"Nekat banget ya, si Vivian," ujarku. Zara mengangguk sambil menyeruput es jeruknya.
Kami berjalan di lorong kelas sambil membicarakan kejadian memggegerkan di kelas kami pagi tadi.
"Dia emang gitu, Nad. Berkali-kali ditegur karena nyontek. Tapi anehnya, dia gak pernah kapok. Sekolah juga gak pernah keluarin dia dari sekolah." jelas Zara.
"Kok gitu ya?" tanya Nada bingung. Zara mengangkat bahunya.
"Entahlah, Nad. Mungkin karena ini," Zara menggesekkan ibu jarinya dengan jari telunjuk tangan kanannya.
"Uang?" tanyaku.
Zara mengangguk. "Mungkin dia nyogok," ujarnya santai.
"Oh ya, pulang sekolah nanti, kamu mau kemana, Nad?" tanya Zara.
"Hmm... Rencananya aku mau ke toko buku, Za." jawabku.
"Mau beli buku apa?" tanyanya.
"Buku biologi, Za. Kamu mau ikut?" tanyaku.
"Wah, boleh tuh. Nanti kita kesana bareng ya," ujarnya. Aku tersenyum dan mengangguk setuju.
***
Pandu sedang berlari di lapangan dengan telanjang dada siang ini. Ia hendak membakar lemaknya yang mulai menumpuk. Sudah menjadi kebiasaannya mengusir lemak-lemak nakal tersebut. Ia sangat telaten menjaga bentuk tubuhnya. Karena rajin berolahraga, tubuhnya menjadi kekar. Perutnya kotak-kotak bak roti sobek. Bentuk tubuh yang enak dipeluk itu menjadi sorotan wanita-wanita yang secara tak sengaja melewati lapangan. Ada yang berbisik, ada yang mengerlingkan matanya genit.
"Hai cowok,"
"Hai ganteng, badannya bagus banget sih."
"Bodinya boleh juga tuh."
Godaan dan rayuan banyak dilayangkan oleh para gadis cantik yang melewati Pandu. Tapi Pandu tetap cuek dan tak merespon rayuan mereka.
"Ih, sombong."
"Pergi aja yuk dari sini. Doi cuek bebek aja tuh."
Tanpa disuruh, para gadis tersebut pergi dengan sendirinya. Mungkin mereka merasa jengkel dengan sikap cuek Pandu. Pandu tersenyum miring. Akhirnya, mereka semua pergi sebelum ia mengusirnya. Kedua telinganya sudah panas mendengar bujuk rayu mereka.
"Hei, Pandu!" sapa Adit. Adit adalah teman satu letting Pandu. Mereka masuk Akmil bersamaan, mengikuti Praspa juga bersamaan. Dan ternyata, mereka ditempatkan di kesatuan yang sama pula. Adit adalah saksi dari kisah cinta Pandu dan Nada. Sejak mereka menjalin kasih dulu, Adit adalah orang pertama yang mendukung hubungan mereka. Nada pun sudah mengenal baik kawan karib kekasihnya.
"Hei, Dit!" sapa Pandu. Adit berlari dan menepuk pundak sahabatnya.
"Olahraga lagi kau? Bakar lemak ya?" tanyanya. Pandu tersenyum simpul.
"Wih, rajin betul kau ini!" pujinya. Pandu tertawa.
"Yaa biar lemak nggak menumpuk, Dit. Sampeyan sendirian? Pacarmu ngendi?" goda Pandu. Adit nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ada, dia..."
"Ngambek lagi?" tebak Pandu.
"Hehehe..." cengir Adit. Pandu menggelengkan kepalanya. Temannya ini selalu saja bertengkar dengan pacarnya. Ckckck...
"Aduh, sampeyan iki. Tiap hari kerjaannya berantem terus. Kali ini kenapa? Karena tugas?" ujar Pandu.
"Hmm, iya, Pan. Masalahnya sepele sebenernya, tapi ya emang dasar doi tiap hari kerjaannya marah-marah terus." tuturnya sambil menggelengkan kepalanya. Pandu tertawa geli mendengar penuturan temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Disappeared Memory (Completed)
RomanceKetika sebuah memori harus memisahkan ikatan antara seorang tentara gagah dengan kekasihnya. Namun, tanpa kesengajaan, waktu kembali mempertemukan mereka setelah bertahun-tahun terpisah jarak kenangan. Cerita fiktif dari coretan-coretan absurd autho...
