Takdir adalah misteri dalam kehidupan kita. Takdir sudah ditentukan oleh Allah subhanahu wata'ala, dan kita hanya perlu menjemputnya dengan ikhtiar kita. Sayangnya, ada manusia yang begitu sombong sehingga mereka seakan-akan memiliki kendali terhadap takdir diri mereka sendiri. Mereka bertawakal bukan kepada Allah, tapi kepada kekuatan mereka. Mereka bertawakal terhadap uang yang ada di deposito bank, bertawakal terhadap jabatan dan kekuasaan dan sejenisnya. Sehingga ketika mereka terjatuh, mereka limbung dan tidak punya pegangan.
Fir'aun mungkin tidak pernah membayangkan bahwa kotak kecil berisi bayi Musa yang mengapung di sungai dan merapat ke istananya adalah sebuah surat. Itu pesan bahwa ketika ia menginstruksi pembunuhan bayi laki-laki, tanpa sadar ia sedang bermain dengan takdirnya sendiri. Permainan baru saja dimulai!
Kenapa? Karena seharusnya Fir'aun sadar bahwa isi kotak ini mutlak masuk dalam daftar bayi yang harus dibantai. Dia tidak boleh membuat pengecualian. Tapi Fir'aun membuat pengecualian. Bayi ini dikeluarkan dari daftar target pembunuhan. Dan itulah awal dari semua bencana yang menimpanya kelak.
Pengecualian itu dibuat dengan logika yang sangat lugu dan naif. Istrinyalah yang memberi ide, bayi itu mungkin bermanfaat atau diangkat sebagai anak. Maka ia mengabulkan permintaan istrinya, toh semua masih dalam kendali.
Dari bayi Musa itulah Allah memberlakukan kehendakNya. Sang Rasul tumbuh besar dalam istana, dengan fasilitas istana. Perlindungan yang sempurna. Dari waktu ke waktu bayi itu menunjukkan gelagat berbahaya, tapi Firaun telah buta karena menganggap semua dalam kendali tangannya.
Begitulah Allah mempermainkan Fir'aun. Dimulai dengan mimpi yang menganggu pikirannya dan melahirkan kecemasan luar biasa, lalu bayi mungil itu. Sebuah dinasti raksasa diruntuhkan dengan cara yang sangat sederhana.
Dari kisah Musa dan Firaun ini ada pelajaran tersirat bahwa kendali bukanlah di tangan manusia, termasuk atas pikiran-pikiran kita sendiri. Para perusak dan pendosa, juga penguasa dengan kesombogannya selalu ditipu oleh anggapan bahwa semua kendali ada di tangan mereka. Padahal, nyatanya ada rencana Allah di setiap detik hidup mereka.
Oleh karena itu, kita memiliki optimisme bahwa suatu saat Allah akan memberikan kuasa-Nya. Allah akan membalikan keadaan selama kita terus berdoa dan berikhtiar. Sebagaimana Allah telah menjungkir balikan kesombongan Firaun oleh bayi Musa yang tumbuh besar dibawah pengasuhan istana. Lebih dari itu, Allah menggenggam rencana, bukan kita.
Biarlah manusia membuat konspirasi, tapi konspirasi Allah subhanahu wata'ala lebih hebat dari konspirasi mereka. Allah yang mengontrol seluruh permainan ini karena Dia sendiri yang mengendalikan alam raya ini, termasuk ilmu tentang masa depan. Jadi jangan terlalu khawatir!
Harus kita sadari bahwa semua ilmu manusia tentang masa depan hanya sampai pada zhan atau dugaan. Mereka bisa membaca tren, tapi tidak mengendalikannya. Itu seperti meramal cuaca, bisa diduga-duga tapi tidak bisa dikendalikan. Jadi jangan percaya pada propaganda bahwa ada kekuatan yang tak terkalahkan di dunia ini.
Hanya ada rencana Allah. Dan kita hanya perlu optimis. Optimis tentang masa depan, optimis di hadapan musuh-musuh islam yang selalu merongrong. Dan tetap berpegang teguh pada iman.
Semoga menginspirasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Renungan Kehidupan
SpiritualitéTim Author @Jawara_Indonesia --- Memungut potongan-potongan makna yang berserak dari kehidupan. Melukis cinta dari berbagai kisah dan perenungan yang mendalam. Menggugah nurani dan inspirasi
