"Om Pan-du..." lirih Nada sebelum akhirnya tubuh mungilnya jatuh pingsan. Beruntung Pandu menahan tubuh gadis tersebut sebelum jatuh menghantam trotoar jalan.
"Astagfirullah!" ucapnya terkejut.
Pandu menggendong gadis itu lalu berlari hujan-hujanan menuju mobilnya di seberang jalan. Ia mendudukkan tubuh mungil gadis itu di kursi penumpang. Ia memasang seatbeltnya, lalu berlari menuju kursi pengemudi.
Sebelum Pandu menghidupkan mesin mobilnya, ia mengambil sesuatu di jok belakang mobilnya. Diraihnya sebuah handuk putih lalu dikeringkannya tubuh gadis itu. Ia mengeringkan wajah, lengan, dan rambut Nada. Setelah itu, ia menyelimuti Nada dengan handuknya.
Pandu memandang cemas gadisnya. Gadis periang yang sangat menyukai hujan itu kini terduduk lemah di mobilnya. Matanya terpejam, kulitnya pucat membeku. Bibir pinknya berubah warna menjadi putih. Kulitnya dingin sedingin es.
Aneh sekali. Biasanya, gadis itu tahan berada di bawah tetesan hujan selama berjam-jam. Ia jarang jatuh sakit karena butiran air yang jatuh dari langit tersebut. Apa yang dilihatnya kali ini, merupakan hal baru dari sosok Nada. Kini, gadis itu rapuh. Tak sekuat dan setangguh dulu.
Pandu memutar kemudinya meninggalkan tempat itu.
Di tengah perjalanan, Pak Hendrawan menelepon Pandu. Dengan sigap ia memasang earphone untuk menjawab telepon tersebut.
"Assalamu'alaikum, Pandu. Kamu dimana?"
"Siap, wa'alaikumsalam, Pak. Saya sedang berada di jalan."
"Nada sedang bersamamu?"
"Izin, Pak. Iya, putri bapak sedang bersama saya. Tadi saya tak sengaja menemuinya di depan toko buku. Putri bapak kedinginan dan jatuh pingsan."
"Apa? Nada pingsan? Kamu dimana sekarang?"
"Saya sedang di dalam perjalanan menuju asrama. Kira-kira sepuluh menit lagi saya sampai, Pak."
"Ya sudah. Kamu bawa ke RST saja. Saya kesana sekarang."
"Siap, laksanakan, Pak."
Pandu POV
Klik. Sambungan terputus. Aku mencopot earphone dari telingaku. Laju mobilku terhenti ketika lampu merah menyala di perempatan jalan.
Aku menoleh ke arah Nada. Ia tampak tenang dalam ketidaksadarannya. Kuraba nafasnya dengan jari telunjukku. Setelah itu, kusentuh lehernya. Kuraba nadi karotisnya, karena ia sedang dalam keadaan tak sadar. Denyut nadinya terasa lemah. Hal ini semakin membuatku khawatir. Lantas kugenggam pergelangan tangan kanannya. Dingin sekali, seperti mayat. Aku menghela nafas berat.
Bertahanlah, Nad. Aku akan membawamu ke rumah sakit.
Setelah sepuluh menit perjalanan, kami sampai di RST. Di depan rumah sakit tersebut sudah terdapat Pak Jenderal dan ajudan-ajudannya, serta dokter dan para perawat. Kuhentikan mobilku di depan mereka, lalu berlari keluar untuk membuka pintu penumpang.
Rintik hujan masih terasa deras mengguyur kami. Kubopong tubuh mungilnya lalu membaringkannya di atas ranjang berjalan (?)
Pak Hendrawan tampak khawatir melihat keadaan putrinya. Aku duduk di ruang tunggu sementara Pak Jenderal mondar mandir di depan pintu.
Aku menjambak rambutku frustasi. Merasa bersalah karena aku membuat Nada sakit seperti ini. Seragamku yang basah tak kuacuhkan. Pikiranku sedang kalut memikirkan Nada.
"Maafkan saya, Pak. Seharusnya saya menjemput putri bapak tepat pada waktunya," ucap ajudan Pak Hendrawan. Pak Hendrawan tak menggubris ucapan ajudannya. Ia sudah terlalu kalut dengan keadaan anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Disappeared Memory (Completed)
RomansaKetika sebuah memori harus memisahkan ikatan antara seorang tentara gagah dengan kekasihnya. Namun, tanpa kesengajaan, waktu kembali mempertemukan mereka setelah bertahun-tahun terpisah jarak kenangan. Cerita fiktif dari coretan-coretan absurd autho...
