Bagian 32

7.1K 393 12
                                        

"Cewek lo ya, Bro?" suara berat ala-ala Lettu Eka mengejutkan Pandu yang baru saja selesai menelepon Nada.

Pandu menoleh ke arah suara di sampingnya.

"Astagfirullah! Kamu ini, ngagetin aku aja!"

Eka tertawa renyah melihat keterkejutan kawan karibnya.

"Hahaha, habisnya lo terlalu asyik telponan sama cewek lo, Bro!" ujarnya.

Pandu diam tak bergeming. Sementara Eka masih terus menertawakannya.

Cewek? Ah, harus bilang apa aku ke dia? Apa sekarang sudah saatnya kuceritakan soal kedekatanku dengan gadis lamaku? Batin Pandu.

"Woi! Bengong melulu!" tegurnya. Lalu tertawa lagi.

"Emang yang tadi itu beneran cewek lo? Gila ya, baru aja kembali ke dunia eh udah nemu cewek baru. Ckckck..." ujar Eka geleng-geleng kepala.

Padahal, jauh dalam hatinya, dia merasa sakit saat melihat kawan karibnya begitu lembut dan mesra ketika menelpon seseorang barusan. Hati kecilnya terus bertanya, siapa gerangan orang beruntung yang ditelpon pria itu tadi.

Ya, diam-diam Eka menaksir kawan karibnya sendiri, yakni Pandu. Hmm, mungkin karena keakraban mereka sejak dulu menjadi taruna kali ya? Entahlah. Yang jelas, rasa itu sungguh nyata. Eka juga tak mau repot-repot menipu perasaannya sendiri. Dia sadar bahwa dia jatuh cinta pada pria tampan itu.

"Sembarangan lo kalau ngomong!" tukas Pandu.

"Em... Gue mau cerita sama lo, Ka." ujar Pandu bernada serius.

"Apa?" tanya Eka penasaran.

"Sebenarnya... Yang tadi gue telpon itu pacar lama gue, Nada." jawab Pandu.

Eka terdiam. Ia menunggu Pandu meneruskan ceritanya tanpa bertanya terlebih dahulu.

"Lo masih inget kan sama dia? Cewek yang selama setahun pisah sama gue setelah kejadian gue ngilang di hutan Sumba." lanjutnya.

"Oh, terus gimana kabarnya sekarang?" tanya Eka sok peduli.

"Dia... Masih seperti dulu. Baik, ceria, tapi sayangnya... Dia gak ngenalin gue sebagai pacarnya dulu." jawab Pandu lirih.

"Lho kok bisa?" tanya Eka kaget.

"Iya, ternyata waktu tahu kabar gue ilang dan waktu itu dinyatakan meninggal sama orang-orang, dia kecelakaan. Setelah itu, dia kena amnesia. Tapi, nggak sepenuhnya ingatan dia hilang. Dia cuma nggak inget sama apapun yang terjadi di masa lalunya. Apapun yang terjadi sebelum kecelakaan itu menimpanya," jelas Pandu.

Eka ikut merasakan kesedihan mendalam yang nampak di raut wajah tampan milik Pandu.

"Tapi, ternyata Tuhan mempertemukan kami kembali waktu itu. Waktu dia dan papanya pindah ke asrama di Jogja, papanya minta gue jadi ajudan pribadinya. Tapi setelah sekian lama, akhirnya beliau minta gue jadi ajudan putrinya. Katanya, Nada lebih butuh gue daripada beliau. Dan kesempatan itu gak gue sia-siain sampe sekarang, Ka." ujar Pandu. Eka diam tak bergeming.

"Gue gak maksa dia buat inget gue, dan inget tentang masa lalu gue sama dia. Tapi, gue bakal bikin dia sadar dan bangun dari amnesianya itu. Gue bakal buat dia inget lagi sama gue, secara perlahan. Gue percaya, seiring berjalannya waktu, Nada pasti bisa kembali dengan dirinya yang dulu." lanjutnya.

"Oh, gitu ya? Semangat deh, Bro! Lo emang harus manfaatin kesempatan lo sama dia. Ambil lagi hatinya, gue yakin meskipun dia udah hapus nama lo di otaknya, tapi dia masih nyimpen nama lo di hatinya." ujar Eka menyemangati. Mereka tersenyum lalu saling memandang satu sama lain.

Disappeared Memory (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang