Lentera dan Makanan Di Dalam Sumur

300 20 0
                                        

Disebutkan di dalam kitab Badru ath-Thaali' karya Imam asy-Syaukani bahwa ada seorang petani yang membangun sebuah masjid untuk shalat. Setiap malam dia mendatangi masjid dengan membawa lentera dan makan malam.

Apabila ia mendapatkan orang yang layak mendapatkan sedekah, ia pun memberikan makan malamnya. Namun bila tidak mendapati, maka ia memakannya sendiri.

Kebiasaan orang ini berlangsung, hingga suatu kali datanglah masa paceklik dan air sumur pun mengering. Ia memiliki sebuah sumur, dan tatkala air dalam sumur itu hanya sedikit, petani itu bersama anak-anaknya segera menggali sumur tersebut dengan galian yang cukup dalam. Namun di tengah proses penggalian, tiba-tiba sumur itu roboh sedangkan petani itu terkubur di dalam sumur. Sementara anak-anaknya yang saat itu berada di atas sumur selamat dari kecelakaan.

Anak-anaknya terkejut. Mereka berusaha menggali kembali timbunan tanah untuk menyelamatkan ayah mereka. Tapi tidak berhasil, mereka tidak bisa menggali kembali tanah itu.

"Sumur ini mungkin menjadi kuburan bagi ayah." Kata salah seorang anak petani tersebut.

Lalu bagaimanakah nasib si petani itu? Apakah dia meninggal karena tertimbun tanah? Ternyata petani itu masih hidup di bawah tanah. Tatkala sumur itu roboh, petani telah berada di lorong yang luas di sumur, dan di pintu lorong itu terdapat kayu yang mencegah tanah dan bebatuan yang akan menimpanya. Maka petani itupun hidup di dalam tanah dalam kegelapan yang pekat.

Keajaiban datang. Tiba-tiba lentera yang selalu dia bawa ke masjid mendatanginya. Demikian juga dengan makanan yang rutin dia bawa setiap malam untuk bersedekah di masjid.

Dengan lentera dan makanan inilah dia bisa membedakan siang dan malam. Ia hidup dengan kondisi seperti itu selama enam tahun. Hingga suatu saat anak-anaknya berinisiatif untuk menggali sumur dan memanfaatkannya kembali.

Mereka menggalinya hingga mencapai lorong tersebut, dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat ada lorong yang terhalang papan kayu. Lebih mengejutkan lagi ketika mereka menemukan ayah mereka di dalam lorong. Dan tentu mereka dicekam rasa terkejut karena ayah mereka keluar dengan badan yang segar bugar.

Anak-anaknya bertanya kepada ayahnya, bagaimana mungkin dia bisa bertahan di bawah tanah selama itu? Maka ayahnya menjawab, "Lentera dan makanan yang senantiasa kubawa ke masjid selalu menemaniku sebagaimana saya selalu membawanya ke masjid sebelum musibah terjadi."

Di akhir kisahnya, Imam asy-Syaukani menyebutkan bahwa peristiwa tersebut menjadi buah bibir di pasar-pasar dan pelajaran berharga bagi masyarakat ketika itu.

Dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga. Apa itu? Yakni pelajaran bahwa Allah subhanahu wata'ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Allah subhanahu wata'ala tidak akan menelantarkan hamba-Nya selama hamba tersebut tidak menelantarkan kewajibannya.

Petani yang disebutkan di dalam kisah tadi sebagai contohnya. dia mendawamkan menghadiri shalat berjamaah di masjid, sehingga Allah menolongnya dengan bentuk lentera yang biasa menemani langkahnya kemasjid.

Semoga kita selalu istiqomah di jalan kebenaran sehingga Allah pun selalu dekat dengan kita.

Wallahu a'lam

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Renungan KehidupanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang