Wajah Sarah saat itu saat melihatku berpacaran dengan Renata masih terbayang di kepalaku.
Aku kira Renata adalah kekasih terbaikku sampai sekarang. Tapi ternyata dia cengeng dan childhish. Selain itu dia manja.
Aku gak suka sama perempuan manja dan cengeng seperti dia. Jujur aku membanggakan ibuku dan ingin memiliki perempuan seperti ibuku.
Dia pekerja keras, cantik, anggun, dan mandiri. Aku rasa alasanku makin mencintai ibuku sama dengan alasan ayahku juga pernah mencintainya. Pernah.
Aku belum menemukan perempuan seperti ibuku di Sekolah ini kecuali satu orang. Sarah Wilson.
Tapi pergulatan dalam diriku untuk membencinya begitu kuat. Aku tidak bisa mencintai seseorang dan malah membencinya setiap kali bertemunya. Hal itu akan membuatku dan dirinya sakit hati.
Tak terbayang bagaimana rasanya jika dia benar-benar masih mencintaiku selama setiap hidupku telah membuatnya sakit hati. Apa yang ayahku dan aku lakukan.
Tapi mengapa aku malah membencinya jika bertemu dengannya? Rasanya segalanya, rasa penyesalan lamaku atas kematian ayahnya kembali terulang dalam ingatan setelah melihatnya. Wajahnya yang tak jauh beda dengan almarhum ayahnya.
Rasa ingin mengucapkan permintaan maaf padanya karena kejadian itu terus terulang dalam mimpiku. Tapi aku malah memilih untuk mengikuti gengsiku. Harga diriku. Seolah meminta maaf adalah perbuatan salah.
Aku hanya tak habis pikir, mengapa aku terus memikirkannya, mengakuinya kalau dia adalah cinta pertamaku, sedangkan perasaan itu masih terus bersemi di hati, tapi aku tetap membencinya jika bertemu dengannya.
...Kalau memang benar cinta dan benci itu tipis, dan tak jauh beda,
Setidaknya izinkan aku agar perasaan ini berubah segera ke cinta
Aku akan selalu menunggu agar perasaan ini berubah
Entah kapan...
~~~
Malam itu, setelah aku bergulat dengan diriku, aku akhirnya memutuskan Renata.
Aku lega. Setidaknya aku akan single dulu sekarang.
Aku datang ke Sekolah naik ninja-ku. Sedangkan ayah masih berada di Hong Kong untuk urusan bisnisnya.
Renata menatapku seperti kesetanan. Ah, aku tak memedulikannya. Aku melihat Sarah. Dia melihatku, juga.
Anehnya dia tetap tenang dan melihatku dengan tersenyum selama sepersekian detik mata kami saling memandang.
Tapi, aku tetaplah aku yang lama. Masih membencinya walaupun aku masih ingin memberinya kesempatan. Aku tidak berubah. Sepertinya tidak akan sanggup.
Aku masuk ke kelas dan melihat Sean. Dan bel sekolah langsung berbunyi.
Wali kelas tetap mengoceh tentang persiapan untuk besok. UAS. Cepat sekali sudah mau 1 semester. Wali kelas terus mengoceh, aku yang bosan malah mengajak ngobrol Sean.
"Reyn, keluar! Kamu enggak punya etika, ya di pelajaran saya malah mengobrol padahal ini demi kebaikan kamu. Di UAS besok..." kata Ms. Emily, wali kelasku.
Telingaku sepertinya tidak bisa menampung segala perkataan Ms. Emily. Jadi aku berdiri di tempat dudukku. Dan berjalan ke arahnya.
"Kalau anda mau mengeluarkan saya, anda harus tahu siapa ayah saya." Kataku, setengah membentak. Aku keluar kelas tanpa memedulikan siapa yang melihatku walaupun aku yakin satu kelas melihatku dengan kaget. Entah setelah aku keluar Emily berkata apa. Aku tak peduli.
~~~
UAS tak begitu sulit. Aku mengerjakan dengan sebaik-baiknya walaupun aku hanya belajar sekitar 1 jam setiap harinya. UAS SMA semester 1 ini terlalu mudah buatku...
Terbukti nilainya dibagi dan aku Ranking 2 di kelas. Ya, rank satunya entah siapa. Aku tak menyangka dia pintar. Rapotku diambil oleh adik ayahku, sekaligus tanteku, Aunt Camille. Karena ayahku masih di Hong Kong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Long Coma
Novela JuvenilBagaimana jika sepasang hati yang harusnya saling mencintai malah menuju ke arah yang berlainan satu dengan yang lain? Yang satunya mencintai, yang satunya membenci. Bukankah perasaan itu tumbuh karena rasa cinta? Tapi bagaimana jika dia adalah yang...
