David menaiki balkon begitu hati-hati. Jarak tanah untuk mencapai balkon itu tidak pendek. Sangat tinggi. Bahkan David harus mencuri tangga taman di belakang rumah Vanya untuk mencapai kamar Vanya.
Dan yang terlintas dipikirannya adalah bagaimana bisa si Gilberth naik ke balkon ini. Dengan keadaan utuh.
Ini begitu susah untuk dipanjat. Dia merasa seperti maling komplek. Belum lagi bunga yang dibawanya cukup besar dan berat. Dan tentunya bunga itu harus dibawanya sampai kedepan mata Vanya.
Dengan susah payah David menaiki balkon yang benar-benar sekali lagi ini sulit baginya.
Suara gesekan, keluhan terdengar jelas. Jantungnya berdegup kencang takut tertangkap basah oleh ketua RT pun menjadi ketakutannya sekarang.
Belum lagi kalau ada mata-matanya si bedebah itu yang menangkap basah. Bisa hancur semua tekad yang dibuat David nantinya.
Tiba-tiba dia mendengar suara gesekan pintu balkon yang terdorong.
"Siapa itu?" suara Vanya yang begitu pelan berjalan mendekati besi balkon.
Wajahnya muncul dengan kerutan yang dalam di dahinya. "Dave?" pekiknya kaget. "Kamu ngapain!!? " serunya lagi sambil mengancungkan seluling di atas kepala David.
"Jangan teriak, aku dikit lagi nyampe." ucap David kesal sambil menarik tubuhnya sendiri.
Ini keterlaluan menyusahkan. Seharusnya David rajin berolahraga dan minum LMEN bukannya Cimory.
Dengan satu kali tarikan David menjatuhkan tubuhnya ke lantai kayu balkon rumah Vanya. Lebih tepatnya di depan kamar Vanya.
David mengatur nafasnya, serasa tanganya itu ingin copot saja karena pegal yang bukan main.
"Haii.." ucap lirih David sambil masuk ke dalam kamar Vanya tanpa meminta izin.
Buketan bunga mawar itupun disodorkan ke Vanya lalu dia terhempas di atas ranjang Vanya begitu saja.
Beda dengan Vanya yang masih tercengang dan bingung dengan apa yang dilihatnya sendiri.
Vanya memperhatikan bunga mawar merah yang digenggamnya dari David. Begitu banyak mungkin 30 tangkai yang diikat begitu cantik.
David masih terlentang dengan mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.
"David rindu Vanya" ucapnya sambil mencoba mendudukan dirinya di atas ranjang.
Vanya menutup pintu balkon dan berjalan mendekat ke David.
Di tatapnya galak David sambil berkecak pinggang di depannya.
"Apa yang kamu lakukan David George Thomson?" tuduhnya langsung dengan tatapan marah.
David terkekeh dan berdiri lalu memeluk erat tubuh Vanya.
Vanya membelalakan kedua matanya. "Lepasin!!" bentak Vanya sambil memukul kepala David.
"Maaf, maafin David" suara David bergetar dan semakin memperdalam pelukannya.
Vanya tersentak dengan nada suara David. Penuh dengan penyesalan tentunya.
"Kamu ngapain disini David?" tanya lembut Vanya
"Aku kangen sama kamu. Aku memang bodoh udah lepasin kamu demi si bedebah itu!!! Aku bodoh dan aku sadar. Dan aku pengen perjuangin kamu lagi.
Vanya terdiam. Dan dia berpikir siapa yang David sebut si bedebah? Apakah itu Haikal?
"Jelasin aku apa yang udah terjadi!" itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan untuk David. Dan Vanya butuh penjelasan.
David melepaskan pelukannya dan mencium punggung tangan Vanya lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want You (ending)
Novela JuvenilHIGHEST RANKING 66 #TeenFiction (15/10/17) David George Thomson si Bad Boy, ketua tawuran, cowok yang paling hits, yang akhirnya jatuh cinta dengan si Nerd Girl, Tivanya Kintan Mahesa si cewek culun berkacamata minus yang juga adalah juniornya. Ba...
