Kedua

12K 990 11
                                        

SEPASANG mata lebar dan bening berwarna hijau bergerak ke kanan dan kiri mengikuti arah obyek yang sedang ia amati. Obyek itu tidak lain dan tidak bukan adalah Mandy, sahabatnya.

Mandy bergerak gelisah bolak balik sambil mengumpat seperti jalang. Ia sedang kesal dengan masalah yang menimpa keluarganya belakangan ini. Ibu tirinya yang masih muda belia bersikap aneh.

Usia ibu tirinya hanya terpaut sepuluh tahun dengannya. Tubuh wanita itu masih menggiurkan dan Mandy tidak peduli. Yang penting adalah kebahagiaan ayahnya. Lagi pula ibu tirinya cukup beradab untuk mendekatkan diri padanya.

Tapi belakangan ini wanita itu jarang berada di rumah, terlebih ketika ayah Mandy bertugas di luar kota. Bisa dipastikan wanita itu menghilang sepanjang hari bahkan tidak pulang.

Apakah akhirnya si wanita muda itu mengkhianati cinta ayahnya? Well, ayah Mandy bukan pria muda yang memiliki otot keras. Dia berusia awal lima puluhan, semburat putih keperakan mewarnai rambutnya yang sudah tua. Walau tinggi, tapi ayahnya tidak bisa dibandingkan dengan kekasih gelap ibu tirinya. Paling tidak Mandy mencurigai seorang pria sebagai kekasih gelap ibu tirinya.

Kedua tangan Mandy berada di pinggang, ia menggigit bibirnya, dan alisnya bertaut. Itu adalah pose ketika seorang Mandy MacGrew berpikir keras. Sejumput rambutnya masih terikat indah di puncak kepalanya menyisakan banyak rambut tergerai di sekitar pundaknya.

"Aku yakin, pria itu adalah kekasih Diana." ia menggerutu hal yang sama selama lima menit belakangan ini dan si mata hijau hanya menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menelungkup di atas kasur. Rok pendeknya tersingkap hingga paha mulusnya terlihat, sementara kaos kaki setinggi lutut masih terpasang sempurna, namun ia tidak peduli. Di kamar itu hanya ada mereka berdua.

Mereka masih menggunakan seragam sekolah lengkap dengan dasi yang sudah tidak berbentuk tersampir di lehernya.

"Kau sudah mengatakan itu berulangkali. Ada hal lain yang ingin kau katakan?" untuk pertamakalinya suara lembut itu terdengar setelah belasan kata kotor terlontar dari mulut Mandy.

"Aku yakin pria muda tampan itu adalah selingkuhan Diana dan menyebabkan ibu tiriku tidak pulang ketika Papa di luar kota." ia mengatakan dengan penuh semangat, campuran antara kebencian ketika menyebutkan nama Diana dan sorot mata memuja ketika menyebutkan si pria muda tampan.

"Yah, itu sama saja hanya dalam versi yang lebih panjang." kata sahabatnya dengan santai.
"Kau ingin aku mengatakan apa, Gina? Ibu tiriku berselingkuh, menurutmu aku harus bereaksi seperti apa?"

Gina si mata hijau, rambutnya berwarna coklat kemerahan. Tulang pipinya tidak menonjol dan selalu ada semburat merah disana walau gadis itu tidak sedang tersipu malu. Rona merah itu seringkali membuat Mandy iri.

Bibirnya selalu terlihat merah dan basah, berulangkali Mandy mendesak Gina untuk mengungkapkan rahasia agar bibirnya terus mempesona seperti itu namun tidak ada jawaban selain, bibirku sudah seperti ini sejak lahir. Dan hal itu membuat Mandy menuduh Tuhan tidak adil.

Gina bangkit dari ranjang empuk Mandy, mengabaikan rok yang tersingkap ia duduk di tepi ranjang sambil menumpangkan salah satu kakinya di kaki yang lain.

"Baiklah. Ibu tirimu berselingkuh itu adalah fakta sekaligus masalah. Yang bisa kau lakukan adalah mengadukannya pada ayahmu atau memisahkan ibu tirimu dari pria itu."

"Mengadu pada Papa? Kedengarannya menarik, Papa akan menceraikan wanita itu dan melemparnya ke jalanan." Mandy menyeringai jahat.

"Tidak semudah itu, Sayang. Pertama, seperti yang selalu kau katakan, Papamu mencintai Diana. Ketika ia tahu bahwa wabita itu mengkhianatinya maka Papamu akan patah hati kemudian terpuruk di usianya yang sudah tidak lagi muda. Lalu ingat, perceraian bukan perkara mudah di negara kita, Papamu bisa saja dibuat bangkrut oleh tuntutan harta gono-gini dari Diana."

CastleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang