Bagian 31

6.8K 378 7
                                        

Waktu terus bergulir. Setelah kejadian di ruang BK, akhirnya Vivian dan teman-temannya terbebas dari segala tuntutan.

Di bulan Desember ini Nada memulai libur panjangnya. Ya, sudah tiga hari semenjak pembagian raport ia tak bertemu dengan ajudannya tersayang, Pandu. Dalam diam, ia merindukan sosok tentara dingin itu.

Ia mulai memutar memori tentang kedekatannya dengan pria itu, Pandu. Ya, Pandu, bukan Kevin. Mulai dari pertama kalinya mereka saling dikenalkan oleh sang papa, lalu saat pertama kali ia melihat tentara itu memblushing (baca di akhir part 6), main basket berdua, saat tragedi pingsan karena kehujanan di depan toko buku, lalu tentara itu menyelamatkannya, saat tentara tampan itu menemaninya dengan sabar di rumah sakit, saat tentara itu menelponnya berkali-kali hanya karena khawatir, saat mereka jalan-jalan berdua, saat tentara itu memeluknya, saat dia menjaketi Nada, saat tentara itu menyelamatkan Nada yang tersekap di toilet sore itu, saat mereka makan bersama, dan saat... Mereka berciuman untuk yang pertama kalinya.

Nada senyam-senyum sendiri bila mengingat semua itu. Meski mereka belum begitu lama mengenal, tapi sudah begitu banyak hal yang mereka lalui bersama.

Pertemuan itu terasa sangat singkat. Terkadang waktu berjalan begitu lambat sehingga membuat kita merajut banyak kenangan yang datang menghampiri. Tapi terkadang waktu juga terasa berjalan begitu cepat. Sehingga membuatku merasakan bahwa setiap detik bersamanya adalah sesuatu yang sangat berarti, batin Nada.

"Aargghh! Aku mikir apa sih?" gerutunya kesal. Tapi kemudian, dia kembali senyum-senyum sendiri.

Dalam hati, Nada mengharapkan tentara itu meneleponnya, lalu mengkhawatirkannya, seperti yang sering dilakukannya waktu itu.

Drtt... Drtt...

Tiba-tiba ponsel milik Nada bergetar. Memecah lamunan panjang yang tengah menghanyutkannya.

Duh, siapa sih yang nelepon malam-malam gini? Nggak lihat jam apa ya? Rutuknya, sembari melirik ke arah jam weker yang menunjukkan angka sepuluh.

'Kak Pandu'

Jantung Nada berpacu sangat kencang. Matanya terbelalak kaget ketika melihat sebuah nama yang terpampang jelas di layar ponselnya. Baru saja gadis itu melamunkan sosok tentara yang diam-diam dirindukannya. Dan kini Tuhan mengabulkan keinginannya.

Nada menyentuh tombol angkat di layar smartphonenya. Tangannya bergetar mengangkat ponselnya ke telinga kanannya.

"Halo, assalamu'alaikum?"

Nada bergetar mendengar sebuah suara yang tiga hari ini tak didengarnya. Ia merasa seperti tersengat listrik hingga mengejutkan saraf-saraf tubuhnya. Aneh. Tak biasanya dia merasakan hal itu ketika menerima telepon dari ajudannya.

"Wa...wa'alaikumsalam," jawabnya gugup.

"Bagaimana keadaanmu?"

Nada tersenyum mendengar bahwa pria itu tengah mengkhawatirkan keadaannya.

"Alhamdulillah, baik Kak. Kakak sendiri?"

"Aku juga baik-baik aja disini." jawabnya.

Alhamdulillah, batin Nada.

"Sedang apa? Kenapa belum tidur?"

"Em, nggak lagi ngapa-ngapain sih. Nggak tau, belum ngantuk aja."

"Jangan tidur terlalu larut malam ya, nanti sakit."

Sekali lagi Nada tersenyum. "Siap, Ndan!"

Pandu tertawa renyah di seberang sana.

"Gimana raportnya?"

"Alhamdulillah memuaskan, Kak. Oh ya, Kak, aku dapet ranking satu loh," ucap Nada bangga.

Disappeared Memory (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang