005

101K 6.1K 35
                                        

Pagi ini, suara burung kecil yang hinggap di atap rumah menyapa dengan ramah saat Kanzia membuka pintu untuk pergi ke sekolah.

Pak Abar mulai menginjak pegal rem saat sudah sampai di depan gedung SMA Greetel.

Kanzia turun dari mobil setelah memberi ucapan terimakasih pada Pak Abar.

Dia berjalan menaiki tangga untuk mencapai lantai tiga tanpa peduli pada beberapa tatapan mata tidak suka dari kakak kelas yang ditunjukkan untuk dirinya.

Kanzia hanya memutar kedua bola matanya, lalu berjalan masuk ke dalam kelas dan melebarkan matanya saat dia baru tersadar bahwa ini bukan kelasnya karena seharusnya dia menaiki satu tangga lagi untuk mencapai kelasnya.

Matanya melebar sambil menelan ludah kemudian berlalu dari kelas tadi dan melewati seorang Rael yang baru saja ingin memasuki kelas.

"Eh lo kenapa?" tanya Rael, dia tidak jadi masuk ke dalam kelas dan memilih mengikuti Kanzia.

"Nggak kenapa-kenapa." sahut Kanzia lalu berjalan agak cepat agar segera masuk ke dalam kelasnya.

"Lo jalan buru-buru banget, gue bukan depkolektor yang mau nagih utang." ucap Rael, lalu Kanzia menghentikan langkahnya, dia menoleh dan menatap Rael.

"Mau gue jalan cepet atau lambat itu seterah gue! Kaki-kaki gue nggak minjem kaki lo!" Kanzia kembali melanjutkan langkahnya.

Rael sedikit berlari agar dapat menghadang Kanzia yang jutek ini.

Dia melebarkan tangannya agar Kanzia tidak dapat menaiki tangga selanjutnya.

"Ck apaan si lo, minggir nggak, gue mau ke kelas!"

"Gue akan minggir setelah lo sebutin nama lo,"

Kanzia mengepal tangannya.

"Gue Kanzia. Puas lo? Sekarang minggir!" ucapnya lalu menabrak punggung Rael dan kembali melangkah menuju kelasnya meninggalkan Rael yang sedang senyum-senyum sendiri setelah tau namanya.

Kanzia membanting tasnya ke atas meja, membuat ketiga sahabatnya menghentikan acara gosip pagi mereka.

"Kenapa lo? Ketemu Rendra lagi?" tanya Sheeva lalu membenarkan posisi rambutnya.

"Ini ya, ngeselinnya lebih dari si Rendra." sahut Kanzia.

Arisha jadi tertarik lalu merubah posisi bangku agar dapat mengahap Kanzia.

"Jangan bilang kalo yang lo maksud itu Kak Rael?" Arisha menatap Kanzia serius.

"Iya lo bener." sahut Kanzia berhasil membuat Arisha mengepalkan tangan gemas.

"Emang dia ngapain lo sampe-sampe lo dateng terus ngebanting tas?" tanya Freya seraya bersandar pada tembok.

"Tadi dia ngehadang gue yang mau ke kelas cuma karena dia mau tau nama gue." sahut Kanzia yang sudah terlanjur bad mood pagi ini.

"Aaaa kok so sweet gitu sih! Sampe ngehadang cuma karena mau tau nama!" sahut Arisha sambil memegang kedua pipinya.

Kanzia memutar kedua bola matanya.

RAENZIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang