Jangan Tergesa-gesa

313 18 0
                                        

Di era milenial sekarang ini, manusia semakin terjangkit sifat tercela, yakni sifat tergesa-gesa. Seseorang akan begitu mudah menghakimi orang lain hanya dari broadcast atau pesan berantai yang belum jelas kebenarannya. Orang juga tergesa-gesa mengklik tombol share satu berita atau informasi tanpa menelitinya. Bahkan baru membaca judulnya saja sudah membuat kesimpulan. Nah tentunya hal ini harus kita hindari. Karena sifat tergesa-gesa bisa membuat kita menyesal.

Berkaitan dengan bahaya sikap tergesa-gesa ini, ada kisah menarik yang bagus untuk kita jadikan pelajaran. Kisah ini dikisahkan oleh Imam al-Hasan al Bashri dan tercantum di dalam kitab adabul mufrad Imam Bukhori rahimahullah

Disebutkan bahwa ada seorang pria yang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak lelaki yang sudah menginjak dewasa dan seorang budak perempuan. Kemudian dia berwasiat. Isi wasiatnya dia menyerahkan atau mewariskan budak tersebut untuk anak lelakinya.

Budak perempuan itu masih muda dan giat dalam bekerja. Ia merawat tuannya dan juga melayani kebutuhan anak tuannya. Karena hal itulah akhirnya anak tuannya itu menyukai budak warisan ayahnya itu. Kemudian dia menikahinya.

Kemudian sahabat hijrah, suatu hari si pemuda itu berniat untuk menuntut ilmu. Dia bermaksud untuk mendatangi seorang alim di kota tetangga. Dia pun meninggalkan budak yang sudah menjadi istrinya itu.

Diantara hal yang menjadi wasiat gurunya kepada pemuda itu adalah nasihat untuk tidak terburu-buru ketika bertindak atau menilai sesuatu.

Gurunya berkata kepada si pemuda,

اتق الله، واصبر ولا تستعجل

Bertakwalah kepada Allah, sabarlah dan jangan engkau terburu -buru".

Si pemuda tidak pernah melupakan tiga nasihat itu. Pertama, bertakwa, kedua sabar dan ketiga tidak terburu-buru.

Hingga pada akhirnya si pemuda pulang kembali ke rumahnya. Ketika dia pulang dia menemukan ada seorang pria asing yang sedang beristirahat di samping istrinya yang dulu bekas budak ayahnya itu. Istrinya juga ikut tidur lelap di samping pria asing itu.

Pemuda itu marah dan dia berkata kepada dirinya sendiri, "Saya tidak sabar menunggu untuk membunuhnya".

Dia lalu kembali ke kendaraannya mengambil pedang. Ketika akan mengambil pedang, dia teringat nasehat gurunya untuk bertakwa, bersabar dan tidak terburu-buru.

Dia pun kembali masuk ke dalam rumah, tapi rasa marah kembali menguasi hatinya sehingga dia kembali untuk mengambil pedang. Ketika dia hendak mencabut pedang dari sarungnya dia kembali mengingat nasihat gurunya untuk kedua kalinya.

Dia kembali ke rumah dan saat itulah pria asing itu bangun, begitu juga dengan istrinya. Ketika mereka melihat kedatangannya, pria asing itu langsung merangkulnya. Ternyata lelaki asing itu adalah saudara dari isri pemuda itu.

Kemudian pemuda itu berkata kepada saudara iparnya, "Aku hampir saja akan membunuhmu."

Kisah ini mengandung faidah besar untuk menjadi bahan renungan kita. Kisah ini mengingatkan kita supaya jangan tergesa-gesa ketika menilai, berpikir dan bertindak.

Kemudian, dengan bekal ilmu dan ketakwaan, seseorang akan terhindar dari kecerobohan. Sementara itu kecerobohan muncul dari sifat tergesa-gesa.

Selain itu, pelajaran lain dari kisah ini adalah jangan sampai kita memiliki ilmu hanya sekedar wacana dan kebanggaan, tapi tidak diamalkan. Ingatlah bagaimana pemuda itu mengamalkan pesan gurunya.

Oleh karena itu, mari kita jaga diri kita dari sifat tergesa-gesa dan ceroboh. Baik dalam berucap, berpikir maupun bertindak. Terutama sekali sikap tergesa-gesa ketika mendapat informasi atau berita.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Renungan KehidupanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang