Chapter 48

846 28 2
                                        

Semakin hari semakin Billy mulai melihat sisi dibalik sikap dingin Salsha. Salsha sebenarnya hangat dan sangat peduli pada orang lain,seperti tadi contohnya. Sepulang sekolah,Billy mengajak Salsha untuk jalan-jalan dulu.

Tentunya tidak semudah itu mengajak Salsha pergi berdua. Membutuhkan tenaga extra untuk membujuknya. Belum lagi kesiapan mental untuk mendengar kata-kata tajam yang keluar dari bibirnya, tak lupa tatapan tajam bak mata elang itu.

Billy yakin jika mentalnya tak kuat, mungkin saja ia akan bernasib sama seperti pria diluar sana yang mencoba mendekati Salsha. Selalu mendapat penolakan tak membuat pertahanannya goyah. Tetapi semakin dia ditolak semakin besar rasa ingin memiliki gadis itu.

Oke flashback ke kejadian tadi di mall.

Flashback

"Lo ngapain sih ngajak gue kesini?" Tanya Salsha.

"Ya jalan-jalan aja, itung-itung refresing kan" ucap Billy santai.

"Daripada lo marah-marah mending sekarang ikut gue" lanjut Billy menarik tangan Salsha agar mengikutinya.

Timezone

"Ngapain kesini?" Tanya Salsha.

"Cuci baju. Udah ikut aja sekarang lo bebas mau main apa aja. Nih pakek kartu gue" Billy menyerahkan kartu miliknya ke Salsha.

Karena tak kunjung diambil, Billy pun menarik paksa tangan Salsha untuk mengikutinya lagi. Billy mengajaknya ke area Bom Bom Car.

"Gue gak bisa main beginian" ucap Salsha jujur.

"Tinggal tabrak-tabrakin aja"

"Entar kalo mobilnya rusak gimana?" Tanya Salsha polos

Billy tertawa mendengar pertanyaan Salsha. Sepertinya memang gadis ini tak pernah menyentuh permainan ini.

"Mobil ini dibuat emang buat ditabrakin. Udah sekarang lo pilih mobil mana lo main bareng gue"

Tak ada lagi penolakan. Salsha yang juga penasaran pun akhirnya memilih mobil dan menaikinya. Di awal permainan tampak Salsha mulai kesal karena Billy selalu menabrakan mobilnya ke mobil miliknya.

Tapi tak berselang lama,Salsha sudah mengerti cara kerja mainan ini. Sehingga terjadilah tabrak-tabrakan diantara mereka. Disini tawa Salsha terdengar nyaring. Billy yang baru pertama kali melihat Salsha tertawa seperti ini terpesona dengan aura yang dikeluarkan oleh gadis ini.

Cukup lama mereka bermain. Hingga sampai akhirnya Salsha yang menyudahinya karena dia kelelehan. Begitu juga dengan Billy banyak bulir-bulir keringat yang membasahi wajah dan juga seragam sekolahnya.

Baik Billy maupun Salsha memutuskan untuk menyudahi bermain-main, karena selain lelah, cacing di perut mereka sudah demo minta diisi. Namun saat akan menuju ke restorant yang ada di mall tersebut, Salsha tak sengaja ditabrak oleh anak kecil yang sedang membawa es krim.

Tumpahlah eskrim itu ke seragam Salsha. Anak kecil itu tertunduk menahan tangis.

"Ma-maafin aku kak" ucap anak kecil itu.

Salsha tersenyum kearah anak itu. Menyajarkan tinggi badannya dengan anak itu.

"Gapapa kok. Gak usah nangis sini kakak beliin eskrim yang baru" ucap Salsha membuat anak kecil itu sumringah.

Billy yang melihat kejadian ini pun. Terpesona dengan tindakan sederhana Salsha. Memang tidak ada istimewanya. Tapi kebanyakan perempuan yang bila tersenggol sedikit saja sudah mengeluarkan kata-kata umpatannya. Apalagi sampai terkena eskrim seperti ini.

Sebuah RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang