Kanzia tak henti-hentinya tersenyum, dalam hati dia bersyukur karena bisa memilik Rendra.
"Senyum-senyum mulu lo, awas disangka orang gila!" seru Sheeva sambil membuka lensa kameranya.
Hari ini hari sabtu, mereka libur sekolah, jadi disinilah mereka. Menikmati udara sore hari ditemani cokelat hangat dan juga cake oreo.
"Tau deh tau yang abis dinner romantis kemaren malem." ledek Arisha seraya memotong cake oreo'nya.
"Tau, nggak ngajak-ngajak lagi lo." sahut Freya.
"Ya kalo ngajak lo nggak jadi romantis urusannya." sahut Arisha, Freya hanya membalasnya dengan mencolek cake oreo milik Arisha.
"Gue toilet." ucap Kanzia, lalu melangkah menuju toilet disebelah kiri.
Kanzia berdiri didepan wastafel lalu tersenyum seraya membenarkan rambutnya. Saat dia sedang mengeluarkan kunciran seorang cewek berjalan dibelakangnya, Kanzia menoleh ke lantai, cewek itu menjatuhkan dompetnya.
Langsung saja Kanzia meraih dompet tadi "Mba, dompetnya jatuh." seru Kanzia sambil melangkah mendekati cewek tadi yang kini sudah menghentikan langkahnya.
Cewek itu menoleh.
"Oh iya dompet saya. Makasih ya." ucap cewek itu lalu meraih dompetnya dari Kanzia.
"Sama-sama." sahut Kanzia seraya tersenyum.
Cewek tadi mengulurkan tangannya "Kenalin, gue Daniza." ucap Daniza dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya.
"Oh, hai. Gue Kanzia." sahut Kanzia, menjabat tangan Daniza.
"Kalo gitu gue duluan. Thanks sekali lagi." ucap Daniza lalu meninggalkan Kanzia, dia membalik tubuhnya lalu tersenyum pahit sambil melangkah keluar dari gedung cafe someteen.
"Kamu numpang ke toilet aja lama banget sih." ucap Rendra yang menunggu Daniza didepan gedung.
"Maaf hehe, touch up dulu tadi. Kan kalo aku kurang cantik bisa-bisa kamu selingkuh dari aku." ucap Daniza lalu tersenyum tipis.
Rendra terdiam sejenak.
"Yaudah ayuk naik. Aku ada urusan abis ini." ucap Rendra.
Daniza tersenyum miring. Sepertinya sindiran halus dia terasa dihati Rendra.
"Ayuk." Daniza naik ke atas jok belakang Rendra.
Setelah Rendra menjalankan motornya, Daniza menoleh ke belakang, dihatinya berharap Kanzia melihat ini agar dia tidak perlu repot-repot menyusun rencana. Tapi sayang, lajur motor Rendra cukup kencang. Ahirnya dia memutuskan untuk kembali melihat ke depan, sambil melingkarkan tangannya. Memeluk Rendra dari belakang.
"Emang abis ini kamu ada urusan apa?" tanya Daniza.
Rendra melirik Daniza dari kaca spion, lalu dia menelan ludahnya "Jemput Irdina." sahutnya.
Jemput Irdina atau jemput Kanzia? batin Daniza.
"Ohh jemput Irdina." sahut Daniza, dia tersenyum. Apapun dan bagaimanapun caranya dia harus menahan Rendra agar tidak menjemput Kanzia.
Daniza : Lo jemput Kanzia di cafe someteen. Rendra lagi sama gue.
▲▲▲▲
"Dra ah temenin. Masa kamu tega ninggalin aku sendirian dirumah. Mama aku baru aja pergi loh tadi. Pasti baliknya lama. Masa aku sama bibi terus." rengek Daniza. Memeluk Rendra, tidak ingin melepasnya.
Rendra memijat pelipisnya, apa yang harus dia lakukan sekarang. Kanzia sudah mengirim pesan, meminta untuk dijemput. Tapi Daniza terlalu susah untuk diatur. Daniza tidak seperti Kanzia.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAENZIA
Teen Fiction"Andai kita bisa atur hati untuk sayang sama siapa, mungkin gue nggak akan nyakitin lo kaya gini. Iya kan?" "Kalaupun kita bisa atur hati untuk sayang sama siapa, gue akan tetap atur hati gue untuk sayang sama lo. Ya walaupun lo nggak sayang sama g...
