Nada POV
Selasa, 3 Januari 2017. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku dan timku tengah bersiap di basecamp kami yang tak jauh dari gelanggang olahraga tempat pertandingan basket diselenggarakan. Kami berdoa, menunaikan sholat dhuha, dan sarapan bersama-sama. Aku sedari tadi celingukan mencari keberadaan papaku. Dimana beliau? Katanya hari ini datang. Mataku berpaling dari pintu masuknya gelanggang dan jam tanganku.
Jam di tanganku menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tibalah saatnya tim dari sekolah kami dipanggil untuk berlaga. Untuk babak pertama, kami bertanding melawan tim basket dari SMA Kesatuan.
Kami berjalan bersama memasuki lapangan indoor diiringi dengan tepukan yang meriah dari teman-teman kami. Supporter dari sekolah kami menjadi supporter terbanyak di gelanggang ini. Wah, mereka benar-benar tim yang kompak.
Aku masih celingukan mencari keberadaan papaku. Dan, dapat! Seorang pria paruh baya yang memakai PDH dengan baretnya berjalan memasuki gelanggang diiringi dengan seorang anggotanya, yakni Serda Bayu.
Ketiga pria tersebut duduk di barisan paling depan. Ketika kedua mata papaku menangkap sosok putrinya yakni aku, beliau tersenyum seraya melambaikan tangannya padaku.
Aku merasa senang sekali. Kubalas senyum serta lambaian tangannya itu.
Ah, serasa lengkap semuanya. Ada Zara, teman-temanku, papa, dan Om Bayu. Tapi masih ada yang kurang sedikit, yakni 'dia' yang sepertinya tak bisa hadir hari ini.
Ah, seandainya kamu berada disini, Kak. Menepati janjimu sore itu. Bukankah kamu memang tipe pria yang suka menepati janjinya?
Bahkan, janjimu waktu itu masih terngiang-ngiang di pikiranku.
"Aku akan jadi orang yang paling mendukungmu, jadi penonton yang melihatmu di barisan terdepan, lalu jadi orang pertama yang berteriak atas kemenanganmu."
Suara MC tiba-tiba memutus lamunanku.
"Baiklah, untuk masing-masing tim silakan berkumpul di tengah lapangan."
Baiklah, untuk kali ini janjimu hanyalah sebuah omong kosong, Kak.
Priiittt! Aba-aba dimulainya pertandingan berbunyi. Tim kami mengerahkan segala kemampuan kami untuk memasukkan bola ke dalam ring.
Pranggg! Bola kedelapan dari tim kami yang berhasil masuk ke dalam ring. Supporter kami terus berteriak senang seraya menyanyikan yel-yel untuk kami.
Menit demi menit terus berlalu. Tak terasa tim kami sudah meraih poin ke dua puluh dua.
Pranggg!
"Dua puluh tiga poin untuk SMA Pertiwi, dan enam belas poin untuk SMA Kesatuan. Ayo supporternya mana nih!" ujar MC berkoar-koar. Lalu diikuti dengan riuhan para supporter membela tim mereka masing-masing.
"Dua puluh empat untuk tim SMA Pertiwi, dan tujuh belas untuk SMA Kesatuan,"
Berpeluh-peluh keringat mengalir dari dahiku. Tim kami terus mengusahakan menambah poin di menit-menit terakhir.
Dan...
Pranggg!
Priiiitttt!!! Peluit tanda berakhirnya permainan dibunyikan. Dan tim kami berhasil memasukkan bola sebanyak dua puluh lima kali selama permainan. Pencapaian yang baik.
"Ya! Tim basket dari SMA Pertiwi berhasil memasukkan bola untuk yang ke dua puluh lima kalinya di satu menit terakhir. Suatu pencapaian yang bagus ya, Wik?"
"Iya, itu sudah merupakan awal yang fantastis di babak satu ini. Persiapkan tim kalian untuk di babak selanjutnya. Selamat dan terus semangat untuk kedua tim!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Disappeared Memory (Completed)
RomanceKetika sebuah memori harus memisahkan ikatan antara seorang tentara gagah dengan kekasihnya. Namun, tanpa kesengajaan, waktu kembali mempertemukan mereka setelah bertahun-tahun terpisah jarak kenangan. Cerita fiktif dari coretan-coretan absurd autho...
