Bagian 37

6.2K 365 7
                                        

Sudah empat hari ini Nada menghabiskan banyak waktunya di lapangan basket komplek. Ia sering bertanding sendirian.

Prangg! Sekali lagi bola masuk ke dalam ring. Terhitung sudah tujuh kali ia memasukkannya dengan sempurna.

Dan selama ia berlatih, ada seseorang yang menunggu dan menjaganya, yakni Serda Bayu. Yang diperintahkan oleh papa Nada, alias Jenderal Harris Tri Hendrawan.

"Mbak, istirahat dulu, dari tadi Mbak belum istirahat sama sekali," tegur Bayu.

"Nanti aja, Kak. Aku belum capek," elak Nada. Ya, jika ia memanggil Pandu dengan sebutan 'Kak', maka ia harus memanggil Bayu dengan sebutan yang sama.

Prangg!

Setelah Nada memasukkan bolanya untuk yang kedelapan kalinya, barulah ia berjalan ke tepi lapangan untuk beristirahat.

Ia menyambar handuk putih dan sebotol air mineral di tasnya. Lalu meneguknya tandas seraya duduk di sebuah kursi panjang.

Ya, selama beberapa hari ini ia memang berlatih keras untuk pertandingan basket perdananya dan yang terakhir kalinya, mungkin. Karena semester selanjutnya ia harus berkutat dengan banyak ujian.

Karena itu, ia berusaha keras memenangkan turnamen tersebut. Ia juga ingin membahagiakan papanya, guru-gurunya, teman-temannya, sahabatnya, dan juga... Ajudan kesayangannya.

Dan ngomong-ngomong soal ajudan itu, sudah satu minggu ini setelah keberangkatannya ke Sumba, ia tak pernah menghubungi Nada. Entah karena apa. Hmm, mungkin karena disana miskin signal? Atau mungkin... Karena ia memang tak ingin menghubunginya?

Ah, seharusnya aku sadar, kalau aku bukanlah prioritasnya, batin Nada.

Nada melirik jam di tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Sudah waktunya ia pulang.

Nada menenteng tas olahraganya. Lalu mengajak Bayu pulang.

***

Hari beranjak malam. Nada sedang memainkan laptopnya untuk mencari-cari info mengenai Fakultas Seni di salah satu Perguruan Tinggi Negeri terkenal di kota Jogja, kota tempat tinggalnya kini.

Drrtt... Drrtt...

Fokusnya pecah tatkala ponselnya bergetar di atas nakas. Ia meraih ponsel tersebut untuk melihat siapakah gerangan yang baru saja mengganggu waktunya.

Sebuah pesan masuk pada aplikasi WhatsAppnya. Setelah dibuka, ternyata pesan tersebut dari Pandu, orang yang diam-diam dirindukannya.

"Assalamu'alaikum, Dek."

Nada jadi senyum-senyum sendiri saat ia membuka pesan tersebut. Laptop tak lagi dihiraukannya untuk sementara waktu.

"Wa'alaikumsalam, Kak. Tumben ngechat," jawabnya.

Satu menit... Dua menit...

Nada mencoba fokus kembali pada layar dekstop laptopnya. Ia mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di atas laptop menandakan bahwa ia benar-benar sedang menunggu balasan chat dari pria bernama Pandu.

Alhasil, ia tak bisa lagi membangun kembali konsentrasinya saat sedang menunggu. Nada meraih ponselnya lalu mengubah audio profilnya yang semula hanya menggunakan mode vibrate.

Nada POV

Aku menunggu balasan pesan dari Kak Pandu. Hmm, pria itu memang benar-benar ajaib. Aku yang semula fokus plus plus pada laptop dan hasil searching-ku di google tentang dunia perkuliahan, mendadak kalut saat dia datang dan menggempur benteng konsentrasiku tersebut.

Disappeared Memory (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang