Ujian Allah subhanahu wata'ala itu ada dua macam, yakni ujian berupa kesenangan atau nikmat dan ujian berupa kesengsaraan atau penderitaan. Akan tetapi pada kenyataanya, banyak orang yang menganggap bahwa yang dimaksud ujian adalah hal-hal yang tidak mengenakkan, dan mereka tidak menyebut nikmat yang Alloh berikan sebagai ujian. Akibatnya, banyak orang yang bisa bertahan dan sabar ketika penderitaan dan kesengsaraan datang, akan tetapi ketika kenikmatan dan kesenangan datang, mereka lupa diri.
Ada kisah menarik yang bisa kita jadikan ilustrasi bahwa manusia terkadang tidak bisa tahan dengan ujian kenikmatan.
Dikisahkan ada seekor monyet berada di atas pohon yang tinggi. Kemudian ada 3 jenis angin yang berusaha menjatuhkan monyet tersebut dari atas pohon. Mereka ingin menunjukan kebolehan mereka, kira-kira siapa diantara tiga jenis angin tersebut yang mampu menjatuhkan si monyet.
Angin yang pertama adalah angin topan. Dia dengan sombong mengatakan bahwa hanya membutuhkan waktu 45 menit, dia bisa menjatuhkan si monyet. Kemudian temannya, angin tornado tidak mau kalah. Dia mengatakan dengan jumawa bahwa dia bisa menjatuhkan si monyet hanya dalam waktu 30 menit. Dan tak ketinggalan angin puting beliung menimpali bahwa dia bisamenjatuhkan si monyet dalam waktu 15 detik.
Pada akhirnya, ketiga angin tersebut maju satu persatu untuk menjatuhkan si monyet yang sedang asyik bergelantungan di atas pohon.
Yang pertama maju adalah angin topan. Angin topan mencoba meniup dengan tiupan yang paling kencang. Si monyet yang sadar bahwa dia bisa jatuh karena angin yang berhembus keras, segera berpegangan dengan kuat. Beberapa menit berlalu dan si monyet masih bertahan di atas pohon. Angin topan menyerah.
Kemudian yang selanjutnya angin tornado. Dia mencoba meniup lebih kencang dari topan, tapi lagi-lagi si monyet mampu bertahan. Bahkan pegangan kedua tangannya semakin kuat pada batang pohon tersebut. Angin tornado juga menyerah, dan yang terakhir angin puting beliung mencoba melakukan gerakan memutar supaya si monyet tersedot.
Tetapi lagi-lagi si monyet masih bisa bertahan dan tak mampu dijatuhkan. Ketiga angin itu pada akhirnya mengakui bahwa mereka tidak bisa menjatuhkan si monyet. Si monyet memang jagoan dan tangguh.
Tak lama kemudian datang angin sepoi-sepoi. Dia dengan percaya diri mengatakan ingin ikut menjatuhkan si monyet dari pohon. Keinginan si angin sepoi-sepoi ditertawakan oleh ketiga angin tadi. Mereka mengatakan bahwa angin yang besar dan hembusannya kuat saja tidak bisa menjatuhkan si monyet, apalagi angin sepoi-sepoi yang hembusannya lembut dan lemah.
Tanpa mempedulikan ejekan teman-temannya, si angin sepoi-sepoi langsung beraksi. Dia meniup ubun-ubun si monyet dengan perlahan. Jelas si monyet merasa nyaman dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Tak menunggu lama si monyet ketiduran dan lepaslah pegangannya sehingga dia terjatuh.
Dari kisah fiktif ini kita bisa mengambil pelajaran yang berharga. Tiga angin yang pertama kita umpamakan musibah dan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam kehidupan kita. Dan angin sepoi-sepoi kita umpamakan hal-hal yang terasa nikmat dalam hidup kita. Dan terkadang kita bisa sabar terhadap ujian kesengsaraan, tapi kita banyak yang lupa diri ketika kenikmatan menghampiri.
Boleh jadi kita sering diuji dengan kesusahan dan penderitaan. Semakin kuat penderitaan itu semakin kuat kita bertahan. Tapi jika diuji dengan kenikmatan,dan kelimpahan kita jatuh. Jatuh dalam sikap yang tercela,seperti sombong, bangga diri dan lupa bersyukur kepada Alloh sebagai pemberi nikmat.
Hal ini pernah terjadi pada kisah seorang lelaki yang lupa diri, yang kisahnya diabadikan di dalam Alquran. Qarun. Konon, lelaki yang masih kerabat Nabi Musa alaihi salam ini hidup dalam kemiskinan ekstrim dan dia tetap tabah dengan kemiskinannya. Tetapi ketika harta dan kekayaan mendatanginya, sejengkal demi sejengkal dia mulai lupa diri. Lupa tentang hakikat dirinya. Lupa tentang hakikat harta yang dia miliki. Hingga pada akhirnya, kita memahami bahwa seringkali ujian kesenangan jauh lebih membahayakan dibandingkan ujian kesengsaraan.
Jangan sampai kita terlena. Tetaplah rendah hati dan mawas diri.
Semoga bermanfaat
KAMU SEDANG MEMBACA
Renungan Kehidupan
SpiritualTim Author @Jawara_Indonesia --- Memungut potongan-potongan makna yang berserak dari kehidupan. Melukis cinta dari berbagai kisah dan perenungan yang mendalam. Menggugah nurani dan inspirasi
