Hancur

5.2K 254 2
                                        

Minggu 09.25 WIB

Vanya terduduk lemas ditepi ranjang menatap lantai kayu kamarnya itu. Dia tersenyum tipis,  mengingat kebersamaannya dulu dengan David.

Dia kangen makan cilok bareng David. Dia kangen jalan bareng David. Namun semua hanya tinggal kenangan. David nggak bakal lagi balik ke dia.

Vanya mengangkat wajahnya sambil tertawa renyah,  semakin lama bisa gila dia disini. Hampir satu minggu dia mengunci dirinya di kamar. Hanya keluar jika hendak ke sekolah.

Dia termenung lagi, dia tidak menangis. Air matanya sudah kering. Tidak ada air mata tapi dia tetap menangis. Menangis dalam diam.

Suara gesekan pohon dan decitan besi memancing pandangannya ke arah balkon kamarnya.  Dengan penasaran dia mendekati pintu kaca balkonnya itu,  dibukanya gagang pintu. Dia berjalan pelan mencari tau suara apa itu.

"OMG bantu gue!!!" pekik suara laki-laki yang berpegangan di besi balkon.

Vanya langsung tersentak mendekati pagar  balkon memegangi tangan yang bergantungan di balkon itu. Ditariknya penuh tenaga membantu cowok itu untuk naik ke atas.

Cowok itu terjatuh di lantai balkon sambil menetralkan nafasnya. Vanya mengusap tenguknya.
Cowok itu berdiri tegak menghadap Vanya, dilepasnya masker yang menutupi wajahnya itu.

Vanya menatapnya datar sambil mengerutkan keningnya,  "Gilberth?"

Gilberth tersenyum manis sambil bergumam hai tanpa suara.

"Lo ngapain disini?" tanya Vanya masih binging.

Gilberth hanya mengangguk mengedarkan pandangannya masuk ke dalam kamar Vanya tanpa menunggu pemilik itu menyuruhnya.

Vanya melongo melihat sikap Gilberth. Dasar nggak tau diri.

"Lo ngapain sih?" Vanya masuk menatap Gilberth kesal karena sikapnya yang tidak sopan dan duduk di kaki ranjang Vanya.

Gilberth hanya tersenyum innocent kearah Vanya, "Ups,  sorry ya main masuk aja." katanya datar kembali menatap setiap sudut ruangan.

"Kamar lo lumayan juga... cuma... ya gini... berantakan kayak kandang ayam" katanya pelan menatap buku-buku dan baju-baju yang berserakan di lantai.

Gilberth terseyum simpul ke arah Vanya,  dia tau kalo Vanya sangat kesal dengan tindakan acuh Gilberth tanpa penjelasan.

"Lo ngapain kesini!? pake acara manjat balkon lagi. Lo nggak liat apa bahaya terus tinggi! " bentak Vanya melipat tangannya di dada dengan sempurna.

Gilberth hanya terkekeh, "Slowly sist.  sini duduk di depan gue, ambil tuh kursi.. " suruhnya sambil menunjuk yang tergeletak asal dekat lemari Vanya.

Vanya hanya berjalan tepat di hadapan Gilberth. Dia memang sedang hancur dan mood nya begitu jelek. tapi karena ada Gilberth yang menyebalkan itu,  dia langsung membalasnya dengan gaya angkuh.

"Lo ngapain datang-datang kayak maling trus nilai-nilai kamar gue hah?" seru Vanya kesal. dia tidak tahu apa maksud kedatangan Gilberth yang seperti ini. Kenapa tidak melewati pintu depan dan harus bersusah payah lewat balkon? jujur menurut Vanya saja balkon kamarnya itu cukup tinggi.

"Gue Terpaksa lewat Balkon tahu soalnya gue takut ada mata-mata" balas Gilberth memajukan bibirnya.

" Hah??  mata-mata apa?" tanya Vanya ragu-ragu.

Gilberth tersenyum simpul "Ada rahasia yang emang nggak perlu lo tahu,Van. kalau lo tau yang ada gawat lagi"

"Rahasia apaan sih lo kok ngomongnya dari tadi nggak jelas mulu? tanya Vanya penasaran.

Gilberth berdiri dari tempatnya memandangi dinding Vanya. "Gue suka kamar lo, sederhana tapi nyaman. Gue kangen deh suasana gini."

"Gil,  lo kenapa sih ngomong nggak ada jelasnya?"

" Gue pengen banget Van ngejelasinnya. Tapi kalau gue jelasin kasihan yang kena imbalan nanti si David. Gue nggak mau. Cukup sekarang aja dia menderita terus yang penting lo hidup deh."

" Lo ngomong apaan sih Gil? kalo lo mulai nggak jelas lagi mending lo keluar!" perintahnya mulai meninggi. dia agak tersindir saat Gilberth mengatakan David yang menderita terus. apa dia nggak lihat kalau Vanya di depannya sangat menderita?

Gilbert menatapnya begitu dalam "Sorry gak ada maksud jelek kok gue, gue kesini atas kemauan gue. Lo mau dengar cerita gue gak? Tapi janji ya nanti lo nggak boleh nyalahin diri lo sendiri." Pinta Gilberth "Please Gue nggak tega ngeliat lo sama Dave harus dipisahin kayak gini"

" Tapi ini semua yang David mau, Gil. Udah deh nggak ada yang misahin antara gue sama David"

"Sotoy deh lo, otak lo jadi beku gini sejak lo sekolah di SMA Garuda? Lo yang tahu David Masa lo nggak ada curiga sama sekali?" jengkel Gilberth sambil mengambil bangku meja belajar Vanya dan menghadapkan ke depan ranjang.

Dia duduk dibangku, "Itu lo dengerin cerita gue dulu terus jangan dipotong oke?"

Vanya dengan ragu mundur dari  tempatnya duduk di atas ranjang.
"Lo mau cerita apa sekarang?"

Gilberth menutup matanya dan menarik nafas panjang.
"Sejak lo bilang ke dia kalau lo mau pindah ke SMA Garuda, David langsung down banget. Dia kayak orang bego tau nggak, dia takut banget kehilangan lo"

Tapi sekarang dia yang meninggalkanku batin Vanya.

"David tu sayang banget sama lo tau nggak sih. Dan perlu lo tahu ya, dia emang pernah suka sama si Adela tapi dia baru pertama kalinya jatuh cinta sama cewek, itu loh, Van."

"Tapi tetep aja dia udah ninggalin gue" potong Vanya sengit, dia merasa pembicaraannya malah memamerkan kedekatan mereka.

"Dengerin dulu kali. Dia begitu karena ada alasannya."

"Iya alasannya dia udah nggak sayang sama gue." Vanya menekan suaranya.

"Bukan gitu, Van. Ini juga demi keba-" belum sempat Gilberth selesai berbicara pintu kamar Vanya diketuk pelan.

Gilberth tersentak kaget dan melihat Vanya panik, bisa gawat kalau ada yang masuk.
Dengan sigap Gilberth berdiri tapi dengan muka dan tingkah yang panik,  dia berjalan mondar-mandir sambil bergumam tanpa suara "gimana nih?!"

.
.
.
.
.
.
.
See You Next Chapter..
Don't forget to Vote & Comment.

💙💙💙

I Want You (ending) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang