Bagian 16

7.7K 436 2
                                        

Hari ini hari Minggu. Nada sudah bersiap dengan baju santainya untuk segera memulai hari. Setelah merapikan rambutnya di depan cermin, dia keluar dari kamarnya. Langkah kakinya melenggang melewati ruang makan. Terdapat Bi Siti tengah sibuk menyiapkan sarapan.

"Non? Mau kemana? Ayo sarapan," ajaknya.

Nada melirik jam tangannya, lalu memakai sandal capitnya. Jarum jam masih menunjukkan pukul delapan pagi.

"Nanti aja, Bi. Nada mau ke toko dulu, mau beli alat lukis." Ya, hari ini rencananya Nada memang ingin membeli alat lukis. Entah setan apa yang merasukinya sehingga tiba-tiba ia ingin sekali melukis. Nada tak tahu padahal sejak dulu ia memang pandai melukis. Bahkan, melukis menjadi hobinya kala itu, disamping hobinya bermain musik. Namun, amnesia bangsat itu membuatnya sejenak melupakan hobinya.

"Mau melukis?" tanya Bi Siti kaget.

"Iya, Bi. Nanti Nada sarapan setelah pulang dari toko." jawabnya santai. Bi Siti tak lagi bisa menahannya tatkala gadis manis itu sudah berjalan keluar rumah sambil berucap salam.

Nada menghela nafas dalam. Jarak antara toko dan rumahnya cukup jauh. Apalagi saat ini tidak ada papa atau bahkan Lettu Pandu yang menemaninya. Serda Bayu juga tak ada bersamanya. Jam-jam segini biasanya orang itu sedang sibuk apel di baraknya.

Nada berjalan kaki menuju toko. Dengan berat hati ia melangkahkan kakinya yang mungil menuju toko yang letaknya di depan asrama itu. Tak ada sepeda bahkan motor di rumahnya. Dalam hati, ia bertekad untuk meminta dibelikan sepeda oleh sang papa setelah beliau pulang nanti.

Ketika Nada lewat di depan barak, ia melihat banyak tentara muda yang sedang lari pagi. Mereka bernyanyi sambil berlari. Suara berat dan gagahnya menggema dan membuat Nada takjub sesaat.

"Wih, ada cewek cantik, bro!"

"Mbak, minta pinnya dong,"

"Mbak, mau kemana? Sendirian aja,"

"Neng, jangan jalan sendirian. Nanti diculik lho,"

"Wis, wis, mending kamu kuantar aja. Ayo, mau kemana?"

Begitulah rayuan dan godaan yang masuk ke telinga Nada selama di perjalanan. Ya, beberapa tentara yang sedang lari pagi sempat menggodanya ketika Nada berjalan melewatinya. Nada hanya tersenyum simpul demi menjaga kesopanannya. Meski dalam hati ia merasa keki dan jengkel dengan sikap genit para tentara tersebut.

Setelah melewati gerombolan tentara tersebut, Nada akhirnya berhasil sampai di pos provost. Ia melihat Letda Bagus dan Letda Yudha sedang berjaga di pos tersebut. Mereka tersenyum melihat kedatangan Nada.

"Assalamu'alaikum, selamat pagi, Om," sapa Nada ramah seraya menyunggingkan senyumnya.

"Wa'alaikumsalam, selamat pagi juga, Mbak. Mbak Nada mau kemana?" tanya Letda Bagus ramah. Letda Bagus adalah sosok tentara yang ramah dan tak genit. Berbeda sekali dengan para tentara yang tadi ditemuinya.

"Nggih, mau ke toko depan, Om. Mau beli alat lukis," jawab Nada sopan.

"Oh, begitu."

"Nggih, Om. Kalau begitu, saya permisi dulu, assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak. Aku kembali berjalan menuju toko serbaguna di depan asrama.

Nada membeli berbagai peralatan lukis. Seperti kanvas, buku gambar A3, kuas dengan berbagai ukuran, pensil grafit, krayon dan cat air.

Setelah membayar, Nada menenteng plastik berisi barang-barang belanjaannya dan berjalan pulang ke rumah. Di perjalanan, dia tetap mendapati beberapa tentara yang menggodanya. Sebenarnya, ia merasa bingung harus berbuat apa pada orang-orang yang merayunya. Mau masang wajah jutek dan dingin, nanti dikira sombong. Dan Nada bukan tipikal orang seperti itu. Dia juga tak ingin dicap sebagai orang sombong. Tapi, kalau diladeni, nanti dikira kecentilan. Jadi, ia memutuskan untuk tersenyum ala kadarnya tanpa bicara dan tanpa melayangkan tatapan tajam pada mereka yang menggodanya.

"Assalamu'alaikum, Bi!" ucap Nada seraya mengetuk pintu rumahnya.

"Wa'alaikumsalam!" tak lama kemudian, terdengar suara gerendel pintu dibuka. Dan tampaklah wanita paruh baya tengah tersenyum menyambut kedatangannya.

"Eh, Non sudah pulang. Ayo sarapan, Non." ajaknya. Nada tersenyum lembut menanggapi ajakan Bi Siti, pembantunya. Ia lantas meletakkan barang bawaannya di atas meja belajarnya. Lalu berjalan santai menuju ruang makan untuk menyantap sarapannya.

Pagi ini sepiring nasi goreng tersaji di atas meja makan. Aromanya yang menggugah selera sudah tercium dari ambang pintu kamar Nada. Setelah berdoa, ia lantas melahap habis makanan yang tersaji untuknya.

"Bibi udah sarapan?" tanya Nada. Bi Siti mengulum senyumnya.

"Bibi makannya nanti aja, Non. Mau beres-beres halaman dulu," jawabnya.

"Tapi nanti bibi beneran makan ya, jangan sampai lupa," ujar gadis itu mengingatkan. Bi Siti tersenyum dan mengangguk.

Nada melangkahkan kakinya ke kamar. Ia mengambil barang belanjaannya. Namun, matanya membulat saat menemukan kayu penyangga lukisan di dekat lemari pakaiannya. Seulas senyum merekah di wajahnya.

"Bi, ini punya siapa?" tanyanya sambil menunjukkan alat itu ke Bi Siti.

"Oh, itu bibi nemu di gudang, masih bagus kok. Bibi kira itu punya Non, jadi bibi kembalikan ke kamar Non. Non pasti butuh itu buat ngelukis, kan?" tanyanya.

Nada menghamburkan pelukannya ke Bi Siti. Bi Siti mengelus pelan kepala anak majikannya.

"Makasih ya, Bi. Nada butuh banget," ucapnya.

"Iya, sama-sama, Non." ucap Bi Siti. Nada tersenyum dan kembali ke kamarnya.

Nada menaiki lantai dua rumahnya. Hari ini, ia berniat melukis di balkon rumahnya. Sambil melihat indahnya pemandangan yang disuguhkan alam. Siapa tahu, disana ia bisa mendapat inspirasi.

Nada menggelung rambutnya menggunakan hairnet. Ia memakai kacamata bulatnya yang membuatnya makin terlihat cantik menawan. Poni lemparnya makin menegaskan kecantikan wajahnya.

Nada memposisikan kanvasnya di kayu penyangga. Ia menyiapkan cat air dan kuas. Belum sempat ia membuka cat airnya, tiba-tiba deringan ponsel mengejutkannya.

Om Pandu. Hmm, ada apa dia nelpon? Tumben banget. Bukannya sekarang dia lagi tugas di daerah miskin signal ya? Pikir Nada.

"Assalamu'alaikum, halo?"

"Wa'alaikumsalam,"

"Ada apa, Om?"

Tak terdengar jawaban dari sana. Namun dari ponselku bisa terlihat bahwa panggilannya masih tersambung.

"Nggak ada apa-apa, aku cuma mau memastikan."

"...."

"Nad?"

"Eh, em, iya?"

"Jaga dirimu baik-baik."

"I-iya, Om."

"Maaf karena aku pergi mendadak."

"I-iya, nggak pa-pa, Om."

"Ya udah, aku cuma mau mastiin keadaanmu aja. Syukur kalau kamu nggak kenapa-napa."

"I-iya, Om."

"Kututup dulu, ya? Mau lanjut nugas. Assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumsalam."

Nuttt, nuttt, nuttt... Panggilan terputus. Nada menghela nafasnya.

Aneh. Tak biasanya Om ajudan super cuek itu meneleponnya. Apalagi hanya untuk memastikan keadaan Nada. Mungkin, dia khawatir? Eh, tapi, kenapa bisa begitu?

Bukankah seharusnya ia senang karena tak bisa mengawal Nada selama tiga bulan ini? Dan di dalam keadaan susah signal itu, Pandu masih menyempatkan diri untuk meneleponnya. Sebuah tindakan konyol yang membuang-buang waktu dan pulsa, begitu yang ada di pikiran Nada.

Tapi, sesuatu yang lain kini tengah membuncah dalam hati Nada. Ya, entah mengapa gadis itu merasa senang setelah dikhawatirkan oleh ajudan pribadinya. Ia merasa, kehadirannya adalah hal penting bagi Pandu. Em, apa mungkin, Nada telah jatuh cinta pada ajudan tampannya?

Nada sangat bersyukur pada deringan telepon itu. Seketika itu, otaknya cerah bagai baru tersiram ilham. Tampaknya, ia menemukan ide untuk lukisannya. Ya, kali ini ia akan melukis wajah ajudan gantengnya tersebut.

Disappeared Memory (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang