Reyn POV

41 4 1
                                        

    Sudah menunjukkan sekitar setengah 11 malam ketika aku sanpai rumah. Terpaksa aku harus menggunakan GPS untuk tahu arah pulang.

   Baru saja sampai di ruang tamu,   ketika dad memergokiku yang berjalan pelan-pelan sampai ke kamar.

   "Kamu pergi kemana, Reyn?" Dad terlanjur marah. Dari nada suaranya. Jelas.
"Saya bukan kewajiban anda lagi. Saya mau kemana, itu hak saya. Maaf, saya ngantuk." Aku berusaha untuk menjawabnya dengan tenang, karena ya aku memang ngantuk. Setengah 11 malam, dan aku malah diajak debat.
"REYN! Tetap disini." Aku berhenti. Berusaha diam dimana aku berpijak sekarang. Baru mau naik tangga. Sedangkan dad tetap di tempat semula. "Balik ke sini. Di sofa. Dad mau bicara dengan kamu."

   Aku menurut. Siapa tahu saja aku hanya diperintahkan duduk dan setelahnya boleh ke kamar. Malas menambah masalah dengan dad. Terlebih hubunganku dengannya yang beberapa hari ini sedang dalam miskomunikasi.

   "Kenapa?" Tanyaku, berusaha terdengar sopan.
"Dad tanya kamu kemana hari ini!"
"Badan ini badan saya. Saya akan membawa badan ini kemanapun dengan tanggung jawab saya. Setidaknya saya tidak seperti anda, demi Jones Company, sampai anak pun sering ditelantarkan. Saya sud..."
"Cukup!" Dia memotong ucapanku.

   "Reyn. Berhentilah bersikap kurang ajar. Kamu masih memiliki ibu, Reyn. Dad tahu dad sibuk. Tapi tolong, Reyn. Dad melakukan ini demi kamu. Kamu penerus satu-satunya perusahaan keluarga ini."

   "AKU MEMANG PENERUS USAHA INI. TAPI SUATU SAAT NANTI AKU AKAN JADI AYAH YANG BAIK, DAD. TIDAK SEPERTI DAD." Aku mencurahkan emosi ini dalam satu kalimat. Dad kaget. Aku melihatnya.

   "Bukan seperti itu, Reyn. Dad tetap mencintaimu. Maaf, bila dad mengabaikanmu. Dad tidak bisa berhenti akan usaha keluarga ini. Tolong mengerti, Reyn. Dad tentu tidak akan bisa memberikan hak asuh kamu untuk ibumu. Kamu tahu bahwa pengadilan-lah yang memutuskan kamu tinggal dengan dad, Reyn. Dad berusaha memprotekmu."

   "Aku tidak membicarakan ibu. Jangan pernah menyalahkan dia.  Dad, please. Aku ngantuk."

''Reyn, dengarkan ayah dulu."
"Your words is bullshits, dad. Bla bla bla.." aku bergegas ke kamar dan bersiap tidur. Meski dalam hati ada rasa penyesalan. Sampai sesesak ini hatiku. Percuma, aku sudah tidak bisa tidur. Pikiran tentang Sarah, dad, momma, and a motherfucking Christina dan Sean masih terus merajai ingatanku. Sampai aku baru ingat bulan depan, kira-kira seminggu lagi aku akan menginap di rumah momma.

~~~

  03.02 a.m.
Aku masih terjaga. Kubiarkan memaksa diri ini untuk tidur. Walaupun sia-sia. Mengapa aku dan dad masih terus tidak dapat menemui kecocokan? Aku berusaha membuka hatiku hanya untuknya memasuki pikirannya. Tapi nihil. Aku terus merasa bahwa dad berusaha memperalatku untuk mewariskan kerajaan bisnisnya. Memang benar, kan? Aku anak tunggal. Dan ayahku akan memperalatku. Selama aku hidup. Aku rasa memang itulah tujuan hidupku. Diasuh oleh seorang ayah yang jelas-jelas menginginkanku hanya untuk mewarisi kekaisaran bisnisnya. Agar bisnis keluarga itu tetap berjalan. Aku mencoba untuk mebuup mata. Mencoba tidur. Hingga akhirnya aku bisa terlelap.

~~~

   
    Aku tidak bisa menampik bahwa hari ini, khusus hari ini, dia, Sarah ada di mimpiku. Aku yakin aku tersenyum dalam mimpiku itu.

   Aneh rasanya. Suatu kebetulan yang luar biasa aneh, dan cukup lucu. Ironinya adalah aku memimpikan dia sedang mencoba mengobati lukaku. Persis seperti kemarin malam. Seulas senyum tiba-tiba sudah terbentuk di wajahku.

   Hingga aku baru ingat bahwa kemarin ayahku bukan menungguku. Dia bilang kemarin dia akan pergi ke USA, dan menunggu penerbangan jam 3 pagi. Aku pikir dia ingin aku mengucapkan selamat tinggal dulu padanya.

   Jadi aku cepat-cepat menghabiskan sarapanku, dan memacu ninja untuk kembali ke sekolah. Meskipun luka masih berdenyut-denyut, pikiranku tertuju pada Sarah.

    Berdamai mungkin ide yang bagus...
  

  

Long Coma Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang