Kanzia menekan beberapa tombol untuk mendapatkan minuman yang diinginkannya. Lalu mengambil botol itu dari tempat keluarnya.
Kemudian dia berjalan untuk duduk ditaman sambil melihat beberapa orang yang sedang membeli makanan.
Kanzia mengusap lengannya, harusnya dia membawa jaket. Malam ini lumayan dingin.
"Zi, makasih banyak ya udah nemenin gue buat cari sekoteng malem-malem gini. Sayang Kanzia deh!" ucap Arisha sambil memeluk Kanzia. Arisha memang tadi menghubungi Kanzia, dan meminta untuk menemaninya. Kanzia tadinya ingin menolak, tapi dia juga merasa sedikit bosan dirumah. Alvino dan Aretta, sedang makan malam bersama. Jadi lebih baik dia mengiyakan permintaan Arisha daripada dirumah dan bersama Bibi juga Pak Abar.
"Iya iya udah lebay nggak usah pake meluk gue segalaaa!" ucap Kanzia sambil berusaha melepas pelukan Arisha.
"Yaudah, balik yuk!" ajak Arisha sambil memasang tasnya.
"Lo balik aja, gue mau disini dulu. Lagian kan ini deket sama kompleks rumah gue, nanti gue balik naik ojek online aja." ucap Kanzia lalu meneguk minumannya.
"Serius? Nggak mau ikut gue aja? Kan gratis udah gitu disupirin sama supir gue." sahut Arisha, Kanzia tertawa sambil menggeleng.
"Iya serius, udah sana, supir taksi online lo nungguin!" sahut Kanzia sambil mendorong pelan Arisha.
"Oke! Lo hati-hati, nanti ada—"
"Arisha!"
"Bercanda!"
"Sana hus!"
"Bye Zia!"
"Daah!" Kanzia tersenyum singkat. Lalu meneguk habis minuman ditangannya.
Dia menutup matanya lalu menarik nafas kemudian membuangnya perlahan, udara di taman ini sangat sejuk.
"Jangan tutup mata ditempat umum gini. Bisa-bisa pas lo bangun lo udah ada ditempat yang beda." ucap seseorang berhasil membuat jantung Kanzia berdetak kencang karena terkejut.
"Kak Rendra!" Kanzia memukul bahu Rendra "lo ngagetin gue tau nggak!"
"Maaf, nggak sengaja. Lagian lo ngapain sendirian disini? Nggak takut diculik?"
"Siapa juga yang mau nyulik gue?"
"Gue"
"Hah?!"
"Hahah bercanda. Gue nggak mau nyulik lo, tapi gue mau nyulik hati lo." ucap Rendra dia tersenyum sambil menatap mata Kanzia, membuat Kanzia yang melihat senyuman itu kini ikut tersenyum.
"Ngaco." sahut Kanzia lalu mengalihkan pandangannya.
"Mau anterin gue jalan-jalan ditaman ini?" ucap Rendra lalu menjulurkan tangannya ke hadapan Kanzia.
"Mmm... Iya boleh." Kanzia menerima tangan Rendra begitu saja, entah setan apa yang membuat tangannya bergerak begitu saja.
"Mau jagung?" tanya Rendra saat melewati penjual jagung rebus. Kanzia menggeleng, dia melihat tangannya. Rendra masih belum melepas.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAENZIA
Ficção Adolescente"Andai kita bisa atur hati untuk sayang sama siapa, mungkin gue nggak akan nyakitin lo kaya gini. Iya kan?" "Kalaupun kita bisa atur hati untuk sayang sama siapa, gue akan tetap atur hati gue untuk sayang sama lo. Ya walaupun lo nggak sayang sama g...
