Father (Part 2)

2.7K 322 96
                                        

Dingin.

Perlahan, Kradness membuka matanya. Dirasanya nyeri pada bagian belakang kepala. Bocah itu merintih, lantas bangun.

Diperhatikannya sekeliling. Tak ada apapun. Yang ia temukan hanyalah es dimana-mana. Kradness benar-benar bingung, terakhir seingatnya dia berbicara dengan Luz, lalu...

Sontak ia terbelalak, Luz? Dimana Luz? Dan dimana dia saat ini??

Bola matanya bergerak liar mencari-cari si poni panjang, dan ekor matanya berhasil menangkap sosok kecil yang meringkuk kedinginan di pojok ruangan itu.

"Luz!" panggil Kradness sambil menghampiri sosok itu dengan tertatih.

Dengan tubuh gemetaran, yang empunya nama menoleh. "A-ah... Klad..." ia menyahut lemah.

"Apa yang terjadi? Dimana kita? Kau baik-baik saja?" tanya Kradness bertubi-tubi. Ia panik, tentu saja. Terlebih kondisi Luz yang hanya mengenakan celana pendek sekolah dan sehelai kaus putih yang kelihatannya berbahan tipis.

"Ce-cepeltinya meleka... bel-belniat... membunuh... Luj... hah...hah... klad... haluc... la...li... hah...hah..."

"Ngomong apa sih kamu??!! Mana bisa Krad lari begitu aja ninggalin Luz di sini?" marah Kradness sambil mencengkeram bahu Luz.

Luz membalas dengan senyuman getir, "Luj tahu... hah...hah... olang yang mengulung kita di cini... hah... hah... a-adalah olang yang cama... yang Luj lihat cebelum Ibu ketembak..."

"Eh?"

-

-

-

Gue dan Ayah Luz mengendap endap, melewati dua penjaga yang berdiri di depan pintu. Benar kata Ama, sistem penjagaannya ngga begitu ketat. Buktinya kami sudah melewati tiga barikade penjaga dari tadi dan belum ketahuan. Entah mereka yang bodoh apa kami yang terlalu pintar menyusup.

Yap, kami hanya berdua. Akan sangat beresiko jika kami langsung menyerang tempat ini terang-terangan. Yang ada bisa jadi nyawa Luz malah akan semakin terancam.

Ayahnya Luz celingukan kesana kemari, mencoba menemukan putra kecilnya. Yah... meskipun dia tahu apa yang dia lakukan itu percuma saja. Jalan kami masih panjang, gue tahu itu.

"Mat, habis ini kita kemana?" gue berbisik lewat earphone yang terhubung dengan Amatsuki. Entah berada dimana anak itu saat ini. Mungkin memang di rumahnya?

Terdengar jawaban dari telepon, "Tenang aja, Pak, Ama udah menghubungi Kradness yang ada di ruang pendinginan. Pintunya sudah Ama unlock biar mereka bisa keluar dari sana. Lurus aja ke depan terus... Eh?"

"Ada apa, Mat?" gue sweatdrop, Amatsuki seperti terkejut. tak lama terdengar Amatsuki menelan ludah, lalu mulai kembali bicara, "CCTV menangkap ada orang yang sedang ke tempat mereka. O-orang itu... bawa golok..."

Spontan Ayahnya Luz terbelalak marah. Airmukanya langsung berubah drastis. Dan dengan gerakan cepat, beliau lari mendahului gue.

"Eh, Pak, tunggu!" seru gue ngga kalah panik. Gue lantas menyusul orang itu.

Pria itu berjalan dengan tenang, sesekali ia mengeluarkan golok besar yang tersimpan dalam sarungya. Ia menyeringai, mengasah golok itu dengan alat yang ia bawa.

DOR!

Langkahnya terhenti, ia menoleh ke belakang. Ayahnya Luz berdiri di sana dengan wajah murka. "Belum puaskah kau menghancurkan keluargaku??" geramnya.

Pria itu kembali menyeringai. Kemudian ia tertawa macam orang sarap. Gue yang baru datang dan menempatkan diri di belakang Ayah Luz juga jadi heran ngeliatnya.

Little Utaite and Their School [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang