu bibitnya. Jadi deh. Suka sama orang lagi..." kata Ed, sambil menatap langit. Langitnya masih mendung. Langit tetap sabar menanggung butiran air...

Long Coma Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang