Ketika Semua telah Berlalu

2.1K 270 149
                                        

"Ini semua ngga bisa dibiarkan. Mereka sedang dipermainkan!" ujar Amatsuki.

"Kamu tahu darimana?" Mafu bertanya setelah menenggak kopi kalengnya.

Mata Amatsuki menyipit. "Rib yang memberitahuku."

"Ah, anak itu masih kerja di bar? Nekat ya dia?" kali ini Kashitaro angkat bicara.

"Tapi, karena itulah dia jadi informan yang bagus buat kita," Soraru menukas.

Mafu berdiri, ia lalu melempar kaleng kopinya ke tempat sampah di depan sana. Malam itu udara dingin. Di tempat itu, hanya lampu taman tak jauh dari mereka yang menjadi sumber penerangan.

"Jadi, kapan tenggat waktu kita?" si albino bertanya. Sambil menoleh ke belakang, menatap tiga temannya yang lain yang masih duduk. Tak satupun dari mereka bergeming, sampai akhirnya Amatsuki berdiri.

"Tenggatnya... besok malam..."

***

Rembulan malam itu sama cerahnya dengan malam kemarin. Bar itu seperti biasa sepi ditemani musik bergaya retro. Seorang pemuda sibuk mengelap gelas bir ketika datang lagi seorang pemuda lainnya yang berambut semerah apel.

"Hei, kau pikir berapa umurmu? Ngapain kau masuk kemari?" tegur pemuda yang masih asyik dengan gelasnya.

"Kau sendiri belum genap 18, Rib. Kalau sekolah tahu kau selama ini kerja di sini, kau bisa langsung dikeluarkan," balas pemuda itu santai.

Pemuda bernama Rib itu terkekeh. "Kau benar, Araki."

Araki balas tersenyum, lalu duduk di salah satu kursi kayu di sana. "Kalian akan bergerak malam ini?" tanya Rib tiba-tiba. "Ah, begitulah," balas Araki. "Kurasa Soraru benar. Semua kegilaan ini karena aksi kita 10 tahun yang lalu. Saat kami nekat melakukan sabotase rencana pada walikota itu."

"Insting Soraru memang tajam, ya... padahal aku belum kasih tahu dapat info ini dari siapa." gumam Rib.

"Yang pasti salah satu pelangganmu, kan?" Araki menyambar cepat. Rib mengangguk, "Sudah menjadi rahasia umum seorang bartender mau tak mau mendengar percakapan kliennya, kan?"

"Kami masih belum tahu apa bisa meyakinkan mereka berdua, tapi..."

Rib menatap prihatin. "Mereka... sudah berubah, ya?"

"Sejak tahun pertama SMA mereka sudah menjaga jarak. Aku benar-benar khawatir mereka akan sama seperti ayah mereka."

"Sampai insiden itu terjadi."

"Itu sabotase dan mereka tidak tahu. Malam ini mereka bakal saling bunuh di gedung itu."

"Dan tugas kalian untuk menghentikan mereka."

"Kau benar." Kemudian Araki berdiri. "Kurasa Nqrse sudah menungguku. Kami semua harus berkumpul sebelum jam 10."

Pemuda itu melangkah ke pintu. Sebelum pintu tertutup, Rib melontarkan sebuah pertanyaan, "Oh, ya, Araki. Sampai kapan kamu mau memedam perasaan itu terus?"

Wajah Araki langsung memerah sampai telinga. Dengan cepat ia membanting pintu sambil berseru, "Diam, kau!"

Rib terkekeh usil. Tak lama, ia menghela napas. Sepasang netranya menatap rembulan yang bersinar lewat jendela bar. "Kuharap mereka semua baik-baik saja..." gumamnya sendiri.

Sementara itu, Araki terus berjalan. Pikirannya melayang. Ia mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan intuisinya. Berbagai kemungkinan pun muncul. Ia bahkan menemukan terlalu banyak kemungkinan yang ada. Lama kelamaan, Araki semakin pusing.

Little Utaite and Their School [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang