Bagaimana jika Salshabila Kirana seorang cewek jutek dan dingin bertemu dengan Billy Megantara seorang cowok hyper aktif dan pecicilan yang juga menjabat sebagai ketua osis disekolah mereka, apakah yang akan terjadi? akankah ada kisah cinta diantara...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kini tim Salsha sedang berada di ruang ganti untuk mengganti pakaian tentunya. Tapi semua terdiam saat Billy datang membawa kotak putih berisi tanda tambah merah didepannya. Untung mereka sudah berganti.
"Lukanya diobatin dulu ya" ucap Billy lembut.
"Biarin aja" sahut Salsha. Mereka memang sudah dekat ohh ralat sudah berteman maksudnya tapi Salsha masih saja bersikap tak acuh.
"Entar infeksi" bujuk Billy.
Cecil yang berada disamping Salsha ikutan membujuk temannya itu.
"Udah Sa obatin aja. Bener kata Billy ntar infeksi"
Salsha menghembuskan nafas pasrah dan dia hanya menjawab dengan anggukan saja. Billy tersenyum lebar,sangat manis lalu dengan telaten mulai membersihkan, memberi obat merah lalu terakhir dia menempelkan plester bergambar bintang. Lucu. Pikir Salsha.
Salsha berdiri beranjak ingin pergi namun tangannya ditahan Cecil.
"Mau kemana lo? Kaki lo masih sakit jangan jalan-jalan dulu" omel Cecil.
"Toilet" sahut Salsha kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Cecil.
Salsha berjalan tergopoh-gopoh banyak pasang mata yang memperhatikannya. Menatapnya dengan pandang kasihan, iba, iri,dan tentunya memujanya. Tatapan seperti itu sudah biasa baginya. Lalu untuk apa memperdulikan itu. Fokusnya sekarang adalah toilet hanya itu.
Untuk sampai di toilet ia harus melewati lorong yang cukup sepi ralat sangat sepi bahkan tak ada siswa yang lewat. Dia ragu apakah dia salah jalan? Tapi menurut siswi yang tadi ia tanyakan jalan ini sudah benar.
Prok... prokk... prokk
Salsha menoleh kebelakang, matanya seketika membelalak melihat orang yang ada dihadapannya. Dia mundur secara otomatis saat empat orang pria dihadapannya melangkah maju.
Shit.
Umpatnya dalam hati. Salsha kini terkurung,ia sudah tak bisa mundur lagi karena tubuhnya sudah nempel di dinding. Empat pria itu menyeriangai tajam.
"Mau kemana cantik?" Tanya orang yang berdiri paling depan.
"Ha..ha.. ha gue rasa dia takut sama lo vin" tawa teman dibelakangnya.
Tak mau ketinggalan teman-temannya yang lain pun ikut memojokan Salsha. Namun bukan Salsha namanya kalau bukan melawan.
"Pergi lo." Desis Salsha. Bukannya pergi, mereka malah semakin menjadi.
"Uhh jangan galak-galak dong. Emang lo gak inget tentang masa lalu kita yang indah?"
Salsha benar-benar muak. Ini yang dia takuti dari tadi. Dia bisa saja menendang dengan jurus taekwondonya tapi hari ini benar benar sial baginya. Kakinya yang masih sakit tidak memungkinkan untuk dia menendang empat pria didepannya.