Chapter 24

876 28 0
                                        

"Sore semua" sapa Pak Julio.

"Sore pak" sahut semua anggota tim basket sma nusa bangsa.

"Hari ini kita kedatangan anggota baru, bukan cuma satu tapi empat sekaligus. Bapak sudah lihat cara mereka bermain dilapangan dan itu yang membuat bapak menarik mereka untuk ikut gabung ditim kita." Jelas Pak Julio. Semua yang ada disana tampak berpikir kira-kira siapa yang akan menjadi teman baru mereka terkecuali Agnes ketua tim basket putri. Dia memiliki firasat yang tidak baik kali ini.

"Oke daripada kalian bingung jadi bapak kenalin mereka adalah-

Dan munculah keempat gadis cantik bersetelan baju olahraga mereka. Rambut diikat satu menambah kesan cantik mereka. Agnes terkejut melihat empat sosok yang ada disana.

"Jadi merekalah yang akan menjadi anggota baru disini. Bapak harap kalian bisa beradaptasi dengan cepat karena sebentar lagi juga akan diadakan pertandingan disekolah lain. Kali ini pertandingannya cukup sulit karena lawan kita tidak bisa dianggap remeh untuk kali ini. Tapi bapak harap dengan kedatangan kalian berempat, tim basket kita bisa lebih hebat lagi"
Jelas Pak Julio. Yang lain menatap mereka takjub namun tidak dengan Agnes dia menatap keempat gadis ini dengan sengit seolah mereka adalah kuman yang harus dibasmi.

"Oke kita mulai saja latihannya"

Latihan dimulai seperti latihan pada umumnya, latihan kali ini diawali dengan doa dan pemanasan. Pada saat main anggota dibagi menjadi 2 tim. Yang satu dipimpin oleh Agnes sang ketua ekskul basket dan yang satunya lagi diketuai oleh Salsha.

Tentu saja Cecil, Feli, dan juga Aurel bergabung kedalam tim Salsha. Pada saat permainan dimulai, bola pertama didapat oleh Salsha. Permainan berlangsung sengit seakan-akan mereka sedang berada di dalam pertandingan sesungguhnya. Agnes sempat kewalahan meladeni permainan Salsha yang bisa dibilang sangat energik.

Skor sekarang seri 15-15, sementara waktu tinggal 30 detik lagi. Aksi halang-mengahalangi  pun tak dapat dihindari. Saat akan memasukkan bola ke dalam keranjang, Agnes mendorong Salsha yang menyebabkan Salsha jatuh tersungkur ditanah. Namun bola yang tadi hendak dia masukkan ternyata masuk dengan mulus kekeranjang dan secara tidak langsung yang memenangkan permainan ini adalah tim Agnes.

Peluit dibunyikan oleh Pak Julio pertanda latihan kali ini telah usai. Pak Julio menghampiri anak didiknya tersebut.

"Salsha kamu tidak apa-apa?" Tanya Pak Julio kepada Salsha yang sekarang tengah duduk dipinggir lapangan.

"Enggak pak, cuma lecet doang" sahut Salsha.

"Ohh yasudah. Dan untuk kamu Agnes bapak kecewa dengan kamu, kamu jelas-jelas sudah paham betul dengan peraturan dalam permainan ini,tapi kenapa kamu malah melanggar? Bapak benar-benar tidak habis pikir"

"Tapi Pak,saya kan gak sengaja" bela Agnes.

"Bapak tidak mau dengar alasan kamu, dan dengan terpaksa untuk pertandingan nanti kamu bapak tidak ikut sertakan dulu" ucap Pak Julio.

Agnes membelalakan mata mendengar penuturan Pak Julio, namun belum sempat untuk menolak Pak Julio sudah meakhiri latihan kali ini dan pergi meningglkan lapangan.

"Itu semua gara-gara lo ya. Ngapain sih lo sekolah disini? Belum puas lo rebut posisi gue waktu smp dulu? Hah? Belum puas?" Agnes menjambak rambut Salsha hingga membuat Salsha meringis kesakitan. Teman-teman Salsha sudah ingin membantu namun Salsha melarangnya.

"Jawab. Anjing. Budek lo? Atau perlu gue ajak lo kerumah sakit sekarang?" Tanya Agnes  ralat bukan bertanya tapi berteriak dan jambakan dirambut Salsha belum juga terbebas bahkan dia menjambak makin keras.

"Lepas tangan lo" sahut Salsha pelan namun menusuk.

"Apa lo bilang? Lepas? Hah!! Lepas" bukannya melepaskan Agnes malah menarik rambut Salsha semakin kencang.

Sebuah RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang