Sarah POV (flashback mode)

63 6 6
                                        

    Berawal saat aku pindah ke salah satu apartemen kalangan kelas menengah ke bawah saat aku masih awal Smp. Otomatis aku harus pindah rumah ke dekat sekolah. Kebetulan aku meraih beasiswa dari pemerintah ke sekolah kelas menengah di dekat apartemenku. Tidak 100% beasiswa sih, hanya dipotong 50% selama 3 tahun di Smp.

   Bagi mama, tentu saja hal ini sangat membanggakan. Aku membuatnya bangga. Hal terindah dalam hidupku adalah saat aku pulang ke rumah untuk menceritakan segalanya kepada mama. Memang banyak sekali murid yang tidak senang dengan keberhasilanku meraih beasiswa dari pemerintah. Tapi tak apa, setidaknya aku akan pindah sekolah. Aku tidak peduli tidak punya teman yang penting aku dapat belajar dengan baik dan membuat orangtuaku bangga. Ibuku maksudnya.

   "Mama...aku berhasil meraih beasiswa dari pemerintah, ma. Di SMP Jaya Mulia." Kataku saat itu.

   "Nak, mama bangga padamu. Selamat sayang. Kita cari rumah ya sayang." Kata mama. Maklum sekolah Smp ku itu jauh dengan rumahku.

   "Ya sudah, ma. Doain ya ma. Semoga aku bisa beasiswa lagi di Sma." Mama hanya tersenyum. "Ya, sayang. Mama selalu berdoa yang terbaik untukmu. Selalu." Kata mama mencium puncak kepalaku.

~~~

   Tapi, ternyata sekolahnya mengerikan. Maksudku bukan sekolah yang creepy atau apa. Tapi saingan disini sepertinya ketat. Aku sudah mengalaminya selama 1 minggu disini. Pergaulan di sekolah ini juga sepertinya agak buruk. Pembully-an selalu terjadi setiap hari. Dan terjadi juga padaku.

   "Hey, itu cewek kutu buku jelek. Hey, kerempeng. Sini lu..." kata para tukang bully yang aku yakin ditujukkan padaku. Banyak sekali perempuan yang membully-ku dengan sebutan macam-macam. Mereka bilang aku kutu buku, culun, dan jelek. Memang begitulah aku. Aku jelek, rambut selalu kuncir kuda atau kepang khas ibuku, berkacamata hitam besar dan tebal, apakah semua itu salah?

   Dan, saat itu saat aku baru saja 2 minggu di sekolah 'neraka' itu, para perempuan mencegatku masuk ke kelasku dan memegang seragamku. "Hey, kutu buku. Sini lu. Liet gua sini..." oh, bagus. Aku akan telat ke kelas, pikirku.

   Aku berusaha tenang. "Siapa ya? Minggir ya aku mau ke kelas." Para perempuan menertawakanku. "Hari gini masih ngomong aku kamu? Eh, culun, kudet kali yah lu. Mau gua ajarin biar lu jadi gaul gitu disini. Lu di sekolah ini mana cocok, bego. Palingan juga beasiswa disini." Kata perempuan yang aku yakini adalah ketua genk-nya. "Sory ya, aku enggak bisa ngomong lu gua  seperti yang kamu omongin itu. Gak usah ajarin aku. Aku mau ke kelas. Minggir, ya, tolong." Kataku, berusaha sabar.

   "Gak usah ajarin aku. Aku mau ke kelas bla bla bla. Banyak ngomong lu. Biarin aja sih, bolos ajalah kayak gua..." kata si ketua genk itu lagi.

   "Minggir, TOLONG! Kesabaranku sudah habis." Aku berusaha mengatakan itu dengan tegas setelah melihat jam bahwa jam pelajaran akan mulai 3 menit lagi.

   "Kutu buku punya kesabaran? Oh, baru tahu ya, iya gak, le?" Tanya si ketua genk pada salah satu temannya.

   "Hey, Mega. Mau lu apa sih selalu jadi troublemaker di sekolah ini?"

   Suara seorang cowok mengagetkanku. Memangnya ada cowok yang mau membelaku?

   "Edward... ward, ini gak seperti yang lu pikirin deh..." kata cewek si ketua genk itu. Oh, namanya Mega.

   "Diem ajalah. Gua kira lu tuh cewek baik-baik tauk gak sih. Lu selalu sweet di hadapan gua. Ngelihat ginian, kita putus aja..." kata si cowok itu. "Apa-apaan, beib!!! Okey, gua tinggalin dia..lu jahat, Ward." Si Mega itu menangis, hmmm...penuh drama.

   Anak laki-laki itu melihat ke arahku. "Hey, nama gua Edward. Anak kelas 7-1. Hehehe... Ketos sih disini hehehe.. nama lu siapa? Kelas berapa? Anak baru pasti, ya?" Tanya Edward.

   "Makasih ya, udah nolong aku dari pacar kamu." Kataku, singkat. Aku beranjak pergi. Aku melihatnya masih ditempat dia memperkenalkan dirinya. Dia memandangku dengan gemas.

    Kelasku sudah dimulai. Pelajaran pertama adalah matematika. Bab tentang Bilangan Bulat. Dan aku belajar KPK dan FPB, lagi.

   Besoknya, Edward mulai mendekatiku. "Hay," katanya. Aku hanya tersenyum tipis. Setiap hati sejak saat itu. Dan Mega dan genk nya sudah tidak pernah membullyku lagi. Aku yakin dia kapok setelah insiden diputusin pacarnya itu. Kini giliran Edward yang berusaha mendekatiku.

   Tapi sayangnya, aku tidak pandai berteman. Yang kulakukan setiap kali melihat Edward adalah tersenyum tipis.

   Ngomong-ngomong kalau aku perhatikan muka Edward sedikit mirip dengan Reyn. Cinta pertamaku.

   Tiada hari Edward absen menyapaku. Sedangkan setiap kali aku ke kantin sekolah, aku sering melihat gerombolan cewek sering membisikkan namanya. Dia dulu pernah bilang padaku bahwa dia adalah ketua OSIS di sekolah ini. Jadi mungkin dia sangat populer.

~~~

    Sudah 6 bulan aku sekolah. Aku cukup senang karena prestasiku yang rumayan. Apalagi saat ini bulan Desember dan baru selesai Ujian Akhir Semester. Hingga kepala sekolah mengumumkan bahwa lusa sekolahku akan ke Cibubur untuk kemping selama 2 hari 1 malam.

   Bagus! Tidak akan ada perempuan yang mengajakku tidur satu tenda. Tapi kepala sekolah bilang bahwa Sekolah akan menentukan kita satu tenda dengan siapa dan itu membuatku lega.

   Sudah kubilang bahwa sejak insiden aku dibully kali terakhir itu, Edward selalu menyapaku. Aku hanya bisa tersenyum. Ya, aku pikir aku tidak sanggup memulai pertemanan kami ini. Tapi sepertinya Edward tidak menyerah. Dan tidak akan pernah menyerah.

   Aku naik bus pagi-pagi dan langsung menduduki tempat duduk di bus yang berjumlah 2 orang. Satu untuk tasku. Karena aku bahwa 1 tas backpack dan 1 tas tentengan. Hingga akhirnya Edward sampai ke bus. Dia berjalan ke arahku sambil tersenyum. Aku kira dia akan bergabung dengan genk nya dan melewati tempatku. Biarlah aku duduk disini seorang diri. Hingga akhirnya Edward terdiam di tempatku berada. Dia tersenyum, sangat manis dan bertanya padaku,

   "Boleh sebelah lu enggak?"

  

Long Coma Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang