Dalam perenunganku, teka-teki bersayap terbang berseliweran di sekitarku. Mereka sengaja menggodaku; bahkan ada yang ingin merasukiku. Salah satu yang kutangkap adalah "Andaikata dosa berjejak jelas, bagaimana kau menghadapinya?"
Ingat Pinokio? Kalau dia berbohong, tiba-tiba hidungnya memanjang. Ada jejak dari kebohongannya. Dengan adanya jejak itu, orang lain menjadi tahu bahwa dia telah berbohong tentang anu. Mungkin Pinokio jadi malu, sedangkan orang lain bisa bereaksi macam-macam. Bisa mengolok-olok, memaki, mencaci, atau _men-jendul_ kepalanya.
Andaikata aku Pinokio, aku sangat malu tatkala hidungku memanjang tiba-tiba akibat berbohong. Ke mana wajahku harus kusembunyikan? Kutaruh di mana harga diriku ini? Rasanya tak sanggup aku menghadapinya. Terlebih jika karena satu dan lain hal aku terpaksa harus berbohong, maka aku akan sering malu saat hidungku memanjang. Itu menjadi siksaan yang menderitakan.
Sekarang, bayangkan andaikata aku melakukan dosa-dosa lain, dan dosa-dosa itu meninggalkan bercak atau tanda warna-warni di tubuhku. Akankah tubuhku bakal mampu memuat bercak-bercak itu akibat saking seringnya berbuat dosa? Ayo bayangkan.
Misalnya, saat melihat maksiat, tiba-tiba mataku bercak hitam. Saat ghibah, mulutku jadi merah. Mendengar perbuatan mesum, telingaku bercak biru. Mencuri duit teman sekator, tanganku jadi coklat kehitaman. Makan makanan haram, perutku jadi lorek-lorek. Mendengki orang lain, dadaku jadi tato kepala vampir. Dan sebagainya, dan sebagainya.
Bayangkan, sehari saja aku melakukan empat dosa, maka empat bercak yang aku dapatkan. Jika sepuluh, maka sepuluh bercak aku panen. Seminggu? Sebulan? Ah, jika aku tidak sempat beristighfar, berdzikir, dan berdoa setiap hari, amat mungkin aku sudah penuh bercak di seluruh tubuh. Ingat manusia tatoo? Manusia yang seluruh tubuhnya, sampai yang tersembunyi, dipenuhi tatoo. Kagum? Aku tidak blas!
Maka, bayangkan, bagaimana aku harus pergi ke tempat kerja. Mereka pastilah memandangku sebagai manusia aneh, gila, dan menjijikkan. Mereka berangsur-angsur akan menjauhiku. Bahkan, aku bisa ditendang dari tempat kerja karena mempekerjakan orang aneh sepertiku. Mereka malu memiliki karyawan yang penuh tatoo di seluruh tubuh. Jika tidak dicap radikal atau teroris, mereka mengesankan aku sebagai preman jalanan atau orjal (orang jalanan).
Maka, dengan bercak memalukan itu, aku akan tidak punya akses sosial pada orang lain. Aku terkucil dalam keramaian dan kegaduhan dunia. Aku akhirnya terdepak dari sesrawungan sosial dengan komunitas dan masyarakat. Alangkah tersiksanya aku jika aku kehilangan status sebagai makhluk sosial.
Untunglah, semua itu hanya "andaikata" untuk hidupku. Yakni, andaikata berdosa akan menimbulkan bercak-bercak tertentu. Jadi, kenyataannya tidak! Ya, aku tidak bercak apapun meski aku melakukan dosa dan kesalahan kepada Allah, diri sendiri, dan sesama manusia. Bahkan kadang tidak terasa apapun, berlangsung begitu saja. Aman-aman saja. Nyaman-nyaman saja.
Kadang aku berpikir bahwa adanya bercak sebagai penanda dosa itu ada baiknya. Dengan adanya bercak, aku bisa segera menempuh amalan untuk bisa menghapusnya. Namun, pada sisi lain, aku akan lebih berhati-hati esok atau lusa dalam berpikir, berucap, bersikap, dan berperilaku, agar menjauhi perbuatan dosa. Anggaplah semua itu sebagai pelajaran berhikmah.
Sekarang, bayangkan jika Anda mendapati bercak di tubuh Anda akibat dosa dan kesalahan yang Anda lakukan. Apakah yang akan Anda lakukan? Setidaknya, hitunglah bercak itu, meski seluruh tubuh Anda lorek penuh bercak. Setelah itu, Anda bisa berpikir bagaimana cara menghilangkannya.[]
✍🏻Much. Khoiri
KAMU SEDANG MEMBACA
Renungan Kehidupan
EspiritualTim Author @Jawara_Indonesia --- Memungut potongan-potongan makna yang berserak dari kehidupan. Melukis cinta dari berbagai kisah dan perenungan yang mendalam. Menggugah nurani dan inspirasi
