Nada POV
Aku dan Zara berjalan beriringan setelah jam pelajaran usai. Ia menemaniku ujian praktek Biologi susulan di laboratorium. Ya, dia tetap merasa bersalah atas kejadian sore itu kendati aku sudah berkata bahwa itu bukan salahnya. Zara tetap bersikukuh menemaniku ujian kendati hari sudah semakin sore. Ah, aku banyak berhutang budi padanya. Dia adalah sahabat terbaikku.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya. Terimakasih atas waktunya, Bu." pamitku pada Bu Dena, guru Biologiku. Aku dan Zara menyalimi tangannya dan berucap salam. Bu Dena tersenyum lalu membalas salam kami.
Kami berjalan ceria menuju gerbang sekolah. Saat berada di lobi sekolah, Zara ditelepon papanya.
"Oh, iya, Pa, Zara juga lagi jalan ke gerbang."
"..."
"Iya, Pa. Wa'alaikumsalam."
Klik. Telepon ditutup.
"Kenapa, Za?" tanyaku. Zara tersenyum lantas memasukkan kembali ponselnya ke dalan saku roknya.
"Papaku udah ada di depan, Nad." jawabnya. Aku mangut-mangut paham. Lalu kami kembali berjalan beriringan menuju gerbang. Tiba-tiba, dering ponsel mengagetkanku.
"Eh, dari papaku. Sebentar ya," ucapku.
"Halo, assalamu'alaikum, Nak?"
"Wa'alaikumsalam, Pa."
"Kamu udah selesai? Udah mau pulang?"
"Udah, Pa."
"Yaudah, ajudan Papa sudah menunggu di depan gerbang. Hari ini, Serda Bayu yang akan menjemputmu. Lettu Pandu sudah berangkat tugas ke Merauke pagi tadi."
"Apa? Merauke?" tanyaku kaget.
"Iya, Sayang. Ya sudah, kamu cepat pulang. Kasihan Serda Bayu sudah lama menunggumu."
Dih, biarin aja Om Bayu nungguin aku. Biar aku kerjain tuh orang. Bagaimanapun, aku masih kesal karena ia datang sangat-sangat terlambat sore itu. Sehingga aku kehujanan, kedinginan, dan akhirnya masuk rumah sakit. Uuh, sebel.
"Oh ya, papa ada di Medan dua minggu ini. Papa ditugaskan di sana. Kamu di rumah ditemani sama Bi Siti, ya."
"Bi Siti?"
"Iya, Bi Siti. Beliau asisten rumah tangga yang kerja di rumah kita. Dulu pas rumah kita masih di Jakarta, beliau juga kerja di sana kok. Tapi mumpung sekarang rumah kita ada di kampung halamannya, beliau jadi lebih leluasa bantu kita. Termasuk bantu temenin kamu selama papa dan Pandu dinas. Oke?"
Hmm, Bi Siti, ya? Papa bilang, Bi Siti sudah bekerja untuk kami sejak dulu? Tapi, kapan? Perasaan aku tak pernah mengenal ataupun melihatnya. Mendengar namanya pun terasa asing bagiku.
"Ya sudah. Kalau begitu, papa tutup teleponnya ya. Maaf papa baru kabari sekarang."
Aku menghela nafas.
"Iya, nggak pa-pa, Pa. Papa baik-baik ya disana, aku bakal kangen banget sama papa dua minggu ini."
"Iya, Sayang. Kamu tunggu papa pulang, ya."
"Iya, Pa."
"Ya udah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Klik. Telepon ditutup. Hatiku dirundung pilu mendengar kabar bahwa Papa sedang tugas dadakan di Medan. Statusnya sebagai petinggi militer memang membuatnya harus memikul beban banyak dengan tanggung jawab yang semakin besar. Aku merasa bangga dengan papa. Di usianya yang tak lagi muda, papa tetap berpegang teguh mengabdi pada negara ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Disappeared Memory (Completed)
RomanceKetika sebuah memori harus memisahkan ikatan antara seorang tentara gagah dengan kekasihnya. Namun, tanpa kesengajaan, waktu kembali mempertemukan mereka setelah bertahun-tahun terpisah jarak kenangan. Cerita fiktif dari coretan-coretan absurd autho...
