Sebulan kemudian.
Senyum Billy terus mengembang hari ini. Mood nya benar-benar baik saat ini pasalnya tadi dia berhasil membujuk Salsha untuk berangkat bareng dengannya walaupun dengan bantuan Kakak Salsha.
"Sa" panggil Billy saat Salsha hendak masuk ke kelasnya.
Salsha menoleh, menaikan sebelah alisnya. Billy yang sudah sangat hafal dengan bahasa isyarat yang ditujukan Salsha pun memakluminya.
"Ehmm... semangat ya belajarnya." Ucap Billy dengan senyum lebar.
Salsha mengangguk dan berlalu pergi. Billy pun melanjutkan langkahnya menuju kelasnya tercinta.
Dilain tempat ada sepasang remaja sedang duduk duduk santai di kursi panjang yang ada di taman belakang sekolah.
Mereka tampak asik mengobrol entah apa yang dibicarakan. Sesekali juga mereka tertawa bersama karena guyonan si pria yang lebih terkesan garing.
"Cil lo cantik hari ini"
Cecilia dialah perempuan yang sedang duduk bersama dengan Rendy laki-laki yang ia temui saat membantu Salsha dulu.
"Apaansih Ren gak lucu ahh" pipi Cecil sudah merona akibat gombalan Rendy tadi.
Rendy terkekeh melihat respon Cecil yang sangat lucu baginya.
"Gue emang gak lagi ngelucu kok. Gue serius lo cantik banget hari ini." Lagi-lagi Cecil dibuat salah tingkah oleh Rendy.
"Udah ahh gue mau kekelas bentar lagi bel bunyi" Cecil hendak berjalan meninggalkan taman namun ia urungkan karena panggilan Rendy. Ia kembali menoleh dan menatap Rendy yang kelihatan gelisah.
"Kenapa Ren? Gelisah banget kayaknya."
"Ehh.. gak itu. Gimana cara ngomongnya ya?" Cecil tertawa kecil melihat Rendy yang gugup seketika.
"Kenapa sih Ren kok jadi gugup gitu?" Tanya Cecil.
Rendy menarik nafas dalam dan berjalan mendekat kearah Cecil. Rendy mengenggam kedua tangan Cecil membuat jantung Cecil bekerja lebih cepat dari biasanya.
'Duh jantung gue kenapa ini'
"Cil gue tau ini kecepetan buat lo tapi gue gak bisa nunggu lebih lama lagi bukan karena gue gak sabar tapi terlalu takut. Gue takut kalau gue gak ngelakuinnya sekarang, gue bakal di duluin sama orang lain. Dan gue gak mau itu terjadi." Rendy menjeda perkataannya sekalian mengambil nafas seakan-akan udara yang ada ditubuhnya sudah menipis.
Cecil mencoba menetralkan detak jantungnya setelah mendengar perkataan Rendy tadi. Entah kenapa kakinya melemas dan dia berdoa agar ia tak pingsan sekarang.
"Cil lo emang bukan yang pertama dihidup gue. Tapi lo satu-satunya perempuan yang mampu membuat gue percaya akan Cinta Pada Pandangan Pertama. Awalnya gue ragu tapi semakin kesini gue yakin perasaan gue ke elo gak bisa dibilang sebagai perasaan seorang teman ataupun sahabat. So.. gue gak mau bertele-tele, gue emang gak pinter bicara yang manis-manis tapi gue janji gue bakal perlakuin lo semanis mungkin. Cil.... will you be my girlfriend?"
Cecil menatap mata Rendy lekat-lekat. Mencoba mencari kebohongan yang ada disana, tapi nihil dia tak menemukan apa. Yang ia temui adalah tatapan tulus bercampur khawatir.
Cecil menghembuskan nafasnya sekali lagi. Sebelum menjawab pertanyaan Rendy.
"Yes. I will"
Cukup dengan tiga kata itu, ia tak perlu jawaban panjang sepanjang perjalanan cintanya. Hanya tiga kata itu yang ia butuhkan sekarang. Rendy menarik Cecil kedalam pelukannya. Saking bahagianya Rendy memeluk Cecil begitu erat seolah-olah jika dia mengendorkan sedikit saja pelukannya Cecil akan menghilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah Rasa
Novela JuvenilBagaimana jika Salshabila Kirana seorang cewek jutek dan dingin bertemu dengan Billy Megantara seorang cowok hyper aktif dan pecicilan yang juga menjabat sebagai ketua osis disekolah mereka, apakah yang akan terjadi? akankah ada kisah cinta diantara...
