Kuncinya Komunikasi

471 23 2
                                        

Memang benar, masyarakat Indonesia ini terkadang susah membedakan antara sopan santun dengan rasa sungkan. Kalau bicara blak-blakan dianggap frontal dan kurang sopan. Kalau bicara langsung ke inti dianggap gak punya attitude yang baik. Dalam tradisi Sunda saja bahasa itu harus malapah gedang, supaya tidak menyinggung orang yang bersangkutan.

Padahal, tradisi seperti ini justru membuat kita tidak bisa saling memahami satu sama lain, karena komunikasi yang terhambat.

Pun dalam urusan rumah tangga, tak perlu sungkan atau malu ketika ingin mengatakan hal-hal yang tidak kamu sukai dari pasangan sehingga antar pasangan tahu apa yang menurut pasangannya itu baik atau jelek. Karena pasangan itu cermin, harus jujur memperlihatkan apa yang tidak elok dia lihat dalam pandangan matanya.

Saya pernah membaca cerita konyol dimana ada pasangan yang mencoba berpura-pura kalau masakan istrinya enak meski keasinan. Ada lagi kisah seperti di bawah ini:

seorang pemuda yang bertemu dengan kekasih hatinya, mereka berdua jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada saat pertemuan pertama itu sang pemuda ingin dibuatkan kopi, sang wanita dengan sangat berdebar-debar ingin membuatkan kopi terenak yang dia bisa. 

Sayangnya saking gemetarannya si wanita itu tidak sadar justru menambahkan garam di kopi tersebut, alhasil kopi asin itu dia sugguhkan dengan penuh percaya diri. Ketika meminumnya sang pemuda perkata "sungguh ini adalah kopi terenak yang pernah saya minum", senang sekali hati si wanita itu.

Namun ketika sang pemuda itu pergi dan dia kembali di dapur sadarlah dia bahwa yang dia masukkan ke dalam kopi tersebut adalah garam, dalam hati dia berkata "orang yang aneh...inilkan asin. Tapi aku akan membuatkan kopi asin itu setiap hari kelak jika aku menjadi istrinya agar dia merasakan kopi istimewa sepanjang hidupnya.

Dan benar, sang pemuda itu melamar dan menikahi gadis itu, selama berpuluh tahun mereka hidup bahagia dengan secangkir kopi asin mengawali pagi harinya, sampai pada saat sang suami jatuh sakit parah, sang istri berkata "suamiku, apa yang bisa kulakukan untukmu, agar kau merasa bahagia diakhir hidupmu ?

Si suami berkata buatkan aku secangkir kopi, kemudian sang istri membuatkan secangkir kopi asin seperti biasa. Dengan tersenyum suaminnya berkata, " bahkan diakhir hidupku pun kau tetap memberiku kopi asin,tidak bisakan kau membuatkanku secangkir kopi manis ?" sang istri terkejut, dia berpikir bahwa suaminya menyukai kopi asin selama ini, dia tidak tau bahwa sebenarnya suaminya hanya meminum kopi asin itu setiap hari karena tidak ingin menyakiti hati istrinya karena dia berpikir istrinya menyukai kopi asin tersebut. 

Saat itu mereka berduasaling meminta maaf. Dan saling mengungkapkan cinta. Ketika suaminya meninggal dunia, sang istri selalu meminum kopi asin setiap hari, dan ketika ada orang yang bertanya "bagaimana rasanya?" dia selalu bilang "ini kopi paling manis".

Kalau dipikir-pikir ini kan sangat konyol. Apa susahnya bilang dengan jujur, 'Dek, kopinya kok asin ya, salah masukin garam ya?" Terus, istrinya juga, apa susahnya konfirmasi ke suaminya, "Mas, emang mas suka kopi asin?"

Makanya, menurut saya, cerita-cerita begini terkesan naif alih-alih menginspirasi.

Renungan KehidupanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang