Iman adalah kunci dari kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpa adanya iman di dalam dada, mustahil kita bisa memperoleh keridhoan Allah subhanahu wata'ala dan surganya yang seluas langit dan bumi. Sama mustahilnya ketika kita masuk ke dalam ruangan bioskop tanpa membeli karcis terlebih dahulu.
Akan tetapi anehnya, banyak orang yang berharap dan berangan-angan mendapatkan surga, tapi tanpa beramal shalih. Bahkan ada yang paling parah, menganggap bahwa statusnya sebagai seorang muslim, bisa menjamin dia terbebas dari api neraka. Padahal iman tidak cukup hanya sebatas ucapan.
Untuk memahami betapa pentingnya amal terhadap kualitas amal kita, ada baiknya kita menyimak sebuah kisah ilustrasi yang bisa menjadi renungan untuk kita semua.
Dikisahkan bahwa ada seorang ustadz mengajarkan tauhid dan akidah kepada para muridnya. Beliau mendidik mereka kalimat tauhid dan menjelaskan maknanya dengan panjang lebar.
Sementara itu, para muridnya tahu bahwa ustadz mereka itu senang memelihara burung dan kucing. Karena itu, suatu hari, setelah sang ustadz selesai mengajar, ada salah seorang murid yang baik hati menghadiahi gurunya itu seekor burung beo. Istimewanya adalah, burung beo itu bisa meniru ucapan manusia dan meniru bunyi-bunyian yang ada di sekitarnya.
Gurunya sangat bahagia mendapat hadiah dari muridnya. Hal ini sebagai tanda bahwa murid-muridnya menyukai dan mencintainya. Oleh karena itu, sang ustadz pun sangat menyukai burung beo pemberian si murid tersebut.
Hari terus berlalu. Bertambahlah kecintaan sang ustadz kepada burung beonya itu. Beliau kerap kali mengajak hewan yang pandai meniru suara itu dalam majelis beliau. Hingga pada akhirnya sang burung begitu mahir mengucapkan kalimat la ilaha illallah. Hal ini terjadi karena seringnya si ustadz menjelaskan tentang kalimat la ilaha illallah, sementara di pundaknya bertengger burung beo kesayangannya.
Sang burung mengucapkan kalimat itu siang dan malam.
Suatu ketika, tiba-tiba ustadz mereka menangis dan ini menjadikan para muridnya heran lantas bertanya alasannya.
Maka ustadz pun menjawab, "Kucingku telah menyerang burung beoku hingga mati."
Para muridnya terheran-heran. Kemudian mereka bertanya, "Apakah anda menangis hanya gara-gara ini wahai ustadz? Kalau anda berkenan, kami bisa memberikan burung beo lain yang lebih bagus."
Maka sang ustadz menjawab, "Sungguh bukan itu. Ada hal lain yang membuatku menangis pilu. Sang beo, ketika diterkam kucing, hanya menjerit dan terus menjerit kesakitan hingga mati tanpa mengucapkan apapun padahal selama hidupnya begitu sering mengucapkan kalimat tauhid. Ia lupa kalimat tauhid itu karena selama ini beo hanya mengucapkannya di semata lisan saja, tak menghujam di dalam jiwa.
Para muridnya hanya terdiam dan takjub.
Kemudian sang ustadz melanjutkan, "Aku takut kita mengalami apa yang dialami burung beoku di penghujung usia kita. Kita hidup di dunia mengucapkan la ilaha illallah dengan lisan kita. Namun ketika malaikat maut datang untuk mencabut nyawa kita, kita tidak mengingat kalimat tauhid sama sekali. Karena hati kita belum mengetahui makna tauhid. Tauhid belum menghujam ke dalam jiwa kita."
Para murid pun menangis karena takut, jangan-jangan mereka tak ubahnya seperti burung beo yang mati dicakar kucing. Mereka takut jika kalimat tauhid yang selama ini mereka pelajari tidak menghunjam ke dalam hati. Hari itu, mereka mendapatkan pelajaran tentang hakikat tauhid yang paling berharga selama hidup mereka.
Dari kisah ini, semoga kita sadar bahwa iman itu tidak hanya sebatas status agama di KTP kita. Bukan juga sebatas shalat lima waktu atau rukun islam saja. kita berislam bukan karena rutinitas, tapi hendaknya karena keimanan yang kuat di dalam dada. Insya Allah, kita tidak akan mengalami nasib yang sama seperti si burung beo.
Semoga bermanfaat.
Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Renungan Kehidupan
SpiritualeTim Author @Jawara_Indonesia --- Memungut potongan-potongan makna yang berserak dari kehidupan. Melukis cinta dari berbagai kisah dan perenungan yang mendalam. Menggugah nurani dan inspirasi
