Summer Vacation

3.5K 352 112
                                        

"Berapa nih semuanya?" gue bertanya sambil merogoh kocek.

"Totalnya 45 ribuan deh, kan belinya sekilo," sahut orang di hadapan gue.

Yak, sudah menjadi langganan gue buat beli cumi setiap minggu di kiosnya Ikasan. Bisa dibilang gue ini pelanggan tetapnya lah... ditambah lagi, kios Ikasan ini letaknya di pinggiran laut. Hasil tangkapan jadi tidak terlalu mahal.

"Eh, waduh," gue menggumam kaget, "Dompet gue ketinggalan?!"

Terus gue berbalik, menatap Ikasan penuh harap. Mengeluarkan jurus andalan gue; muka memelas.

Ikasan tersenyum kecut. Kemudian orang itu menghela napas panjang, "Mau ngutang dulu?" tawarnya.

Gue sweatdrop, ngutang?? Oh, no no no no! Itu bukan budaya gue. mana mungkin gue merusak citra diri yang terkenal 'tak pernah punya hutang' ini? Terus gimana, neh? Apa gue kudu balikin cuminya? Tapi gue kagak enak sama Ikasan. Jiah, piye tho iki?

"Biar saya saja yang bayar," tiba-tiba seseorang ikut andil dalam pembicaraan kami. Gue dan Ikasan sama-sama menoleh, pandangan kami kini tertuju pada sesosok pria yang tersenyum pada kami sembari menyodorkan beberapa lembar uang.

Pria itu berrambut coklat, tersisir dengan begitu rapi. Kedua matanya sebiru laut, nampak teduh menatap kami. Postur tubuhnya ideal, terlebih gaya berpakaiannya yang santai namun terkesan apik itu sukses menyihir mata kami barang beberapa saat.

Tunggu, sepertinya paras orang ini begitu familiar. Tapi kok gue ngga kenal, ya?

Ikasan yang masih terbengong menerima uang pemberian si pria dan mengucap terimakasih. Pria itu mengangguk, kemudian beralih menatap gue masih dengan senyum ramahnya.

"Anda Pak Shoose, kan?" tanya pria itu yang gue balas dengan anggukan. "Anu... iya. Maaf, Anda siapa, ya?" tanya gue bingung dengan sopan santun masih terjaga.

"Ah, saya belum memperkenalkan diri, ya. Maaf, Pak, saya-"

"Papa! Kok lama banget, sih??" terdengar suara kecil yang berseru dengan nada kesal. Gue dan pria itu menoleh, terlihat seorang anak kecil bermata biru berrambut coklat bersama dengan anak lain yang mirip dengannya dan...

Ada seorang pria di belakang mereka yang bener-bener mirip banget dengan pria di sebelah gue?!

"Lho? Sou, Eve, kalian ngapain di sini?" tanya gue, masih shock dengan apa yang gue lihat.

"Ah," pria yang tadi bayarin cumi gue menukas, "Maaf, Pak, saya Papanya Sou. Itu kembaran saya, Ayahnya Eve."

Demi cumi-cumi tinta pelangi??!!! Demi apa mereka berempat kayak hasil kloningan??

Gue tambah shock, ngga percaya dengan mata gue sendiri. Gue emang sering denger kalo bapaknya Sou sama Eve itu kembar, tapi sama sekali belom pernah ketemu orangnya. Paling ketemu emak mereka berdua kemaren waktu terima rapot semesteran. Tapi gak gue sangka bapaknya beneran mirip.

Itu kalo istrinya salah orang bisa berabe nih urusannya.

"Eng... maaf, nih, Pak, saya agak susah bedainnya," komentar gue masih menjaga kesopanan.

Keduanya tertawa renyah. "Iya, sih, banyak yang bilang begitu. Tapi kalo diperhatikan lagi beda, kok, Pak. Rambut Ayahnya Eve lebih muda dari saya dan dia punya tahilalat di bawah bibir sebelah kanan. Jadi kami beda, Pak," terang Papanya Sou di sela tawanya sembari menepuk pundak gue.

Gue mengangguk sambil ber-oh ria. Kemudian melanjutkan obrolan, "Jadi, kalian ke sini lagi apa? Liburan, kah?"

"Iya, Pak, kemarin anak-anak pada ribut minta jalan-jalan ke pantai. Kebetulan kami berdua juga sedang libur, jadi sekalian saja kami main hari ini," kali ini Ayahnya Eve yang menjawab.

Little Utaite and Their School [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang