Marchella membuka kelopak matanya, ia bangun untuk memulai harinya yang terasa sangat berat. Gadis itu berjalan dengan tatapan kosong menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya sebelum jenazah kakaknya tiba.
"Non Marchella..." Panggil Mbok Lastri seraya mengetuk pintu kamar majikannya.
"Ya..." Jawab Marchella dan membuka pintunya.
Pintunya terbuka lebar dan tampak lah Mauren dengan wajah ibanya. Mauren memeluk teman di hadapannya dengan erat.
Marchella menutup matanya merasakan kehangatan temannya itu. Mauren mengelus punggung Marchella dengan lembut. Ia merasa bersalah setelah apa yang terjadi dengannya dan Marchella kemarin.
"Gue tau gimana perasaan lo sekarang Chell..." Ujar Mauren.
Kaki Marchella seperti jelly, ia tak sanggup menahan bebannya sendiri. Gadis itu terkulai di lantai diikuti Mauren.
Mauren juga bingung harus apa, ia tak tau bagaimana cara membuat Marchella tersenyum.
"Chell." Panggil Mauren.
Marchella menatap Mauren ya berada tepat di depannya. Dengan tatapan kosong serta kantung mata yang menghiasi wajahnya.
"Lo kuat. Gue tau, lo bukan cewek cengeng. Lo bisa ngatasin ini. Gue selalu ada di samping lo, disaat lo butuh gue. Kapanpun itu." Ujar Mauren meyakinkan.
Marchella tersenyum kecil, tidak ia tidak tersenyum. Hanya ber pura-pura senyum, ia tidak yakin bahwa ia kuat menghadapi masalahnya ini.
Mauren berdiri dan diikuti Marchella. Mauren menyuruh Marchella membersihkan badannya sebelum jenazah kakaknya datang.
🐼
Kedatangan sebuah mobil jenazah adalah salah satu ketakutan terbesar Marchella dalam hidupnya.
Sirine ambulans terdengar begitu nyaring di telinganya, Marchella masih tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Marchella!" Panggil seseorang dengan suara lembut.
Gadis itu mendongak menatap siapa yang memanggilnya. Ia tersenyum kecil, sangat kecil. Ibunya datang dengan pakaian hitam serta wajah yang tidak bahagia.
"Kamu sehat nak?" Tanya ibunya seraya mengelus kepala anak perempuannya dengan sayang.
Marchella mengangguk menjawab pertanyaan ibunya. Ia juga tidak dapat menatap wajah ibunya, saat ia menatapnya, ia merasa ribuan pisau menusuknya.
"Papa dimana?" Tanya Marchella setelah lama diam.
"Mengurus jenazah kakakmu..." Jawab ibunya lembut, senyum tak lepas dari wajah cantik ibunya.
"Kak Nicko berpesan kepada ibu, katanya Marchella gak boleh nangis kalau sewaktu - waktu terjadi sesuatu dengan kakak. Marchella harus tetap senyum, dan menjalani kegiatannya seperti biasa. Kak Nicko berharap, Marchella bisa mewujudkan harapan kak Nicko." Jelas ibunya.
Marchella diam seribu bahasa. Nafasnya tercekat. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Marchella mau kan turutin apa yang kak Nicko harapkan?" Tanya ibunya.
Marchella mengangguk ragu, ia tidak tau apa yang harus dia katakan selain menyetujuinya.
"Kak Nicko sayang banget sama Marchella. Kak Nicko takut kehilangan adiknya ini. Kak Nicko rela melakukan hal apa saja untuk Marchella. Jadi Marchella harus bahagiain Kak Nicko, walaupun dia udah gaada sama kita. Tapi dia selalu ada di hati Marchella, Mama, dan Papa." Lanjut ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE AND BROKEN
Teen Fiction(Mohon maaf untuk chapter awal yang masih berantakan) Bagi Marchella mengenal Kevin adalah hal yang paling membahagiakan selama ia hidup di dunia. Sedangkan bagi Kevin, mengenal Marchella adalah pengalaman terbaik yang pernah ada di hidupnya. Kisa...
