Kelima

8.9K 771 14
                                        

GINA tidak banyak komentar ketika Mandy membawanya ke sebuah toko perlengkapan digital yang letaknya agak tersembunyi. Terlihat berbagai jenis kamera dan alat-alat asing yang tidak ia kenali.

Seorang pria berperawakan sedikit gemuk dengan cambang lebat tidak beraturan berdiri dari balik etalase dengan sorot mata skeptis ketika melihat dua pelajar berseragam dari sekolah ternama memasuki tokonya.

Pria sialan itu baru saja membuka mulutnya hendak berceramah panjang lebar mengenai apa yang dilakukan dua siswi berkeliaran pada jam sekolah bertepatan dengan Mandy yang menghempaskan setumpuk uang di atas etalase.

Kelopak mata pria itu turun, menatap apa yang ada dibalik telapak tangan Mandy dan akhirnya ia bersedia bekerja sama.

"Apa yang Anda butuhkan, madam? " tanya pria itu riang.

Pertanyaan itu menarik perhatian Gina yang sedari tadi mengagumi isi ruangan sempit itu. Ya, apa yang Mandy butuhkan di tempat ini?

Ia berdiri di samping tubuh Mandy, ia sama menantinya dengan pria itu.

"Aku butuh peralatan super canggih yang sangat kecil ukurannya." cetus Mandy.
"Peralatan mengintai." sahut pria itu.
"Sesuatu seperti itu, yang jelas aku ingin alat itu bisa disembunyikan dengan mudah dan tidak terduga." kata Mandy lebih lanjut.

Gina menarik siku Mandy perlahan, "Untuk apa kita membeli semua ini?"
"Sudah lama aku ingin seperti ini, aku tidak percaya akhirnya aku dapat mewujudkannya, bermain mata-mata." jawab Mandy penuh antusias.

"Disini, Nona-nona!" pria itu menyela, ia sudah berdiri di sudut ruangan dengan sekotak penuh peralatan yang terlihat aneh. Mandy dan Gina melangkah menuju etalase itu dengan alis bertaut bingung.

Menanggapi air muka tidak senang Mandy, pria itu buru-buru menjelaskan.
"Aku punya perangkat super kecil yang bisa disamarkan dalam bentuk apapun. Kalau aku boleh tahu, kalian akan menggunakan kostum apa untuk menyamar?"

Mandy menatap pria itu skeptis dan waspada.
"Mengapa kau harus tahu?"
Pria itu memutar bola matanya, "Karena alat-alat ini akan disesuaikan dengan kostum yang kalian gunakan sehingga tak seorang pun kecuali kalian akan menyadarinya."

Mandy mengangguk setuju, "tentu saja. Kami akan menggunakan gaun pesta terbuka yang sangat seksi, menurutmu bagaimana alat-alat ini bisa disamarkan?"

"Bisa saja," pria itu menjawab dengan keyakinan penuh. "Kalian akan menggunakan perhiasan imitasi yang bagian dalamnya telah disesuaikan. Aku akan menanam alat-alat ini ke dalamnya. Sekarang katakan, apa kalian butuh alat berkomunikasi dua arah?"

"Ya, kami butuh itu." jawab Mandy cepat.
"Aku akan menanam alat ini pada giwang permata berwarna gelap, kau dapat mendengar melalui ini selama giwangmu terpasang pada tempatnya. Kemudian microphone ini akan kutanam pada kalung dengan warna senada, kau bisa berbicara melalui ini tanpa perlu mengangkatnya ke bibir. Untuk meredam suara orang lain yang tidak penting, kau bisa berpura-pura menyentuh permata kalungmu itu akan menutup akses suara. Tapi jangan mengusapnya karena pihak penerima akan merasa terganggu."

"Sempurna." Mandy memuji, "apalagi?"
"Ini adalah kamera super kecil, aku bisa mendesain pada dompet atau bros kalian. Resolusinya tidak besar namun cukup jelas. Kamera ini tidak merekam suara sehingga ia bekerja sama dengan microphone yang tadi kita sebutkan, tanpa itu kau hanya akan melihat gambar bisu."

"Lalu bagaimana aku memantau hasil rekamannya?" Mandy sungguh detil karena bertanya tiada habisnya
"Semuanya akan dipantau secara terintegrasi dari layar ini, kau bisa berkomunikasi dengan agen mata-matamu serta melihat apa yang ia tunjukan."
"Bagaimana cara menggunakannya?"

Pria itu menjelaskan sementara Mandy memperhatikan dengan sangat saksama. Gina masih seperti orang bodoh berada disana yang jelas ia tidak tertarik dengan apapun yang Mandy lakukan disini.

"Kapan aku bisa mendapatkan alat-alat ini?" tanya Mandy penuh antusias.
"Kapan kau membutuhkannya?"
"Sore ini."
"Demi Tuhan!" pria itu mengumpat, "kau Nona berdarah panas rupanya, aku akan mengerjakannya sekarang. Sekarang pilih permata yang akan kalian gunakan!"

Mandy mendorong Gina ke depan sebaran permata indah imitasi. Ia berkedip cepat karena bingung.
"Mengapa harus aku yang memilih?"
"Karena kau yang akan menggunakannya."
"Maksudmu aku yang harus masuk kesana?"
"Ya, aku akan memantaumu dari mobil."
"Tapi-"
"Sebaiknya kau pilih yang paling luwes agar tidak menarik perhatian orang lain."

Gina mengerang kesal dan dengan enggan memilih sebuah permata yang tampak nyaris hitam namun sebenarnya berwarna hijau tua seperti matanya.

"Nah, itu cocok untukmu." Mandy menoleh pada pria itu, "sore nanti utusanku kembali dengan sisa pembayarannya." kemudian ia kembali pada Gina, "Sekarang kita harus berbelanja, ayo!" ia menarik pergelangan tangan Gina keluar dari toko.

"Kenapa harus aku, sih?"
"Karena tubuhku masih anak-anak." jawab Mandy geram.

***

Kyle menatap nanar pada tubuh yang terbaring kaku di atas ranjang. Tubuh ringkih, kurus, dan pucat itu tidak bergerak sejak lama, namun sekarang tubuh itu bahkan sudah tidak bernapas.

Alih-alih menemukan mimik wajah kesakitan, Kyle justru melihat wajah yang tenang dan damai. El nyaris bisa disebut kembali cantik ketika sudah tidak lagi bernyawa.

Beberapa jam yang lalu Mannaham baru saja menginjeksikan cairan yang mengakhiri penderitaan wanita itu untuk selamanya. Ketika para pelayan melepaskan pakaian El, Kyle dapat melihat belasan mungkin lebih bekas suntikan yang menghiasi tubuh wanita itu. Miris, tentu saja, setiap cairan yang disuntikan memiliki efek menyakitkan dan sangat menyiksa. El mengalami itu lebih dari sepuluh kali.

"Apa yang akan kita lakukan dengan ini, Tuan?" tanya Fredy dari balik punggung Kyle.
Tanpa menoleh, ia menyerukan perintah pada kepala pelayan tua itu.
"Hubungi Max, dia tahu apa yang harus dilakukan." kemudian ia meninggalkan kamar El yang harus dibersihkan dari sisa-sisa El, tidak seorangpun boleh menyadari bahwa dulunya ada wanita malang yang terkurung disana.

Kyle tidak melepaskan pandangannya dari pria kasual di hadapannya. Air muka pria itu sangat tertekan, wajar saja karena ia baru melakukan eksekusi pada seorang wanita. Dengan sabar Kyle menunggu agar Mannaham nyaman dengan situasi ini sebelum akhirnya ia bicara.

"Kurasa Key siap untuk dibebaskan, kejiwaannya bisa dipastikan tidak mungkin pulih, bahkan saat ia pulih sekalipun orang akan mengira ia berhalusinasi."

"Kau yakin kita tidak terburu-buru melakukan ini? Maksudku keputusan ini bukan karena kau baru saja membunuh El, bukan? Aku tidak ingin membahayakan posisiku."

"Tentu saja, aku berani jamin. Key akan selalu seperti itu, gila dan depresi serta amnesia, jika beruntung ia bisa bertahan hidup, tapi jika tidak ia mungkin akan tewas."

"Lalu, Tea?"

"Program yang kujalankan atas Tea tergolong baru, dia menunjukan reaksi yang menakjubkan namun aku tidak cukup yakin untuk membebaskannya, mungkin satu atau dua bulan lagi."

Kyle mengangguk paham. Setelah ini ia akan mengatur perjalanan untuk mengasingkan Key ke Timur Tengah bersama dengan transaksi yang akan mereka lakukan. Key yang cantik mungkin akan diperkosa oleh para tentara perang jika ia belum mati karena menginjak ranjau disana.

Ia kembali mendongak pada Mannaham yang masih terlihat murung. Apakah pria munafik ini sungguh-sungguh bersedih karena telah melanggar kode etik kedokteran?

"Temui Jacob setelah ini, ia akan menyelesaikan pembayaranmu. Pastikan kau mendapat bonus dariku, bilang saja padanya."

Dalam sekejap air muka Mannaham kembali cerah. Tidak ada penyesalan yang tadi ia tunjukan.
"Terimakasih banyak, senang bekerja dengan Anda." ujar Mannaham seolah mereka baru saja melakukan operasi gagal ginjal dan sukses. Ia sudah lupa bahwa dirinya baru saja membunuh seorang wanita.

CastleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang