Bagian 48 (End)

13.7K 422 32
                                        

Nada memijakkan kakinya di sebuah tanah basah yang dipenuhi rerumputan rapi yang tampak sering dipangkas. Ratusan bebatuan yang sama bentuknya menjulang dan berjajar rapi di atas tanah tersebut. Terdapat bunga-bunga kamboja dan bebungaan yang masih basah di depan batu tersebut. Aroma embun di pagi hari ditambah hawa yang masih dingin karena hujan deras subuh tadi semakin membuat suasana kian mencekam. Padahal sekarang hari sudah beranjak pagi, dan matahari pun sudah memancarkan sinarnya di balik awan.

"Kak, kita ngapain sih ke makam pagi-pagi gini?" tanya Nada memprotes. Ia menggigil kedinginan, eh tidak, lebih tepatnya ia merinding disko karena menapakkan kakinya di tempat angker seperti ini. Baru pertama kali ia mengunjungi tempat tersebut di kota Jogja. Tanah pekuburan ini memang sedikit berbeda dengan kuburan pada umumnya karena pekuburan yang mereka datangi pagi ini adalah taman makam pahlawan. Mau apa sih Pandu mengajaknya kesini? Pacaran kah?

"Kak?" panggilnya. Pandu tak menggubris pertanyaan gadisnya.  Ia terus menggandeng erat tangan kekasihnya dan berjalan ke suatu tempat, entah kemana.

Tiba-tiba langkah kaki Pandu terhenti di depan sebuah makam. Ia berlutut lalu meletakkan sebuket bunga mawar yang tadi di belinya di atas nisan makam tersebut.

Nada yang sedari tadi memandangi kekasihnya bingung, lantas mengalihkan pandangannya ke arah makam yang mereka kunjungi tersebut. Kedua matanya membulat tatkala membaca sebaris nama yang terukir di batu nisan tersebut.

Lettu Anumerta Inf Pandu Arifin Ilham

"Ini...m-makam...siapa?" tanyanya shock.

Pandu melirik gadisnya yang nampak shock. Ia lalu berdiri dan tersenyum ke arah gadisnya.

"Makamku," ucap Pandu. Pandangannya tak lepas dari wajah cantik gadisnya.

"Hah? Maksudnya Kak?" tanya Nada bingung. Ya, kali ini ia benar-benar bingung, plus takut.

Pandu menghela nafasnya. Ia lalu menggenggam kedua tangan gadisnya.

"Kamu ingat, kejadian yang menimpaku saat tugas di Sumba beberapa tahun yang lalu?" tanya Pandu. Kedua mata tegasnya menatap mesra gadisnya.

Nada tampak berpikir-pikir. Wajar lah, ia baru saja sembuh dari amnesianya.

"Sementara prajurit Angkatan Darat bernama Letda Pandu Arifin Ilham yang tempo hari dinyatakan menghilang dalam misi tersebut, kini dinyatakan meninggal dunia. Pihak TNI, kepolisian serta tim SAR telah menemukan bukti di hutan tempat misi tersebut dilaksanakan–"

Tiba-tiba memori tentang kabar kematian Pandu terekam di otaknya. Ya, dia mengingat jelas saat telinganya menangkap suara berita di depan ruang guru sekolahnya yang dulu.

Nada menunduk. Entah mengapa ia merasa sedih saat mengingat hal itu lagi. Pandu lalu mengangkat wajah gadisnya pelan.

Nada lantas memandangi wajah kekasihnya yang nyata. Ya, kekasihnya masih hidup, ia sedang mendampinginya saat ini. Rekaman di pikirannya itu hanyalah kenangan pahit di masa lalu.

"Iya Kak, aku ingat." Nada menjawab pertanyaan kekasihnya. Pandu tersenyum.

"Apa yang berada di dalam sana, Kak?" tanyanya bingung. Jika sosok Pandu sedang berdiri di sampingnya kini, lalu yang di dalam tumpukan tanah itu siapa?

"Seragamku, sepatuku," jawab Pandu.

"Dan... Sapu tanganku." lanjutnya.

Nada mengangkat sebelah alisnya, bingung.

Sesaat kemudian, Pandu mulai menceritakan semuanya. Tentang dirinya yang tercebur ke dalam sungai, lalu berhasil naik lagi ke daratan, tentang nenek yang menolongnya, tentang seragam dan kalungnya yang sengaja ditinggal di hutan demi keamanannya, dan lain sebagainya.

Disappeared Memory (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang