0028

60.3K 4.5K 795
                                        

"Udah telat, belum mengerjakan pr juga. Kamu ini tidak niat kesekolah ya?!" bentak Pak Goda, guru sejarah peminatan.

Rael menatap mata Pak Goda "Saya lupa ada pr. Kirain nggak ada, lagian Bapak setiap hari kasih pr terus,"

"Saya itu memberi kalian pr supaya kalian tetap belajar dirumah, supaya kalian tetap ingat apa yang telah kalian pelajari disekolah. Bukan untuk dilupakan."

"Iya-iya yaudah maaf. Besok-besok saya kerjain kalo Bapak kasih pr."

"Minggu kemarin juga kamu bicara seperti itu Rael dan saya sudah muak. Sekarang kamu keluar dari pelajaran saya!"

Semua mata melihat ke arah Rael, yang kini tengah melangkah keluar dari ruang kelas ini.

Dia melangkahkan kaki menuju uks. Rael ingin tidur saja disana.

"Hai bu, numpang tidur ya. Rael pusing nih mikirin dia." ucap Rael pada Bu Paula yang sedang mencatat stok obat.

"Mau minun obat tidak?" sahut Bu Paula.

Rael melipat bantal uks untuk menyandarkan kepalanya, stetelah itu dia merebahkan tubuhnya "Nggak perlu obat, perlunya Kanzia." gumamnya.

"Ibu nggak denger, kamu bicara apa?"
Rael tersenyum miring "Nggak Bu." lalu Rael mulai memikirkan banyak hal. Tapi banyak hal itu, diisi semua dengan Kanzia.

"Kok gue bego ya? Kenapa gue cuekin Kanzia gini?"

"Iya lu emang bego, dari dulu!" sahut seseorang dari tempat tidur yang berada disampingnya.

Seseorang itu membuka gorden biru muda lalu Rael menoleh dan menemukan figur Suma yang tengah berbaring dengan seragam olahraga yang melekat ditubuhnya.

"Gue kira setan, eh ternyata bener." ucap Rael sambil mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit uks.

"Ngomong apa lo?! Enak aja!"

"Lo ngapain disini?" tanya Rael.

"Pura-pura sakit, abisan males olahraganya latihan fisik. Gue nggak bawa parfum. Nanti kalo gue bau gimana?"

"Alay dih, kaya terong."

"Emang gue terong kenapa loh?" Suma mengibaskan tangannya.

Rael bergidik ngeri.

"Eh tadi gue ketemu Zia, Ma." ucap Rael.

"Ha? Terus? Emang ketemu dimana?" tanya Suma antusias, dia merubah posisi tidurnya menghadap Rael.

"Gue ketemu di depan gerbang tadi. Dia kesiangan juga,"

"Terusan gimana? Lo bantuin dia? Lo ajak dia lewat pintu belakang? Lo boncengan dong sama dia?"

Rael melempar bantal ke wajah Suma "Nanya satu-satu bisa nggak? Ngeselin amat si lo?"

"Ck, iya-iya maap. Yaudah jawab."

Rael menaruh tangannya dibelakang kepala, dia gunakan sebagai sandaran karena bantalnya tadi sudah dia lempar ke Suma.

"Gue cuekin dia—"

"Fix lo bego!" 

"Anjir dengerin dulu!"

"Iya-iya."

"Gue emang cuekin dia. Tapi gue tolongin kok. Gue pinta Pak Atlas bukain gerbang buat Zia."

"Oh ternyata lo nggak bego-bego amat."

"Ya gue kan bukan lo!"

"Ah kutu!" Suma melempar kembali bantal yang tadi dilempar oleh Rael.

Rael menaruhnya kembali sebagai sandaran kepalanya.

RAENZIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang