Misteri Rumah Kradness

3.7K 365 87
                                        

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, gue, Pak Tenchou, dan anak-anak sekelas hari ini sampai mungkin dua hari kedepan menginap di rumah Kradness yang bagaikan istana.

Anak-anak begitu riang. Mungkin baru kali ini mereka bermain di rumah sebesar itu. Ada yang berenang, ada yang bermain di ruangan penuh mainan, ada yang bermain di rumah pohon, melihat hewan-hewan peliharaan Kradness, menonton televisi, atau bahkan sekedar bermain-main di lorong rumah itu.

Gue sendiri dengan Pak Tenchou menenangkan diri di perpustakaan pribadi di rumah ini. Gilee... buku-bukunya seabrek. Lengkap banget pula! Ada banyak rak besar di tempat ini dengan tinggi yang ngga main-main. Di tengah ruangan ada tempat khusus untuk membaca.

"Kradness, emang orangtua kamu kerja apaan?" gue bertanya penasaran.

"Hm? Oh... Ayah pemilik perusahaan X, kalo Ibu punya perusahaan Y sama butik Z. Mereka ke luar negeri mau ada kerjasama perusahaan katanya," terang Kradness dengan santainya. Padahal baru saja dia menyebutkan nama perusahaan paling terkenal seantero negeri ini. Ternyata tajir beneran nih anak.

Pukul 1 siang, kami makan bersama di ruang makan yang menurut gue lebih mirip restoran kelas atas. Berasa jadi seleb, gue. Setelah puas, kami melakukan kegiatan bersama-sama sampai waktu makan malam datang. Selesai makan, kami masuk ke 'kamar' yang sudah disiapkan untuk kami.

Anak-anak menggelar futton masing-masing. Gue sama Pak Tenchou juga ikutan.

"Kradness, kamu ikut tidur di sini?" tanya Kogeinu yang melihat Kradness ikut menggelar futton di samping Luz.

Kradness nyengir dengan lebarnya, "Iya dong! Masa' yang lain di sini, aku di kamar? Kan, ngga adil. Lagian kalo bareng-bareng gini kan lebih seru, lebih asik!"

Kemudian kami berkumpul di tengah ruangan, membentuk lingkaran. Beneran, menurut gue mereka semua unyu-unyu banget pake piyama. Ada beberapa yang bawa boneka, misalnya Mafumafu yang bawa mafuterunya, Urata dengan tanukinya, Kradness dan boneka singanya, Sou dengan boneka minionnya, atau Amatsuki yang juga bawa boneka dombanya.

Bahkan, Soraru malah bawa bantal putih berwajah 'mirip dirinya' yang biasa dia bawa ketika tidur.

"Pak shoose, Bapak mendongeng buat kita, dong, sebelum tidur...," pinta Eve dengan antusiasnya. Yang lain menimpali dengan begitu semangat.

Gue setuju walaupun aslinya agak bimbang juga. Gue ngga punya cerita bagus soalnya. Gue juga takutnya ditinggal tidur karena kebosanan.

Tapi nyatanya enggak! Mereka semua mendengarkan gue dengan sangat antusias. Malahan Soraru yang biasanya tidur itu kini benar-benar serius mendengarkan dan memperhatikan gue.

Sesekali mereka tertawa, lalu dengan tidak sabarnya meminta gue melanjutkan cerita. Ada juga dari mereka yang mengomentari cerita gue, dan kami semua gembira. Ya, gembira. Benar-benar menyenangkan rasanya ketika kau menghabiskan waktumu bersama anak-anak didikmu.

Tak hanya dongeng gue aja yang mereka dengarkan, tetapi juga buku-buku milik Kradness yang banyaknya seabrek njibrek. Kami menghabiskan waktu cukup lama sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Waktunya anak-anak naik ke tempat tidur.

"Eh, Kradness! Kamu enak, ya, semuanya ada. Mau mainan ada banyak, buku-bukumu bagus-bagus, makanan enak, pokoknya kayak di dongeng-dongeng, deh!" celetuk Senra sambil menarik selimutnya.

Apa kalian bisa membayangkan sikap Kradness selanjutnya? Ya, gue juga bisa. Apa yang terjadi pada anak-anak yang orangtuanya terlalu sibuk mengejar karir? Yah, kayak yang terjadi di novel-novel, lah...

Kradness tersenyum manis. Lalu dengan cerianya ia berujar, "Iya, aku bersyukur!"

Lho?

Lho?

Little Utaite and Their School [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang