Kenapa rasanya masih sulit membenci dalam mencinta? Bukankah rasa benci itu tipis dengan rasa cinta? Apakah aku memang tidak ditakdirkan dengan...Sarah?
Memang seperti apa rasa cinta itu? Yang dalam? Seperti cinta sejati? Sepertinya tidak akan pernah ada rasa cinta di dunia... Tidak ada yang namanya cinta sejati. Seperti orangtuaku, berani berpisah, tanda tak mencinta lagi. Jika memang cinta itu sejati, buktikan padaku!
~~~
Hari pertama kelas 11 itu hari ini. Pulang ini rencananya aku ingin ngedate dengan Christina.
Aku menuju kelas 11.1, kelas Chris. Entah mengapa perasaanku tidak enak.
"Kenapa, Reyn?" Christina tidak melepaskan sandaran Sean. Aku langsung pergi. Melihat Christina dan Sean yang seperti itu tepat di depanku. Di dalam kelas. Suaraku habis. Benar, cinta itu tidak akan pernah abadi...
Melihat tatapan Sean dengan tenangnya dan Christina dengan nyamannya terus menyandarkan kepalanya pada Sean.
Aku langsung turun dan bergegas memacu ninjaku. Aku akan pergi dengan kecepatan maksimal. Entah kemana. Menjelajah, sampai aku hilang. Tak ditemukan lagi.
Aku hanya tak bisa berpikir dengan akalku bahwa Sean, sahabatku selama 10 tahun yang begitu dekat denganku malah dengan mudah mengkhianatiku. Selama 10 tahun sudah dilalui bersama sebagai seorang sahabat, inikah perlakuannya padaku? Seolah segalanya yang ia lakukan padaku, semua hal baik lainnya hanyalah untuk memanfaatkanku. Tatapan Sean yang kuingat tak merasa berdosa sama sekali. Yang ada dalam matanya hanya tatapan dingin. Tak peduli. Acuh tak acuh.
Menangis rasanya tak bisa. Baru merasakan bahwa cinta dan persahabatan itu tidak akan pernah abadi. Rasanya aku tidak pernah mengenal cinta dan persahabatan. Itu hanyalah kalimat busuk dan palsu. Benar, pengkhianatan akan benar-benar menghancurkanmu. Dan gawatnya aku tidak tahu cara bertahan dalam hal ini.
~~~
Entah sekarang aku sedang berada dimana. Sudah gelap dan mau turun hujan. Aku menyesal kenapa tidak segera pulang ke rumah saja tadi. Setidaknya sekarang jika sudah sampai di rumah, aku bisa menikmati hujan sekarang.
"Aw... sakit..." aku tidak melihat ada jalan yang bolong tepat di hadapanku. Dan, yah, aku jatuh. Lututku berdarah. Oh shit, aku harus kemana?
"Reyn, ya?"
Hujan seperti ini siapa yang keluar rumah? Entah siapa dia yang membopongku ke rumahnya. Aku tidak tahu siapa dia karena kegelapan malam ini, tapi aku tahu sepertinya itu suara siapa...
~~~
"Aaw..sakit, Sarah. Pelan-pelan..." aku melihat Sarah dengan sabar membersihkan lukaku yang berdarah. Sambil membuang kapas yang tadi melap darahku, dia cepat- cepat berlari mengambil antiseptik. Oke, aku benci antiseptik. Mengolesnya dengan lembut di sekujur luka di kakiku, aku sedikit terenyuh. "Sudah selesai." Katanya sambil menaruh antiseptik itu.
"Rumah lu disini?" Tanyaku.
"Hanya tempat kost. Gua sama ibu tingga disini sih, dan oh iya, gua lupa..."
"Kenapa? Sarah, gue boleh diam disini sebentar? Mungkin sebentar lagi gue akan jalan ke rumah. O iya, terima kasih sudah markirin motor gua di garasi lu, jago juga ya naik motornya..." aku berusaha tersenyum, kecil.
Sarah tersenyum lembut. Aku tahu. Senyumannya selalu tulus dari dulu, entah mengapa. "Ya, boleh. Tapi gapapa kan kalo gua tinggal sebentar?" Sarah lari mengambil entah bungkusan apa, dan pergi ke luar rumahnya. Masih hujan saat itu.
~~~
Aku tertidur lagi. Sudah jam 8 malam dan aku masih di rumah Sarah. Apalagi kan hujan enaknya untuk tidur. Tapi aku penasaran kemana ibunya? Entah karena nekad, aku akhirnya memberanikan diri menjelajahi rumahnya sendirian.
Di rumah kostnya banyak foto dia dan ibunya. Namun entah dari semua fotonya, meskipun dari dia masih bayi, yang paling membuatku sedih adalah foto saat ia digendong oleh ayahnya. Saat ia masih bayi.
Betapa kejamnya aku dan ayahku yang dengan beraninya merusak bisnis ayahnya. Aku dan ayahku tetap teguh mementingkan kesombongan dan gengsi keluarga demi bisnis keluarga.
"Reynnn?" Sarah sudah pulang, untung saja aku sudah keburu melap air mataku.
"Ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Long Coma
Teen FictionBagaimana jika sepasang hati yang harusnya saling mencintai malah menuju ke arah yang berlainan satu dengan yang lain? Yang satunya mencintai, yang satunya membenci. Bukankah perasaan itu tumbuh karena rasa cinta? Tapi bagaimana jika dia adalah yang...
