"Asal kalian tahu, Ayahku itu orang kaya, tauk!!"
Kradness berdiri pede menghadap mereka. Orang-orang itu saling pandang. Awalnya mereka bingung, tetapi seketika salah satu dari mereka berseru,
"Oh! Aku pernah melihat anak ini! Dia kalau tidak salah anak dari konglomerat terkaya itu loh... yang punya perusahaan X!"
Mendengar itu, teman-temannya yang lain tersentak. Salah satu dari mereka kini menghampiri Kradness. "Wah... kamu berarti anak orang kaya yakk..."
Kradness nyengir, "iya donk!'
Orang tadi menyodorkan sebuah permen. "om punya permen, nih. Kamu mau apa engga?" Kradness mengamati permen itu. Sebuah lolipop warna warni di hadapannya. Mata Kradness langsung berbinar.
"Mau donk!" seru Kradness antusias.
Kogeinu yang menyelinap di antara semak-semak tersentak kaget. "Aduh! Kok si Krad mau, sih?? Padahal kan lolipopnya mencurigakan banget gitu!!" bisiknya greget.
Kogeinu hendak maju ke Kradness, tetapi Kain menahannya. Anak itu menggeleng, "Jangan! Kita harus fokus sama tujuan kita."
"Tapi Krad dalem bahaya!" sanggah Kogeinu tak sependapat. Kain tetap kekeuh, menahan Kogeinu agar tepat di tempatnya.
"Kita lanjutkan saja apa yang jadi tugas kita. Kain yakin Kradness ngga mungkin sebodoh itu. Dia pasti menyiapkan sesuatu. Kita harus percayakan hal ini sama Kradness!"
-
-
-
Gue dan anak-anak kewalahan. Sejak turun dari lantai 2, tau-tau segerombolan penyusup yang ada di lantai satu melihat kami. Alhasil kini kami semua tengah lari dari kejaran para penyusup itu.
Beberapa kali tembakan dilepaskan. Tetapi entah kelewat lincah atau apa, ngga ada satupun anak murid gue yang kena gores ntu peluru. Selain karena badan mereka kecil dan gerakan mereka lincah, situasi koridor yang banyak barang membuat para penyusup sulit menembak dengan akurat.
Beberapa kali kami hampir kesasar. Tapi untungnya ada Ama yang mengarahkan langkah kami. Sesekali anak-anak juga menyerang penyusup di belakang. Seperti Nqrse atau Kashi. USSS juga ntah dapet senjata darimana mereka bawa tongkat golf, tali tambang, sama karet gelang. Semua buat ngehalau peluru yang datang ke arah kami.
Hingga tiba di suatu titik, tiba-tiba dari belokan di belakang penyusup si Luz nongol dalam keadaan epic.
Anak itu menembaki para penyusup dari belakang dalam waktu sepersekian detik. Membuat sebagian penyusup ambruk dan fokus para penyusup terbagi. Luz lari lagi ke tempat dimana tadi ia muncul. Sebagian penyusup mengikutinya.
Gue merasa terbantu. Pasti Ama sengaja mengarahkan kami ke sini karena sudah meminta Luz bersiaga di dekat situ. Tetapi tetap saja masih lumayan banyak penyusup yang mengejar kami.
Kami semua kini masuk ke dalam dapur. Ada dua pintu di dapur ini; pintu masuk dan pintu keluar. Gue dibantu walikota dan anak-anak menumpuk barang apapun untuk menahan pintu. Setidaknya untuk sementara. Kenapa? Karena pintu keluar dapur ini TERKUNCI!
Araki ahli dalam hal seperti ini. Ia mengambil sebilah kawat bekas sorok di dapur, kemudian berusaha menyamakan dengan lubang kunci itu. Gue juga membantu mengarahkan agar anak itu tidak salah pola.
"Ayo, cepat, Pak!" seru Mafu yang mulai khawatir melihat pintu masuk hampir terdobrak.
Sementara Sou menyikut bahu Eve. Anak itu menoleh dan mendapati 'saudaranya' menunjuk sesuatu di meja dapur. Setelah menunjuk benda itu, Sou menunjuk sesuatu yang berukuran lumayan besar yang menyatu dengan meja dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Utaite and Their School [END]
Fiksi Penggemarpara utaite berubah jadi anak SD unyu-unyu sekaligus kurangajar. seorang guru baru bernama Pak Shoose ditugaskan untuk mengajar anak kelas 2-C yang memiliki keanekaragaman hayati berupa anak-anak yang imut-imut sekaligus amit-amit. akankah guru baru...
![Little Utaite and Their School [END]](https://img.wattpad.com/cover/132520418-64-k820770.jpg)