A/N: Double update. Make sure you've already read the previous chapter 31 (Being Honest).
"Monsters are real, and ghosts are real, too. They live inside us. And sometime they win."
- Stephen King
G R I S E L D A
Berhenti memikirkannya. Berhenti memikirkannya. Berhenti memikirkannya.
Bayangan Harry dengan gadis itu tidak kunjung-kunjung pergi. Bahkan tidak sampai satu detik aku melihat mereka dan aku terus memutar rekamannya bagaikan aku melihat mereka selama berjam-jam.
Kenapa Harry? Kenapa?
Semuanya lebih jelas bahwa aku tidak berarti sama sekali baginya. Bahkan, dia melakukannya di kamarku. Seolah ia yakin aku tidak akan kembali. Apa ia memikirkanku? God! Aku merindukannya dan aku sangat merindukannya selama aku pergi. Kenapa aku begitu bodoh? Ia bisa mendapatkan gadis manapun yang ia mau, dia tidak akan memilihku.
Apa dia memikirkanku? Apa dia merindukanku ketika aku pergi? Apa ia peduli? Setiap suara yang kudengar meneriakkan kata tidak. Apakah itu Ivy? Dia bilang dia membenci Ivy! Dia berbohong padaku! Apakah tadi benar-benar Ivy? God! Aku membenci Ivy! Aku membenci Harry! Aku meneriakki diriku dalam hati, dan aku mulai membenci diriku. Why am I falling for him anyway? Am I falling for him?
Mom adalah satu-satunya yang kujadikan kekuatanku pada saat-saat seperti ini. Entah bagaimana, tiba-tina aku teringat perkataannya tentang apartemen lamaku yang sekarang sudah dibuka kembali. Dan aku tahu, kesanalah aku akan pergi. Walaupun aku terus menangis seperti remaja dan Carter tak henti-hentinya mengecek keadaanku melalui kaca sepion, aku lega ia tidak banyak bicara.
"Terima kasih banyak," kataku pada Carter saat ia sudah berhenti di depan bangunan apartemen lamaku yang sekarang tampak dua kali lebih baik dari sebelumnya. Ia ikut turun dari mobil untuk membawakan koperku ku pintu masuk. Ia sangat baik. Terlalu baik.
"Selalu. Kau yakin kau baik-baik saja?"
"Ya , Carter," jawabku sambil mengelap air mata yang tampaknya tak kunjung habis. "Ngomong-ngomong, ini perpisahan. Aku mungkin tidak akan pernah melihatmu lagi."
"Senang mengenalmu, Miss Breston. Kau adalah wanita yang sangat manis," ucapnya dan itu membuatku tersenyum.
"Terima kasih. Dan kau pria yang baik," balasku. "Bolehkah aku minta tolong?"
"Tentu."
"Jangan katakan pada Harry bahwa kau mengantarku kesini."
Ia diam sejenak dan mengatakan oke. Aku lega ia tidak bertanya dan mengetahui batasannya. Hubungan kami bukanlah urusannya. Setelah itu, ia pergi dan aku mengurus administrasiku di apartemen itu dengan mata yang merah.
***
Aku tidak tahu bahwa hal yang benar-benar kubutuhkan dari semalam adalah tidur. Ranjang apartemen ini diganti dengan matras yang dua kali lebih empuk. Tapi sayangnya, itu tidak membuatku merasa lebih baik.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa tidak ada yang perlu dikerjakan. Aku hanya berbaring dan itu saja. Aku menatapi langit-langit, sesekali melirik ke arah jam yang menunjukkan hari sudah semakin siang. Batinku terus bertanya-tanya; kenapa? Terkadang, setiap kali aku berkedip, aku merasa seperti air akan meluap dari kantung mataku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Escort [Harry Styles]
Fiksi PenggemarWhen you got paid just to accompany a young, handsome, and rich businessman. ------- Completed // Written in Bahasa WARNINGS | Sexual Content | Strong Language | Use of Alcohol | Violence copyright © 2016-2018 livelifeloveluke. All rights reserved.
![Escort [Harry Styles]](https://img.wattpad.com/cover/70546017-64-k734277.jpg)