Royal Scandal

2.7K 262 258
                                        

Pagi itu terasa damai. Cuaca cerah, namun udara terasa sangat sejuk. Burung-burung berkicauan, dan embun menetes dari ujung dedaunan serta rerumputan.

Gue terdiam sambil mengusap dagu. Berkas di hadapan gue sama sekali ngga bisa gue mengerti. Pikiran gue terus menerawang, memikirkan jalan keluar dari masalah ini.

Saat ini gue emang lagi di dalem kelas. Tetapi pikiran gue lagi mencari cara gimana biar gue bisa ngelakuin sebuah hal besar dalam tiga bulan ini.

"Masih ngelamun aja, Pak?" sapa Pak Tenchou yang tiba-tiba datang sambil membawa dua cangkir teh jatah guru serta mengapit beberapa lembar kertas di lengannya.

Rekan gue itu menyodorkan secangkir teh. Gue menerimanya lantas berterimakasih. Setelah itu pandangan gue berfokus pada kertas-kertas yang dibawanya.

"Itu apa, Pak?" tanya gue yang penasaran. Pak Tenchou tersenyum, kemudian menggeret sebuah kursi terdekat dan duduk di samping gue. "Nih, saya menemukan beberapa info penting," ujar beliau.

Gue mulai antusias, "Oh, info apaan?"

Kembali guru itu tersenyum, lantas meletakkan kertas-kertas yang tadi dibawanya ke atas meja. Gue mengambilnya, memandang mereka sekilas.

"Tadi Aisu datang kemari memberikan itu. Niatnya sih pengen ketemu Bapak langsung, tapi dia sepertinya sedang ada investigasi yang harus diurus dan sudah ditunggu di TKP. Jadi katanya harus bergegas," jelas Pak Tenchou.

Gue mengangguk takzim. Pak Tenchou kemudian melanjutkan, "Kabarnya kepolisian semakin sulit mengungkap kejahatan yang terjadi belakangan ini. Mereka seperti hilang tanpa jejak. Aisu menduga kalau mereka punya seorang bos yang sangat berpengaruh dan cerdik."

"Seperti sudah terorganisir, mereka bekerja dengan rapi. Para perampok, pengedar obat-obatan terlarang, pembunuh, hingga penipu ulung hilang tak berbekas setelah melakukan aksinya. Mereka juga beraksi dalam waktu berdekatan di lokasi yang acak. Hal ini menyulitkan kepolisian."

Sekali lagi gue mengusap dagu mendengarnya. "Sepertinya mereka memang ada yang mengontrol dan memanipulasi segalanya. Keterangan saksi sangat minim dan tidak ada informan yang punya petunjuk. Kayaknya Aisu bener-bener lagi pusing ini," tanggap gue.

Kami berdua larut dalam kebisuan. Sibuk dengan pemikiran kami masing-masing. Gue merasa janggal. Rasanya semua ini ada kaitannya dengan penyusupan pesta malam itu, itulah yang gue pikirkan.

Sekian waktu terdiam, tahu-tahu Pak Tenchou buka suara. "Anu... Pak, saya jadi kepikiran..." gue tersentak. Tiba-tiba rasa tertarik kembali muncul di hati gue.

Pak Tenchou mendekatkan diri. Gue ikut merapat, mendengarkan apa yang ingin disampaikan orang itu. "Bapak tahu, kan, saya pernah cerita kalo dulu saya mantan tentara?"

Gue menenggak ludah, kemudian mengangguk. "Saya tidak hanya di dalam negeri saja. Karena pangkat saya sudah lumayan, saya pun pernah dikirim ke pasukan internasional..."

"...Waktu itu saya sedang ada di salah satu negara konflik. Di sana pasukan saya pernah berhadapan dengan si pembantai misterius yang sangat terkenal dan legendaris..."

"...Kami menghadapi Red Riding Hood..."

Sekali lagi gue menenggak ludah. "M-maksud Bapak, o-orang yang sudah membantai banyak penyusup dan teroris yang ada di negara-negara konflik?"

Pak Tenchou mengangguk, "Iya, yang itu. Dia dinamakan Red Riding Hood karena selalu terlihat memakai tudung dan jubah merah. Orang itu benar-benar gila. Padahal dia hanya sendirian, tetapi banyak pasukan kami yang tewas di tangan orang itu. Syukurlah kami tidak gampang menyerah. Tiba-tiba orang itu pergi begitu saja. Waktu itu saya bersyukur saya masih hidup..."

Little Utaite and Their School [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang