G R I S E L D A
"Jadi peraturannya sederhana," wanita itu kembali bersandar di kursinya. "Kita tahu tidak setiap hari ada pernikahan, jadi kalian juga tidak setiap hari perlu datang kesini. Dengan itu maksduku kalian hanya bekerja dan dibayar apabila ada pernikahan."
Nina menoleh ke arahku. Kurasa kami berdua yakin kalau uang yang akan kami terima apabila bekerja disini terlalu sedikit. Tapi, untuk bekerja di hari-hari tertentu saja dan hanya sekitar 5 jam, kurasa mereka membayar cukup banyak.
"Kalian boleh menolak panggilan tiga kali. Misalnya ada suatu acara lain yang bertepatan dengan itu. Apabila di panggilan keempat kalian menolak, kalian tidak boleh lagi bekerja dengan kami. Dan karena kalian melamar berdua, apabila salah satu dari kalian tidak datang, aku tidak akan membayar keduanya," jelas Mrs. Cureton, manajer acara di hotel bintang lima Peninsula. Oh, dan untuk catatannya, ini pertama kalinya aku datang ke hotel mewah tanpa Harry sebagai alasannya.
"Kenapa?"
"Pelayanan kami mewah. Pelayan tidak mondar mandir begitu saja. Utamanya saat menghidangkan makanan. Di kedua sisi meja prasmanan, ada pelayan yang mengangkat papan saji. Dengan itu, kami butuh jumlah genap dan tidak bisa merisikokan pelayanan kami jadi berantakan hanya karena kalian tidak hadir. Apa ada pertanyaan?"
"Apa kami membutuhkan latihan khusus untuk pelayanan mewah itu?" Tanyaku dan bayanganku malah membentuk formasiu marching band.
"Tentu saja. Biasanya tiga hari sebelum acara pernikahannya."
"Wow," Nina mendesah. "Itu sangat canggih."
"Jika kalian sungguh-sungguh aku akan catat nama kalian, jika tidak, maaf aku sibuk."
Aku dan Nina menoleh satu sama lain. Ini dia, kami harus berpikir cepat dan justru karena itu, kami tidak berpikir lagi sebelum menganggukkan kepala dan berjabatan tangan dengan Mrs. Cureton. Ia langsung berdiri, mengatakan ia menantikan kami dalam waktu dekat dan pertemuan super singkat itu telah berakhir setelah ia pergi meninggalkan kami.
"Dia sangat sibuk," Nina mengangkat kedua alisnya sambil menggelengkan kepala selagi kami berjalan keluar dari hotel itu. "Tapi sebenarnya Gris, aku tidak sabar untuk bekerja. Maksudku, bekerja di Fiona's bisa dibilang menganggur."
"Kau tidak perna kena shift siang. Shift lumayan ramai."
Nina tidak menggubrisku, "ngomong-ngomong bukannya kita seharusnya mendapat gaji terakhir?"
"Tepat sekali," sahutku. "Karena kita tidak bekerja makanya Fiona tidak menggaji kita."
"Whatever," Nina memutar matanya dan aku tertawa karenanya.
***
Beberapa hari kemudian aku dan Nina kembali bertemu dengan Courtney dan membahas beberapa rumah di Long Beach. Kami tidak benar-benar pergi kesana, tapi ia memiliki beberapa media yang bagus untuk memberikan kami gambaran yang cukup. Seusai dari sana Nina kembali mendesak pertemuan yang lainnya dan sejujurnya, aku sudah mulai kehabisan pertanyaan yang ingin kulontarkan di sesi berikutnya untuk membuat pertemuan kami semakin lancar.
Teleponku berdering tepat setelah aku berpisah dengan Nina yang sedang mengejar skripsinya. Oh, ngomong-ngomong aku sangat bangga dengannya karena sebuah penerbit menemukan bakat menulisnya di fanfiction.net. Tebak siapa idolanya? Drake. Jadi, ia harus membagi waktu untuk banyak; kuliah, menulis, bekerja, dan berpura-bura menjadi orang kaya untuk membantuku. Dari mana imajinasinya berasal selama ini sudah jelas kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Escort [Harry Styles]
FanfictionWhen you got paid just to accompany a young, handsome, and rich businessman. ------- Completed // Written in Bahasa WARNINGS | Sexual Content | Strong Language | Use of Alcohol | Violence copyright © 2016-2018 livelifeloveluke. All rights reserved.
![Escort [Harry Styles]](https://img.wattpad.com/cover/70546017-64-k734277.jpg)