"Astaga Abangggggggggggg"
"Lo pikir gue budeg? Selow aja ngomongnya"
"Gak. Tuh muka lo apain sampe bonyok kayak gitu?"
"Ditonjok orang"
"Cil udah ini bukan salah Kakak lo. Gue yang salah" ucap Salsha menengahi perdebatan diantara adik kakak itu. Cecil yang awalnya marah kini menampilkan wajah sok imutnya.
"Kenapa lo? Tadi marah-marah sekarang malah cengar-cengir gak jelas" ujar Billy sambil mengecek kening Cecil siapa tau gadis itu demam.
"Gak panas" ucap Billy santai.
Cecil yang tau maksud kakaknya mengejek dirinya itu langsung memukul pipi Billy yang luka. Hingga membuat sang empunya berteriak kesakitan.
"Udah kan. Gue pulang" ucap Salsha lalu berlalu pergi. Namun saat hendak melangkah tangannya dicekal oleh Billy.
"Gue anter ya" tawar Billy.
"Gak usah supir gue udah didepan" sahut Salsha datar. Raut wajah Billy berubah masam. Baru mau modus ehh gagal duluan.
"Yaudah yuk gue anter kedepan" Cecil melepaskan tangan Billy yang mencekal tangan Salsha lalu mereka pergi kedepan untuk mengantar Salsha.
"Cerita sama gue" Cecil menghentikan langkah Billy yang hendak menuju kerumah.
"Gak. Lo ember" sahut Billy dengan santainya.
"Ishh.. gue gak ember. Daripada lo ketahuan mama. Atau mau gue aduin sekalian kalau lo tadi berantem?" Ancam Cecil sambil menyeriangi tajam.
"Fine." Daripada berujung di ruangan mama lebih baik dia menceritakan apa yang terjadi kan?
"Nahh... ayo cerita" ucap Cecil antusias saat sudah sampai di kamar Billy.
"Gue haus ambilin minum dulu dong. Ceritanya panjang banget entar kalau gue dehidrasi gimana?" Pembalasan. Batin Billy.
Cecil menghembuskan nafas kasar, kemudian dia turun ke dapur untuk mengambilkan Billy minum.
"Kalau gue gak kepo. Gak bakal gue mau jadi babunya si curut satu itu." Gumam Cecil sambil menuangkan sirup ke dalam gelas.
Saat sampai dikamar Billy, ternyata kakaknya itu sedang asik memainkan ponselnya.
Huh. Menyebalkan sekali. Ucap Cecil dalam hatinya.
"Nih" ucap Cecil sembari memberikan Billy sirup yang tadi ia bawa.
"He.. he.. he.. makasi adikku tayangg"
"Sekarang cerita cepet"
Billy menarik nafas dalam lalu menghembuskan secara perlahan.
Kemudian dia mulai menceritakan kenapa dia bisa pulang dengan wajah yang penuh luka.
"Jadi tadi waktu gue nyari Salsha,gue liat dia lagi digangguin sama cowok-cowok disana-
"Hah... Salsha digangguin? Trus dia gak diapa-apain kan? Gak luka kan? Gak-
"Lo potong gue gak jadi cerita" ucap Billy datar.
Cecil hanya menjawab dengan cengiran. Merasa ucapannya tak akan dipotong lagi, Billy kembali melanjutkan ceritanya yang tertunda.
"Salsha gak ada luka cuma tadi dia sempet di pegang tangannya lumayan keras sampe merah. Gue hajar mereka satu-satu. Awalnya gue menang lawan mereka. Tapi waktu gue nyamperin si Salsha tiba-tiba salah satu dari mereka mukul gue dari belakang. Yaudah jadi lah gue kayak gini luka-luka." Jelas Billy.
"Terus tadi kalian pulangnya gimana terus luka lo udah diobatin belum?" Tanya Cecil bertubi-tubi.
"Pulang naik taksi. Kalau luka udah tadi Salsha yang obatin" sahut Billy.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah Rasa
Teen FictionBagaimana jika Salshabila Kirana seorang cewek jutek dan dingin bertemu dengan Billy Megantara seorang cowok hyper aktif dan pecicilan yang juga menjabat sebagai ketua osis disekolah mereka, apakah yang akan terjadi? akankah ada kisah cinta diantara...
