Rael beberapa kali melihat ke kaca spion motor vespanya, dan sekarang mungkin sudah yang ke sepuluh kali. Senyuman manis diwajahnya terus menghiasi indahnya malam bersama Kanzia-nya.
"Lo kenapa si Kak, senyum terus? Gila ya?" tanya Kanzia.
"Jadi lo merhatiin gue ya dari belakang sana?"
Kanzia buru-buru mengalihkan pandangannya dari kaca spion "Nggak tuh!"
"Merhatiin juga gapapa kok. Gue ikhlas lahir batin." sahut Rael lalu tersenyum lebar ke arah spion, membuat Kanzia membalasnya dengan menjulurkan lidahnya.
"Eh bentar. Kompleks rumah gue kelewatan!" seru Kanzia sambil menepuk-nepuk bahu Rael.
"Iya, sengaja. Temenin gue makan ya, tiba-tiba perut nggak tau diri ini laper." sahut Rael sambil tetap fokus pada jalanan dihadapannya.
"Enak aja! Nggak mau! Pulang nggak, atau gue teriak minta tolong nih!" Kanzia memukul bahu Rael dengan kantung plastik yang digenggamnya.
"Aduh! Iya-iya, nanti di depan gue puter balik." sahut Rael sambil mengusap bahunya dengan tangan kirinya.
Setelah sampai dipertigaan jalan kompleks, Rael membelokkan vespanya ke kanan. Dia melewati beberapa rumah hingga sampai di depan rumah tujuannya.
Kanzia turun dari vespa Rael.
"Makasih." ucap Kanzia lalu berjalan meninggalkan Rael, dia membuka pintu gerbang tetapi langkah masuknya berhasil tertunda karena Rael yang ikut turun dari vespa.
"Eh mau kemana?" ucap Kanzia setelah Rael masuk begitu saja kedalam rumahnya.
"Mau mampir, masa nggak boleh?" sahut Rael sambil tersenyum.
Kanzia membulatkan matanya lalu menahan lengan Rael "Jangan mampir sekarang! Udah jam delapan tau. Kapan-kapan aja!"
"Orang gue maunya sekarang. Lagian jam delapan itu masih sore kalo kata Umi, malem itu jam sebelas tuh baru udah malem!" sahut Rael membuat Kanzia menelan ludahnya. Masa dia harus membiarkan Rael masuk ke dalam rumah? Nanti kalau bertemu dengan kedua orang tuanya bagaimana?
"Ih batu nih! Udah sana pulang Kak Raellll" Kanzia menarik lengan Rael.
"Siapa Zia?" suara itu. Berhasil membuat Kanzia dan Rael dengan serempak menoleh ke asal suara. Arreta.
"Yaampun! Ada Rael! Ayo masuk. Tante baru aja selesai siapin makan malam!" ucap Arreta seraya berjalan ke arah mereka "hm, nggak usah di pegangin kali Kak Rael'nya. Nggak bakal ilang kok!" lanjut Arreta, membuat Kanzia sontak melepas tangannya yang ternyata masih memegangi lengan Rael.
"Tau tuh tante, padahal Rael nggak kemana-mana loh, eh dipegangin. Kanzia modus juga ya ternyata," sahut Rael, sambil menaikan kedua alisnya melihat ke Kanzia.
"Apaan si nggak jelas." Kanzia mengerucutkan bibirnya. Arreta tertawa.
"Hahah yaudah-yaudah yuk. Masuk kita makan malam." ajak Arreta lalu mengait lengan Rael untuk masuk bersamanya.
"Bunda cuma pegang Kak Rael'nya sampe dalam rumah kok." ucap Arreta meledek Kanzia. Rael tersenyum selebar mungkin sedangkan Kanzia susah sekali menggambarkan eksperinya sebalnya sekarang ini.
"Ayah! Kita kedatangan tamu loh!" ucap Arreta lalu melepas lengan Rael.
"Om, saya Rael. Calon—eh maksutnya, saya ini Kakak kelasnya Kanzia." Rael menyalami Alvino yang sudah duduk dimeja makan.
Alvino tersenyum lalu menyuruh Rael untuk duduk.
Kanzia juga ikut duduk disamping Rael. Dia memutar bola matanya saat melihat Rael yang melempar senyum untuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAENZIA
Jugendliteratur"Andai kita bisa atur hati untuk sayang sama siapa, mungkin gue nggak akan nyakitin lo kaya gini. Iya kan?" "Kalaupun kita bisa atur hati untuk sayang sama siapa, gue akan tetap atur hati gue untuk sayang sama lo. Ya walaupun lo nggak sayang sama g...
