Devano berlari kearah parkiran sekolah setelah mendengar berita kalau motor kesayangannya ditabrak seseorang.
Demi apapun dia dalam suasana yang tidak bisa diganggu. Keadaan koridor yang sepi memudahkannya untuk lebih cepat sampai.
Saat Devano sampai diparkiran, suasana disana sudah ramai. Terutama ditempat ia tadi memarkirkan motornya. Ia berjalan or ralat berlari dengan cepat. Nafasnya tersengal-sengal. Ditambah aura mencekam keluar dari dirinya.
"Siapa pelakunya?" Tanyanya tajam. Sontak semua perhatian tertuju padanya. Termasuk seorang perempuan yang tengah berusaha menaikkan motornya.
"Lo.." tunjuk Devano kearah perempuan itu.
"So-sorry gu-gu-gue ga-gak se-sengaja" ucap perempuan itu terbata-bata.
"Jadi lo yang nabrak motor gue? Mata lo itu lo bawa kemana?"
"Minggir lo" Devano mendorong paksa tubuh gadis itu supaya menyingkir dari motornya.
Tampak orang-orang yang mengerubungi mereka merasa kasihan pada si gadis karena didorong lumayan keras oleh Devano.
"LO SEMUA NGAPAIN PADA DISINI? LAGI DIHUKUMKAN? PERGI GAK" bentak Devano dan dalam hitungan detik orang-orang yang tadinya ramai kini berubah sepi hanya tersisa dua orang.
"Hmm... sorry. Gue bakal ganti kok"
"Ganti pakek uang orang tua aja belagu lo" ucap Devano pedas lalu meninggalkan perempuan itu begitu saja.
****
"Astagaaa... lo kemana aja sih?" Teriak Aurel ke perempuan didepannya.
"Iya. Lo pindah ke prancis gak balik-balik perasaan" sambung Feli.
"Ehh.. ehh cerita dong kok lo bisa pindah kesini? Trus si brondong jagung gak ikut kesini?" Timpal Cecil.
"Satu-satu dong. Gue bingung jawab yang mana?" Ucap perempuan itu kesal.
"Oke-oke silahkan dijawab" cengir Cecil.
"Gue balik kesini karena gue kangen sama sahabat-sahabat gue disini. Lagian disana juga gue gak punya temen" ucapnya.
"Gausah boong lo. Gak punya temen lo bilang? Gak mungkin lah"
"Serius Sa. Emang sih banyak yang mau temenan sama gue. Tapi gak kayak kalian mereka terlalu palsu. So jadi gue putusin buat balik lagi kesini"
"Soal brondong jagung yang lo bilang? Dia gak ikut dia masih harus sekolah disana. Lagian yang pindah cuma gue doang. Mami Papi masih disana" sambungnya.
Tiba-tiba percakapan mereka berhenti ketika segerombolan siswa duduk dimeja mereka dengan seenak jidat mereka. Siapa lagi kalau bukan Billy cs. Selain mereka gak ada yang berani kayak gitu.
"Kita gabung ya" ucap Lio santai seolah tatapan tajam dari keempat cewek ini tak berpengaruh.
"Wuihhh... siapa nih? Bening amat. Kenalan dong neng" ucap Tristan.
"Mau lo apain temen gue?" Tanya Feli garang.
"Yaelah... mau kenalan doang" sahut Tristan dongkol.
"Kenalin gue Tristan gue kelas 11 IPA" ucap Tristan.
"Gabby Margarreta. Panggil aja Gabby."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah Rasa
Teen FictionBagaimana jika Salshabila Kirana seorang cewek jutek dan dingin bertemu dengan Billy Megantara seorang cowok hyper aktif dan pecicilan yang juga menjabat sebagai ketua osis disekolah mereka, apakah yang akan terjadi? akankah ada kisah cinta diantara...
