Maaf Aku Sampai Disini

5.7K 360 4
                                        

"Kau adalah alasanku tersenyum,  namun terkadang kau juga alasanku menangis" -Vanya

Vanya masuk kedalam kamarnya setelah sedikit mencurahkan isi hatinya pada Bi Rina. Lalu dia teringat sejak pulang sekolah tadi dia sama sekali nggak memegang hpnya.

Setelah mendapatkan benda persegi panjang itu dia membuka kunci layarnya. Ada sekitar sepuluh panggilan tak terjawab dari David.

Vanya langsung menghubunginya kembali.

“Iya, Dave?”

David menggeram kesal, “Kamu darimana aja sih dari tadi?”

“Oh, aku tadi di dapur minum.” Jawab Vanya pelan. Tidak mungkin dia mengatakan habis curhat.

“Aku telefon kamu sepuluh kali tapi nggak diangkat.” gerutunya.

Vanya menghela nafasnya, dia beringsut duduk di bawah ranjangnya lalu menekuk kakinya,

“Sorry.” Katanya penuh penyesalan.

“Aku nungguin kamu enam jam. Enam jam!” David semakin menekan suaranya.

Mungkin sekitar empat jam Vanya baru pulang sekolah, dan dua jamnya dia gunakan untuk curhat dengan Bi Rina.

“Kamu kenapa sih bentak-bentak aku?”

“Kamu nggak tau seberapa khawatirnya aku tadi!”

“Tapi kan aku udah minta maaf.”

David terdiam sesaat.

“Aku nggak apa-apa kamu lebih milih jemput Adela di tempat masa lalu kalian, aku nggak apa-apa kamu temenin dia sementara aku yakin kalo di rumah sakit dia pasti mendapat pengawasan yang baik dari dokter dan suster. Tapi aku udah pernah bilang aku nggak suka dibentak-bentak kayak gini, cuma gara-gara hal sepeleh.”

“Ini bukan hal sepeleh!”

“Jadi menurut kamu hal yang sepeleh itu gimana? Ninggalin aku di sekolah padahal kamu sendiri yang janji kalo kita bakal pulang bareng. Taunya? Malah kamu yang ingkar. Aku baik-baik saja, aku juga nggak bakal seegois itu dengan minta kamu jemput aku sementara Adela lagi sakit.”

“Kamu apa-apaan sih?! Kok ngomongnya ngelantur kesana-kesini.”

Vanya mendadak ingin menangis. Dia mendesah pelan, “Aku nyusahin ya?”

“Apa?!”

“Kamu pasti capekkan sama hubungan kita?”

“Nggak! Kamu ngomong apa sih?”

“Kamu pasti capekkan ngadepin aku?”

“Kamu kenapa sih?”

“Aku ngerasa kamu masih suka sama Adela.”

“Aku nggak ada apapun sama Adela.” Jelasnya dengan nada yang sengaja ditahan.

“Adela butuh kamu, kamu juga butuh Adela kan?”

“Aku butuhnya kamu, Van.”.

“Kalau kita putus, kamu sama Adela pasti bakal balikan kan?”

Nggak!”

“Cepat atau lambat kita juga bakal putus, sekarang atau nanti itu nggak ada bedanya.”

“Kalo kamu ada masalah ya cerita!”

“Aku capek.”

David tidak bergeming.

“Kita berhenti aja ya, aku tau kok kamu masih cinta sama Adela. Aku merasa aneh aja setelah Adela datang ke kita, dan kamu malah lebih milih dia kan?” ujarnya. “Pacaran itu bukan Cuma jalan bareng, pulang bareng, kemana-mana bareng, nggak kayak gitu. Nggak sesimple itu.”

Jadi kamu maunya gimana sekarang?”

“Kita udahan aja.”

David mengela nafasnya. “Bercanda kan?”

“Aku serius kok. Aku sadar kamu bahagianya bukan sama aku, tapi sama dia. Jadi biar aku yang mundur.”

David berkata parau, “Van, aku nggak mau put-"
“Kita putus, Dave. PUTUS!”

“Denger ya, Van. Aku sama Adela nggak pacaran dan nggak akan pernah.”

Vanya menghela nafas, “Kita putus.”

David menggeram kesal karena Vanya tidak mau mendengarnya “Aku nggak mau putus.”

“Aku udah nggak bisa, Dave.”

“Denger dulu.”

“Maaf ya Dave. Karena aku jadi penghalang kamu sama Adela. Tapi sekarang kamu bebas kok. Lupain aja kalo kita pernah pacaran.. Makasih untuk tanggal 05-11-17 yang indah itu. Makasih untuk lima bulan yang indah. Mulai detik ini juga aku nggak bakal ganggu hidup kamu lagi.”

KLIK

.
.
.
.
.
.
WHAT!!!!  PUTUS??
Yang bener dong Van?
Baru aja jadian😧

Jangan lupa tinggalin bintangnya yah... 🌸🌸🌸🌸

I Want You (ending) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang